Di sudut ruang sempit, selembar tikar tergelar. Di atasnya bersemayam sebuah buku tebal yang senantiasa sunyi, sepertinya kitab suci. Dalam ruangan yang agak gelap itu, ia terbiasa menyendiri . Dari pagi hingga senja menghilang.
“Saya harus rajin sembahyang, Tuan”
Itulah jawaban yang terlontar dari kedua bibirnya setiap kali ditanya kerabat dan tetangganya perihal kelakuannya. Sembahyang adalah jawaban yang mutlak. Seolah ia membangun sebuah kesadaran pada batas-batas yang tak pernah terwakilkan. Sekat memang ada, tapi ia bungkus dengan sepotong senyum kesederhanan, namun penuh kharisma. Siapa yang sanggup membantahnya? Bahkan seorang Hilter sekalipun.
“Sepanjang siang sampai senja menghilang saya senantiasa sembahyang. Kalau malam hari saya lebih memilih istirahat di rumah atau keluar rumah jika perlu, ala kadarnya. Tuan kan sadar, saya sudah cukup tua untuk ukuran kalian. Anak-anak biasanya datang sebulan sekali. Membawa buah tangan dan sedikit uang untuk keperluan saya” sambungnya.
Menurut temanku yang sudah menjadi penghuni kost di sini selama dua tahun, sudah sekitar setahun terakhir ini ia hidup sendirian di rumah besar berwarna hijau muda itu , puteri terakhirnya telah pindah mengikuti menantunya. Akan tetapi, ia lebih memilih tinggal di ruang sempit yang terletak paling belakang. Meski pintu gerbang senantiasa terbuka, agak sulit menemuinya, apalagi saat siang hari. Namun, seminggu sekali lelaki tua yang sudah beruban itu masih berkenan menyempatkan diri mengikuti ronda, padahal namanya tidak masuk jadwal –mengingat faktor usia. Itulah keunikan beliau.
*******
Banyak orang beranggapan bahwa ia sulit ditemui. Bahkan, sekadar bersitatap dengannya. Namun, siang itu aku mengalami hal yang lain. Ia terlihat ke luar rumah. Menyapaku yang sedang duduk di warung burjo Pak Durrohim, persis di depan rumah beliau.
”Nggak berangkat kuliah, nak?” tanyanya.
“Belum berangkat, Pak Salim. Jadwal kuliah nanti siang” jawabku.
Pak Salim, begitulah aku dan penduduk sekitar menyebutnya. Sebenarnya dia sudah menunaikan ibadah haji. Dua kali malah. Tapi dia tak pernah menggunakan gelar tersebut.
“Nggak usah pakai gelar Haji. Cuma gelar kok, gak ada artinya” protesnya kepada warga yang sempat menanyakannya.
Itulah Pak Salim. Sifatnya rendah hati. Siapapun akan disapanya, tak terkecuali aku yang masih muda dan hanya anak kost yang baru tinggal di wilayah ini selama lima bulan. Namun, kemunculannya masih menjadi teka-teki, paling tidak hanya sekali dalam seminggu.
“Kalau kamu membaca Karl Marx, Nietzche, atau Balzac, hingga Tolstoy barangkali kamu dapat pencerahan lebih. Tak sekadar jadi anak muda” ia tertawa kecil, aku hanya membalasnya dengan senyuman.
“Saya memang masih muda kok, Pak” jawabku dengan mimik muka tetap mengembangkan senyum, menghormati orang yang lebih tua.
“Orang muda belum tentu berjiwa muda, bahkan bisa berjiwa tua dan kekanak-kanaknan, hehehe” dia tertawa kecil dengan tetap mengumbarkan senyum ke arahku sembari mengambil sepotong pisang goreng. Secangkir kopi ia reguk perlahan-lahan, seolah membunuh hawa panas yang makin mencekam.
Aku heran. Dalam hati bertanya, bapak ini lulusan universitas mana ya? Seingatku, berdasarkan penuturan Udin, teman kostku, meski Pak Salim orang yang sukses dalam berwirausaha, dia hanyalah lulusan SMA.
