Saya ingin sedikit bercerita yang semoga dapat memberikan hiburan dan manfaat untuk semua. ^_^
Saya adalah wong ndeso yang meneruskan pendidikan pada jenjang perkuliahan disatu-satunya kampus umum Negeri di Provinsi Lampung (Universitas Lampung. red) dan secara kebetulan mengenal nama KMNU di sana. Awalnya saya tidak mengetahui apa itu KMNU? Setelah mengikuti segala agendanya beberapa bulan, mulailah tersadar jikalau KMNU adalah singkatan yang memiliki kepanjangan : Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama.
Awal mulanya bergabung dalam organisasi ekternal ini, saya tidak memiliki motivasi apa-apa selain daripada teringat dengan pesan kakeknya kakek saya yang mengatakan bahwa “Umur manusia bukanlah sekedar deretan waktu tetapi sejauh mana kita mampu mengisi dan memberikan arti dalam hidup ini”.
Lantas sejenak saja terdiam. Sekaligus berusaha memaknai bahwa umur panjang bukanlah beberapa lama kita hidup melainkan beberapa banyak amal prestasi yang kita lakukan. Oleh karena itu, saya mengganggap bahwa KMNU ada didalamnya, KMNU bergerak dalam bidang keagamaan (menguatkan Islam Aswaja) yang menebarkan rahmat bagi seluruh alam dan menjadikan kadernya mencintai Negaranya sehingga dapat berkontribusi dengan baik dalam mengaplikasikan diri menjadi warga negara yang baik.
Menjadi bagian organisasi Islam KMNU merupakan sebuah kebanggaan amat sangat luar biasa bagi saya, tentu tiada maksud hati mengenyampingkan organisasi Islam lain. Hanya saja ada yang saya rasakan bahwa KMNU berbeda dengan organisasi lainnya. Memiliki arah perjuangan yang searah dengan perjuangan NU dan memiliki tujuan untuk meneruskan dakwah ulama terdahulu. Aktivis KMNU itu wajib :
- Berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’, dan Al-Qiyas.
- Beraqidah Islam menurut faham Ahlusunnah wal Jama’ah dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaid al-Bagdadi dan Abu Hamid al-Ghazali.
- Berkarakteristik Tawassuth, Tawazun, Tasamuh, dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
- Berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan Tri Dharma Perguruan Tinggi (dalam lingkupan sebagai organisasi mahasiswa).
Oleh karena demikian, dalam hal ini, saya menggap bahwa KMNU adalah calon menantu yang paling ditunggu!hehe… Mengapa demikian? Alasan sakralnya begini:
Pertama, Organisasi KMNU selalu Berusaha Mengisi Kegiatan Dakwah, maka Kader KMNU Calon Menantu Yang Wah!
Hal yang sangat sulit dalam kehidupan ini adalah Tarbiyah (Baca: Pendidikan) dan ibadah. Sedangkan ibadah ritual terasa hampa dan kehilangan ruhnya apabila tidak dimanifestasikan dalam bentuk amal aktual yang membekas dihati manusia “Dakwah”. Bukankah Rosulluloh SAW telah bersabda “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat baik orang lain”.
Dan menurut pengalaman selama ini. KMNU menjalankan itu semua dalam tarbiyah misalnya, dengan mengisi waktu dengan Ngaji memanfaatkan barokah malam jum’at dan pada malam minggu dimana saat itu adalah waktu yang cukup rentan dikalangan anak muda zaman sekarang, tetapi KMNU justeru mengisinya dengan melakukan kegiatan yasinan, tahlilan, sholawatan, pengajian rutinan dimasjid dan mushola dan hal bermanfaat lainnya.
Dengan demikian, beranilah saya rekomendasikan kepada para pembaca budiman, jikalau kader KMNU adalah menantu yang Wah! hehe.. gimana nggak wah? mereka menjalankan Tarbiyah dan Dakwah.
Kedua, Kader KMNU dekat dengan para Kyai, Insya Allah mereka bisa disebut santri.

Jikalau kebanyakan mahasiswa sekarang mendekatkan diri kepada pejabat yang punya pangkat agar proposal kegiatan cepat terangkat. Beda sangat dengan kader-kader KMNU yang menghabiskan waktu pendekatan dengan kyai, sowan kepada ulama sebagai upaya merehabilitasi dosa-dosa yang tertanam pada diri.
Sebab ada istilah yang cukup terkenal dikalangan kaum intelektual, kurang lebihnya begini : “Barang siapa yang dekat dengan penjual minyak wangi, maka iyapun akan beraromakan wewangian”. Iya kan?. Nah, oleh karena demikian, alasan siglit yang diberikan itulah kader KMNU adalah kader yang dekat dengan para Kyai untuk wahana mengaji, karena mereka semua adalah santri.
Ketiga: Kader KMNU Bergerak loyalitas, karena mereka tertanam jiwa yang Ikhlas.

Secara keilmuan terdapat teori, bahwa “Segala tindakan adalah nilai tukar” jikalau diasumsikan dengan keadaan sekarang memaknai pehaman itu sementah-mentahnya, kata “Nilai Tukar” misalnya, hanya dimaknai dengan gompahan uang belaka, kebutuhan kehidupan didunia tanpa mengindahklan kehidupan diahirat.
Dengan upaya mengantisipasi pamor yang berkembang, kebanyakan kader-kader KMNU melakukan perubahan mindset, ini bisa dibuktikan dengan agenda-agendanya dalam melaksanakan program kerja, terkadang mereka rela berkorban waktu untuk berjualan demi terlaksananya program yang sudah direncanakan. Misal dalam bidang dana usaha, semata-mata bukan mendapat keuntungan berupa uang melainkan menggarapkan Ridho dari Tuhan sebagai bentuk balasan akan menegakan panji agama islam.
Landasan sepritual dan nilai keihlasan yang sudah dipaparkan, semoga membuat kader-kader KMNU semakin ditunggu oleh para bapak-bapak atau ibu-ibu dalam mencarikan pasangan bagi anak bujang dan gadisnya yang tersayang.
Keempat: Mereka dilatih Hidup Bersama karena mereka adalah Keluarga.

Keluarga, dalam kamus bahasa Indonesia (Marhijanto Bambang : 1999) berarti: ibu bapak dengan anak-anaknya, seisi rumah. Adapun dalam kamus KMNU keluarga diartikan sebagai semua umat munusia yang beragama Islam dan wajib menyayangi satu sama lain (Defenisi sendiri : 2015).
Berangkat dari hal itu, mengindikasikan bahwa peran KMNU sebagai singkatan dari Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama mencoba mengaplikasikan dengan bentuk kegiatan yang melatih para kadernya untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Sebagaimana tertuang dalam beberapa kegiatan, mereka saling tolong menolong/ saling membantu satu sama lain, saling menjaga, menghargai perbedaan, menyelesaikan masalah dengan musyawarah, dan lain sebagainya. Di foto adalah ketika mempererat rasa kekeluargaan dengan makan bersama, tanpa ada pembeda, di antara kesibukan mereka luangkan untuk makan bersama, berbagai nasi dan lauk pauk, sebuah upaya kecil dalam mempersatukan hal yang paling kecil dalam bentuk kekeluargaan.
Bisa dibayangkan, masuk KMNU sudah diajarkan membentuk keluarga, bagaimana nanti kalau memang sudah berkeluarga? Faktor kebiasaan menentukan semuanya. 😀
KMNU adalah kader kekeluargaan, ayo mari rapatkan barisan untuk menjadi bagian dari KMNU! dan jadilah idaman sebagai menantu paling ditunggu…hehe #SemangatKMNU #HumorBikinKitaSehat
Oleh : Imam Mahmud