Air mata Sayyidah Fathimah mengalir semakin deras. Sayyidah Fathimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Sayyidah Fathimah langsung memeluk Imam Ali dengan erat. Lalu Sayyidah Fathimah pun berkata dengan tersedu-sedu, “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.” Berkali-kali Sayyidah Fathimah mengulang kata-katanya.
Setelah emosinya bisa terkontrol, Sayyidah Fathimah pun berkata kepada Imam Ali, “Wahai Ali, awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu. Aku hanya ingin menggodamu. Sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah.”
Imam Ali menjadi bingung, Imam Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Sayyidah Fathimah kepadanya, ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada
seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah? Tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”
Sayyidah Fathimah lalu memeluk mesra lagi, lalu menjawab pertanyaan Imam Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu. Aku memendamnya bertahun-tahun.
Sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya. Tapi aku terlalu takut. Aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini. Aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila kubertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku. Ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku?
Pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya.”
Imam Ali pun masih agak bingung, tapi Sayyidah Fathimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Imam Ali, ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku.
Aku sedang memeluk mesra pemuda itu. Tapi dia hanya diam saja. Padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya. Aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar. Ia juga sangat mencintaiku.”
Imam Ali berkata kepada Sayyidah Fathimah, “Jadi maksudmu?”
Sayyidah Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku.” Berubahlah mimik wajah Imam Ali menjadi sangat bahagia dan membalas pelukan Sayyidah Fathimah dengan dekapan yang lebih mesra. Mereka masih agak malu-malu. Saling bertatapan lalu tersenyum dan tertawa cekikikan karena tak habis pikir dengan ulah masing-masing. Mereka bercerita tentang kenangan-kenangan masa lalu dan berbagai hal. Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan indah dalam dekapan Mahabbah-Nya yang suci.
Subhanallah…
Mungkin selaksa cinta indah ini salah satu dampak dari doa Rasulullah sewaktu menikahkan mereka. Juga sunnah bagi kita untuk membacanya. Barakallāhu lakumā wa baraka ‘alaikumā wa ja’ala bainakumā fī khair. Semoga Allah memberkahi kalian berdua dan kalian diberkahi Allah, dan mengumpulkan kalian dalam kebaikan.
Ya Allah cinta kami cinta suci sebagaimana titian cinta suci nan indah Imam Ali dan Sayyidah Fathimah.
Imam Ali dan Sayyidah Fathimah pun menjalani rumah tangga mereka dengan suka maupun duka. Buah cinta dari pernikahan Imam Ali dan Sayyidah Fatimah adalah putra tampan bernama Hasan dan Husain. Mereka berdua adalah anak yang sangat disayangi orangtuanya dan disayangi Rasul, kakek mereka. Juga disayangi keluarga Rasul yang lain tentunya. Mereka berdua nantinya juga menjadi tokoh dan pejuang Islam yang luar biasa.
Itulah kisah cinta Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulullah.
Subhanallah… Allah memang MahaAdil. Rencana dan skenario-Nya sangat indah. Ada beberapa hikmah dari kisah cinta mereka. Ketika Imam Ali merasa belum siap untuk melangkah lebih jauh dengan Sayyidah Fathimah, maka Imam
Ali mencintai Sayyidah Fathimah dengan diam. Karena diam adalah satu bukti cinta pada seseorang. Diam memuliakan kesucian diri dan hati sendiri dan orang yang dicintai. Sebab jika suatu cinta diungkapkan namun belum siap
untuk mengikatnya dengan ikatan yang suci, bisa saja dalam interaksinya akan tergoda lalu terjerumus kedalam maksiat.
Naudzubillah…
Biarlah cinta dalam diam menjadi hal indah yang bersemayam di sudut hati dan menjadi rahasia antara hati sendiri dan Allah Sang Maha Penguasa Hati. Yakinlah Allah Mahatahu para hamba yang menjaga hatinya. Allah juga telah
mempersiapkan imbalan bagi para penjaga hati. Imbalan itu tak lain adalah hati yang terjaga.
Apakah kisah dua sejoli ini berhenti sampai disini? Jawabannya tidak.
Masih banyak kisah yang lebih seru dan berhikmah dari sebelumnya. Mulai dari kisah prahara rumah tangga mereka karena niat Imam Ali memadu Sayyidah Fathimah, kesedihan akibat berita pembunuhan anak mereka oleh orang-orang
tak bertanggung jawab, hingga detik-detik tersedih dalam hidup Imam Ali akibat kematian istri beliau tercinta tanpa seorang pun yang tahu sehingga beliau sendiri yang mengebumikannya dipetala malam beserta orang-orang kepercayaannya. Oleh karena itu ikuti terus serial berikutnya bersama saya.
Semoga kisah ini bermanfaat bagi para insan yang merindukan cinta suci karena-Nya, yang sedang berikhtiar sekuat hatinya, dan yang saat ini menanti dengan sabar demi menyambut jalan cinta yang diridhai-Nya. Mohon maaf apabila ada esensi kisah yang kurang pas dengan aslinya. Mohon diluruskan jika ada redaksi kisah yang salah dari saya. Sesungguhnya kebenaran berasal dari Allah dan segala khilaf maupun salah berasal dari manusia seperti saya.
Wallahu’alam bishshawwab.
Ttd.
Khadimul-‘ilmi, Adhli Al Karni.