“Untuk pintar dan bisa kerja nggak mesti harus kuliah kok, asal kerja keras, dan jangan lupa sembahyang pada Gusti Allah”
“Glek!!”
Aku kaget bukan main. Pak Salim sanggup membaca pikiranku. Apakah Pak Salim dukun klenik? Tanyaku dalam hati. Tapi itu mustahil, sebelum kepergian puteri terakhirnya yang mengikuti menantunya, Pak Salim rajin ke masjid, bahkan tidak pernah melewatkan sholat subuh berjama’ah. Sikapnya juga biasa-biasa saja.
“Peganglah prinsip hidupmu nak, menyendirilah selayaknya Zharatustha. Dan, temukan di mana Tuhanmu”
Ia menyelonong sendiri, beranjak pergi meninggalkanku yang melongo sembari memegang sepotong tahu gejrot. Aku bingung. “Temukan di mana Tuhanmu!” itu semacam jawaban, sekaligus pertanyaan. Aku semakin bingung. Gila. Barangkali.
******
Langit masih cerah tatkala kulangkahkan sepasang kakiku di pelataran kampus. Beringin kembar yang berada di pojok gedung tua tampak masih anggun, menggodaku untuk bercumbu. Dari kejauhan, sepoi menerbangkan beberapa daun mempelam yang luruh dari selatan pos satpam yang hanya berukuran 3X3 meter. Alunannya tak sempurna, bahkan cenderung zig-zag, tak berirama. Ada metrum yang bias dan kadang-kadang menyalak galak. Jika tidak, ia menjelma sepotong halimun yang siap memecahkan sepasang gendang telinga. Tak diinginkan. Memang.
Aku mengambil tempat di bangku paling dekat dengan beringin kembar itu bersemayam. Di sinilah, aku seringkali merasakan sesuatu yang lain ditengah kejenuhanku sebagai anak rantau. Tugas kuliah yang menumpuk, hingga soal perut yang seringkali tak berisi. Dan sebagai hiburan selingan, seringkali aku bermain kata-kata. Kalau tidak, aku mencumbu Parangtritis, Malioboro, atau sekadar menjejakkan sepasang kaki di pinggiran Kali Code.
Tak berselang lama, tangan kananku menjangkau tas hitam yang telah aku semayamkan di atas meja hijau. Inilah tas pemberian ayah, saat aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Perlahan-lahan, dari dalam tas itu kuambil sebuah koran lokal edisi minggu yang memuat beberapa karya sastra. Aku balik lembaran demi lembaran dengan melawan arus sepoi yang datang dari arah tenggara. Halaman demi halaman berkibas-kibas. Terkadang menarikan sesuatu yang entah aku sebut sebagai apa. Jaipong? Serimpi? Cakalele? Bahkan, striptis? Namun, ketika sampai pada halaman cerpen, pandanganku tertarik pada sebuah huruf cukup mencolok.
“SEMBAHYANG SENJA.”
Aku semakin kaget ketika menemukan nama Salim Rusdhie. Bukankah ini Pak Salim? Tanyaku dalam hati. Aku semakin penasaran ketika membaca pembuka cerpen tersebut:
Sembahyang senja. Begitulah aku senantiasa menjalankannya. Jika senja datang, maka aku semakin memperbanyak sembahyang. Karena pada hakikatnya Gusti Allah menyukai sebuah ketenangan. Ketenangan, juga kedamaian, bisa aku dapatkan kala senja mulai menampakan diri dari sebilah ufuk barat. Sedangkan pagi sampai siang, saya juga sembayang meski tak sebanyak saat senja mulai tampak. Gusti Allah menyukai kedamaian. Gusti Allah menyukai senja. Maka aku senantiasa menunaikan sembayang senja.
Mukhanif Yasin Yusuf
Hanya seorang pejalan kaki dalam kesunyian untuk tetap mencari makna dan hakikat tentang hidup dan kehidupan. Saat ini mengabdi sebagai Majlis Pertimbangan Organisasi (MPO) KMNU UGM sekaligus anggota Presnas 5 KMNU Pusat. .