Bogor, KMNU Online (21/03/2015)
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (Muttafaq Alaih)
Sebenarnya saya sudah sering mendengar atau membaca hadist tersebut, walaupun memang pada nyatanya saya pribadi masih belum bisa melaksanakannya dan semoga kita dizinkan oleh Allah untuk menyegerakan beramal yang istiqomah. Amiin.
Malam itu saya membaca buku kumpulan tulisan Majma’ Buhuts An-Nahdliyyah (Forum Kajian Ke-NU-an) yang berjudul “Khittah dan Khidmah”. Dalam buku tersebut terdapat satu bab yang berjudul “KH. Hasyim Asy’ari : Empat Puluh Hadits Berkenaan dengan Pendirian Nahdlatul Ulama” dan salah satu diantaranya terdapat hadits yang saya kutip diatas. Hal ini menjadi penting karena berdirinya NU salah satunya adalah untuk mengajak kita bersama agar istiqomah dalam beramal, baik berjama’ah maupun secara personal.
Berbicara tentang istiqomah dalam berjama’ah, KMNU sebagai organisasi yang mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi yang berafiliasi dengan NU – walaupun secara kultural, bukan struktural – harus menjaga konstitusi itu. Maka dari itu salah satu kesadaran berdirinya KMNU seperti yang dijelaskan pada tulisan sebelumnya, merupakan wadah yang istiqomah (konsisten) dan fokus dalam mengembangkan dan melestarikan tradisi para ulama.
Sekitar 4 tahun yang lalu, saya dan teman-teman pengurus KMNU IPB mengatakan dengan yakin dan keras bahwa “KMNU IPB akan semakin eksis dan berkembang di kampus. Syaratnya dua, yaitu : istiqomah kajian setiap jum’at malam dan sholawatan setiap sabtu malam. Serta matinya KMNU adalah dengan tidak melaksanakan kedua syarat tersebut.”
Kami suarakan dan dengungkan terus-menerus baik saat kumpul/rapat rutinan atau saat akan menyelenggarakan kegiatan besar, sehingga selama menyiapkan kegiatan-kegiatan besar itu, majelis kajian dan sholawat KMNU IPB tak pernah sepi karena saking (memiliki keinginan) agar kegiatan besar itu berhasil. Itulah pondasi yang dilakukan KMNU IPB untuk mengiringi keberhasilan dan terobosan dalam berkhidmah kepada NU. Empat tahun telah berlalu, dan kini kita patut bangga melihat keberhasilan dalam menancapkan pondasi tersebut.
Memang saat itu kami sebenarnya tidak punya dasar yang kuat untuk mengatakan hal tersebut. Karena sebenarnya, jika dipikir secara logika mungkin akan susah mencari relevansi antara pengaruh dua syarat tersebut terhadap keberhasilan dalam membuat kegiatan besar. Dan ternyata akhir-akhir ini, kami baru menyadari hal yang sederhana jika dilakukan dengan istiqomah akan berdampak sangat luar biasa.
Itulah kenapa kita harus ber (1+KM)NU. Walaupun kita secara pribadi masih susah dalam melakukan amalan yang istiqomah, setidaknya kita bisa bergabung dengan KMNU untuk melakukan amal secara istiqomah setiap seminggu dua kali. Dan kami ingin mengingatkan kepada teman-teman yang sudah bergabung dan telah mendirikan KMNU, ataupun teman-teman yang ingin mendirikan KMNU agar menjaga konstitusi yang telah digariskan oleh para pendiri NU dan yang telah dirumuskan dalam AD/ART KMNU. Mari kita mulai memondasi KMNU ini dengan melakukan dan mengistiqomahkan dua syarat, yaitu “Minimal seminggu sekali KMNU wajib istiqomah melaksanakan kegiatan Pengajian dan Sholawat secara rutin”. Apapun alasannya, jika kita sudah mendeklarasikan diri sebagai KMNU maka hal ini menjadi WAJIB. Sehingga, kita mudah saja mengevaluasi jika ada KMNU yang susah berkembang di perguruan tinggi dengan satu pertanyaan pertama: “Sudahkah melaksanakan dua syarat itu?”.
Wallahu A’lam Bis-Showab.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi pengileng (pengingat) kita bersama untuk selalu berjalan diatas ridlo Allah. Amiin. Alkatsumi