Dari Artis Dadakan Hingga Para Demonstran

Serangkaian kegiatan Rakernas ternyata tidak melulu harus berjalan serius. Pada hari Minggu (5/4) panitia mengajak seluruh peserta untuk jalan-jalan ke masjid Istiqlal dan Monumen Nasional. Pukul 04.00 dini hari peserta dan panitia Rakernas KMNU 2015 beranjak menuju Istiqlal menggunakan metromini. Selesai sholat subuh di Istiqlal, rombongan diajak jalan pagi menuju Monas yang letaknya tak jauh dari Istiqlal. Kondisi jalanan masih terlihat lengang karena hari itu ada Car Free Day.

Sesampainya di Monas, sudah bisa dipastikan sebuah benda yang harus segera dikeAnchorluarkan. Yap! Kamera. Mulai dari kamera DSLR, Kamera Digital, Handy cam bahkan tak mau kalah juga kamera Handphone. Setiap orang ingin mengabadikan moment-nya masing-masing. Wajah – wajah lelah plus  ngantuk itu seketika berubah menjadi wajah – wajah ceria dan sumringah. Sesekali mereka bersenda gurau hingga melahirkan gelak tawa yang sungguh tak terlupakan. Agaknya, kebersamaan yang seperti ini bisa semakin merekatkan hubungan antar mereka sebagai kader KMNU. Meski berasal dari kampus yang berbeda, namun di KMNU mereka adalah satu.

Setelah merasa puas menikmati suasana Monas pagi itu, panitia pun harus segera membawa peserta kembali ke lokasi Rakernas. Namun ternyata supir metro mini yang mereka tumpangi tidak bisa dihubungi. Walhasil, rombongan terpaksa harus menunggu beberapa lama sambil menikmati hangatnya mentari pagi di langit Ibu kota. Masa menunggu rupanya tak menjadikan para peserta ini kehilangan akal. Sembari menunggu abang supir yang menjemput, mereka mengumandangkan lagu kebanggaan “Ya Lal Wathon” yang musiknya berasal dari playlist Handphone salah satu peserta. Semangat pun kembali membara seiring meningginya matahari ibu kota. Tak selesai sampai disitu, ide kreatif mereka justru semakin menjadi – jadi. Dipelopori oleh kak Adi dan kak Ipin, mereka membuat video “clip” amatir lagu Ya Lal Wathon. Sontak mereka menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung Monas yang lewat di sekelilingnya. Dengan gaya tangan mengepal dan diacungkan ke atas, mereka lebih mirip dengan para demonstran. Tapi kok ya sarungan?  Entah karena kegaduhan yang mereka buat ini, mungkin ada salah seorang pengunjung yang mengadukan kepada aparat keamanan. Tak lama berselang, seorang polisi muda datang menghampiri dan mengawasi dari belakang mereka. Rupanya, para peserta rakernas ini benar-benar dikira demonstan. Untung saja, Pak Polisi tidak langsung membubarkan. Hahaha awas kamtiiiiib!!! (Fzy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *