Berkah -ngintil- Habaib dan Orang Sholeh

Pada hari itu udara terasa tenang sekali, berbeda dengan hari sebelum-sebelumnya. Tak ada yang ingin ku lakukan saat itu kecuali sholat dan makan. Setelah makan aku pun merasa berada dalam perasaan sendiri. Dari perasaan inilah akhirnya aku mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatku menghilangkan perasaan sendiri ini yaitu bermain. Iya saya bermain ke kos teman, Ferdi namanya. Di sana ternyata membuat hati dan perasaanku yang semula biasa-biasa saja menjadi penuh suka cita.

Dengan enaknya bercerita, bercanda, tanpa terpikirkan sesuatu apapun, aku baru ingat kalau nanti malam sekitar jam 19.30 akan ada majelis sholawat di Amongrogo bersama al Habib Syech Assegaf yang diadakan setahun sekali oleh Rabithah ‘Alawy Yogyakarta. Aku terdiam sejenak karena bingung antara berangkat atau tidak. Mau berangkat tapi tidak ada teman. “Ah sudahlah mungkin memang tidak bisa datang untuk kali ini, “gumamku dalam hati.

tiba-tiba Ferdi tanya kepadaku,  “Lin, ntar malem ada habib Syech lho, di Amongrogo kamu ndak berangkat tah?” “oh ya Fer, aku juga baru ingat dan pengen ikut kesana tapi ndak ada teman e”, balasku.

Kemudian aku berpikir mau mengajak siapa untuk bisa hadir di dalam majelis sholawat yang penuh manfaat itu. Akhirnya ku ingat kalau biasanya yang mengajakku untuk ikut sholawatan itu  adalah al Habib Salim Jamalullail yang tak lain adalah teman kuliahku. Tidak butuh waktu lama langsung ku hubungi beliau via whatsaap ,

U : “bib ntar malem berangkat ke habib Syech di Amongrogo ndak?”

S : “Mangkat Lin, iki aku lagi karo Said”

U : “Said siapa bib? Habib Said Al Idrus ?”

S : “Iya Lin, iki Said juga arep melu, kowe arep melu hadir kah? Nek iya bareng wae Lin tak tunggu nek jakal km 7 ya di sekre al Amin”,

U : “Iya bib siap, hehe. Saya siap-siap dulu ya bib”,

Selama dalam perjalanan hatiku merasa tambah diselimuti kebahagiaan, tidak tau kenapa. Sampai di sekre al Amin disambut oleh habib Riza Al Kaff (mahasiswa teknik mesin UII) dan habib Said Al Idrus (teman kuliah, mahasiswa jurusan tekim). Berbincang-bincang sejenak membahas kuliah dan sebagainya, kemuadian waktunya berangkat ke majelis sholawat. Awalnya akan berangkat naik motor berlima yaitu saya, habib Riza, habib Salim, habib Said, dan pak Ustadz. Akan tetapi tiba-tiba habib Riza mendapatkan BBM dari seseorang yaitu habib Segaf, beliau mengajak berangkat sama-sama naik mobil.

Sudahlah akhirnya naik mobil, lalu diparkir di halaman depan ndalem [[1]] ketua Rabithah ‘Alawy Yogyakarta yaitu Al Habib Hasan Al Jufry. Setelah parkir mobil, lalu kita langsung bergegas ke majelis sholawatnya yang berjarak kurang lebih 300 meter dari kediaman Habib Hasan. Tiba disana pagar pembatas lapangan parkir ternyata sudah ditutup dengan dijaga Banser dan otomatis tidak bisa masuk kembali. Pikirku sempat kecewa tidak bisa masuk. Akan tetapi salah satu dari kita yaitu habib Riza ternyata membawa identitas kartu VIP untuk tamu, berarti otomatis beliau bisa masuk, selain beliau juga termasuk ahlu bait pikirku langsung bisa masuk dan saya yang bukan ahlu bait tidak bisa masuk. Sempat sedih karena yang bisa masuk hanya orang-orang tertentu. Tapi tidak kuduga tiba-tiba saya di geret [[2]]  habib Salim untuk bisa masuk. Saat itu aku merasa mendapatkan pertolongan karena perasaan yang tadi sedih langsung berubah menjadi gembira.

Ku ikuti terus mereka yang termasuk ahlu bait, sampai saya bisa ikut duduk di tempat VIP sebelah panggung utama yang dipenuhi oleh para habaib. Perasaan gembira ini semakin bertambah terus karena bisa berkumpul bersama orang-orang sholih keturunan Rasulullah dari sayyidina Husein.

Perasaan gembira ini tidak hanya cukup sampai duduk di VIP, akan tetapi setelah acara selesai, aku berencana langsung pulang ke kos masing-masing, ternyata bib Salim dkk, mengajak untuk mampir ke kediaman habib Hasan Al Jufry yang sekaligus sebagai tempat transitnya habib Syech Assegaf sebelum kundur [[3]]  ke Solo. Tiba disana bertemu dengan habaib lainnya yang belum saya kenal sebelumnya.

Selang sebentar tibalah mobil yang dinaiki Habib Syech Assegaf. Dengan pengawalan super ketat oleh Banser. Habib Syech masuk ke kediaman Habib Hasan diikuti oleh habaib lainnya. Dalam hatiku rasanya ingin bisa ikut masuk minimal bisa bersalaman dengan habib Syech yang selama ini saya kagumi selama ikut bersholawat bersama beliau.

Detik demi detik, tiba-tiba habib Salim, habib Riza, habib Said, dan Habib Segaf ikut masuk. “ Wah aku bakal sendirian di luar ini”, pikirku dalam hati.

Tiba-tiba habib Salim melihat ke arahku dan mengajakku untuk ikut masuk,

“Lin ayo masuk, gak papa kok”, ajak habib Salim

“Mboten bib, mboten maqome kulo e”, jawabku penuh tawadlu’

“Wes rapopo lin, melu aku wae”,ajak habib Salim kembali.

Mendengar itu aku langsung bergegas mengikuti bib Salim masuk ke dalam rumahnya Habib Hasan yang juga di dalamnya ada Habib Syech. Perasaan ini semakin bertambah senang tak terukur.

Aku berpikir ini hanyalah mimpi. Tak pernah ku duga bisa masuk dan ikut makan bersama Habib Syech Assegaf dan para Habaib lainnya. Senang rasanya bisa memandang wajah habib Syech dan para habaib lainnya. Wajah-wajah penuh barakah, wajah-wajah penuh kebahagiaan.

Setelah makan bersama, habib Syech berpamitan pulang. Dengan dikawal Banser untuk keluar dari rumah, ku sempatkan berdempet-dempetan dengan jamaah lainnya untuk bisa bersalaman dan berfoto bersama habib Syech. Dari sini tambahlah rasa senang ini semakin tak terbendung. Rasa ingin untuk bisa bersalaman dan berfoto alhamdulillah bisa tercapai. Rasa cintaku kepada orang sholeh dan habaib benar-benar tergambarkan pada peristiwa ini. Ya Allah semoga ini menjadi bukti, bahwa siapa yang mengikuti jalannya orang sholeh maka dia akan bahagia. Semoga peristiwa ini menjadi hadiah sebagai motivasiku untuk selalu mencintai para habaib dan orang sholeh. Amin (Ulinnuha)


[[1]]  Ndalem merupakan sebutan rumah untuk orang jawa

[[2]] Geret merupakan bahasa jawanya tarik

[[3]] Kundur merupakan Bahasa jawanya dari pulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *