KMNU Online, Senin (30/03/2015). Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika telepon masuk di ponselku berdering. Tertulis satu nama berkedip-kedip di layar handphoneku yang sontak membuatku tersenyum senang. “Hallo, Assalamu’alaikum” aku mengangkat dengan semangat. Terdengar suara yang amat lembut dari seberang sana menjawab salamku. Ya, itu suara yang sangat aku rindukan. Ummi.
Percakapanku dengan Ummi hanya berlangsung selama 15 menit sebelum akhirnya rengekan adikku disana membuat Ummi harus mengakhiri percakapan kami. Ummi menelponku, mengabarkan bahwa belum bisa mengirimi uang saku dalam minggu ini.
“Nanti kalau sudah ada rezeki ya nduk , Insya Allah Ummi dan Abi kirim.”
“Nggih mi, mboten nopo-nopo, adek taksih gadah tabungan. ” Aku menjawab seraya tersenyum berharap dapat memberikan ketenangan pada Ummi walaupun aku tau Ummi tak dapat melihatnya.
Kulihat dompetku masih tersisa selembar uang lima puluh ribuan. Tak ada masalah. Aku berkata dalam hati. Hp berdering kembali pertanda ada sms masuk.
“Teman-teman, nanti bawa uang 29 ribu ya untuk membayar buku manajemen pemasaran kemarin dan iuran kas . Terimakasih.” Bendahara kelas mengabarkan. Aku tersenyum. Masih 21 ribu, masih aman dalam hatiku.
Aku kembali mengerjakan tugas kuliahku yang akan dikumpulkan besok. Kuliah pagi tadi memang di akhiri lebih cepat dari biasanya karena Ibu Novi harus menghadiri rapat mendadak di jurusan. Sebagai gantinya mahasiswa diberikan tugas-tugas dan harus kumpulkan besok pagi di meja beliau.
Setelah selesai mengerjakan tugas kulihat kalender disampingku, besok adalah tanggal tiga. Namun, terlihat tanda bintang disana. Kulihat memo kecil yang menempel di bawah kalender. Tertulis catatan “jangan lupa bayar listrik kos”. Uang listrik di kos ku memang dibayarkan setiap bulan pada tanggal tiga sebesar dua puluh ribu rupiah masing-masing anak.
Setelah ku hitung-hitung pengeluarannya, tersisa uang seribu. Tak apa, masih ada uang receh yang sengaja aku kumpulkan dalam botol air mineral yang aku potong menjadi dua. Aku menenangkan diri. Pengalaman mondok di pesantren yang membiasakan diri untuk hidup prihatin sudah cukup membuatkku terbiasa dengan keadaan ini.
Aku tidak tahu bagaimana aku akan bertahan untuk satu minggu ini, tetapi aku yakin aku pasti dapat bertahan. Laa tahzan. Innallahaa ma’anaa. Penggalan ayat dari surat at-taubah ayat 40 ini selalu menjadi penyemangatku ketika aku merasa kesulitan. Allah selalu bersama hambanya, bersamaku.
Aku membuka dompetku menyiapkan uang yang akan kubayarkan besok untuk iuran kas, membayar buku, dan listrik kos. Namun tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang lain, terselip amplop putih disana. Aku buka amplop itu seraya mengingat. Ah, ternyata amplop itu adalah uang PDL ospek yang dikembalikan oleh panitia beberapa bulan yang lalu karena mendapatkan dana sponsor yang cukup besar.
“Fabiayyialaairabbikuma tukadzdzibaan“. Terdengar suara dari mp3 laptopku yang sedang memutar surat Ar-Rahman.
Fabiayyiaalaairabbikumaa tukadzdzibaan. Aku mengulangi dalam hati seraya tersenyum penuh syukur. Alhamdulillah. Bahkan ketika kita merasa tidak ada jalan lagi untuk bisa dilewati, Allah selalu mempunyai cara-Nya untuk menunjukkan jalan lain yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Oleh : Aktivis KMNU