KISAH CINTA DUA INSAN SUCI #2

Imam Ali ikut tinggal bersama Rasul dan keluarganya, otomatis Ali tinggal bersama Fathimah. Mereka berdua tinggal dan melewati hari-hari bersama sejak kecil. Hingga menjelang remaja, tumbuhlah rasa cinta Ali kepada Fatimah.

Hatinya dipenuhi keinginan untuk selalu berada di samping Fatimah. Tapi Ali tidak bodoh. Ia adalah pemuda yang beriman. Ali berusaha untuk selalu menjaga hatinya. Ia pendam rasa cinta itu bertahun-tahun. Ia simpan rasa itu jauh di dalam lubuk hatinya bahkan si Fatimah pun tidak pernah tahu bahwa Ali menyimpan lama rasa cinta yang luar biasa untuknya. Ia terus menjaga wasiat Sang Nabi : “Sesiapa yang jatuh cinta, kemudian menyembunyikannya hingga kematian datang menjemputnya, maka dia adalah seorang syahid.”

Hingga ketika Imam Ali telah dewasa dan telah siap untuk menikah, maka Imam Ali pun berniat menghadap Rasul dengan tujuan ingin melamar putri Rasul yang tak lain adalah Fatimah, seorang perempuan yang sudah lama Ali kagumi. Tapi sayang, niat Ali telah didahului oleh Sayyidina Abu Bakar yang sudah duluan melamar Sayyidah Fathimah. Imam Ali pun harus ikhlas bahwa cintanya selama ini berakhir pupus. Apalagi Sayyidina Abu Bakar adalah sahabat setia
Rasul yang sangat shalih dan begitu sayang kepada Rasul, dan rasul pun menyayanginya. Sedangkan Imam Ali merasa dirinya hanyalah seorang  pemuda yang miskin. Sungguh jauh bila dibandingkan dengan seorang mulia seperti
Sayyidina Abu Bakar, pikirnya.

Rencana Allah memang sulit ditebak oleh manusia, ternyata Rasul hanya diam ketika Sayyidina Abu Bakar melamar putri beliau. Maksudnya, Rasul menolak secara halus lamaran Sayyidina Abu Bakar. Imam Ali pun senang. Karena masih merasa memiliki kesempatan melamar Fathimah. Maka Imam Ali pun bergegas ingin segera melamar Fathimah sebelum didahului lagi. Namun sungguh sayang sekali, lagi-lagi Imam Ali didahului oleh Sayyidina Umar.

Lagi-lagi, hati Imam Ali tersayat. Imam Ali sangat bersedih. Sama seperti dengan Sayyidina Abu Bakar, Imam Ali merasa tak ada harapan lagi. Lagipula, apakah cukup dengan cinta ia akan melamar Fathimah? Karena ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengharapkan seorang putri Rasul yang luar biasa. Berbeda bila dibandingkan dengan Sayyidina Umar seorang keturunan bangsawan yang gagah dan berkharisma. Dan, Imam Ali yakin Sayyidah Fathimah pasti
akan bahagia bersama Sayyidina Umar.

Maka Imam Ali pun hanya bisa bertawakal kepada Allah, semoga dikuatkan dengan derita cinta yang sedang dialaminya. Kali ini, Imam Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar menghadapi kenyataan itu. Namun Imam Ali
adalah pemuda yang shalih. Ia pun yakin bahwa Allah MahaAdil. Pasti Allah sudah mempersiapkan pendamping hidup baginya. Derita cinta memang menyakitkan. “Aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah diatas cintaku,” bisik
Imam Ali dalam hati.

Disaat Imam Ali merasakan derita cintanya,  tak disangka-sangka, datanglah Sayyidina Abu Bakar dengan senyum indahnya. Dan memberitahu Imam Ali untuk segera bertemu dengan Rasul karena ada yang ingin beliau sampaikan. Pikir Imam Ali, pasti ini tentang pernikahan Sayyidina Umar dengan Sayyidah Fatimah. Sepertinya Rasul meminta Imam Ali untuk membantu persiapan pernikahan mereka. Maka Imam Ali pun menyemangati dirinya sendiri agar kuat
dan tegar. Walaupun sebenarnya, hatinya sangat perih teriris-iris. Apalagi harus membantu mempersiapkan dan menyaksikan pujaan hatinya menikah dengan orang lain.

Sungguh rencana Allah memang yang paling indah. Setelah Imam Ali bertemu Rasul, tak disangka, lamaran Sayyidina Umar bernasib sama dengan lamaran Sayyidina Abu Bakar. Bahkan Rasul menginginkan Imam Ali untuk menjadi suami Sayyidah Fathimah. Karena Rasul sudah lama tahu bahwa Imam Ali telah lama memendam rasa cinta kepada putrinya. Imam Ali pun sangat bahagia dan bersyukur. Ia pun langsung melamar Sayyidah Fathimah melalui Rasul. Tapi,
Imam Ali malu kepada Rasul karena ia tak memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar. Apalagi ia selama ini dihidupi oleh Rasul sejak kecil.

Namun, sungguh mulia akhlak Rasul. Beliau tidak membebankan Imam Ali. Rasul berkata bahwa nikahilah Sayyidah Fatimah walaupun hanya bermahar cincin besi. Akhirnya, Imam Ali menyerahkan baju perangnya untuk melamar Fathimah. Rasul pun menerima lamaran itu. Fatimah pun mematuhi ayahnya serta siap menikah dengan Imam Ali. Hari berganti hari, datanglah masa paling indah diantara dua insan suci. Detik-detik indah itu semakin dekat, namun… (bersambung)

Oleh : Adhli Al Karni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *