Pada dasarnya, ilmu yang diperoleh manusia terdapat korelasi antara satu bidang ilmu dengan lainnya. Seperti yang wajib kita ketahui bahwasannya dasar ilmu agama tidak hanya satu, tetapi banyak dasar dan bidang ilmu lainnya yang wajib dipelajari. Komposisi ilmu dalam Al Quran sebanyak 70 %, dan 30 % pengetahuan. Ilmu itu sesuatu yang dapat berkembang, sedangkan pengetahuan hanya sedikit yang dapat berkembang. Di dalam Al-Quran manusia dituntut untuk mempelajari pengetahuan dengan mencari ilmu. Al-Quran merupakan ilmu yang paling utama sebagai dasar pedoman manusia dalam bertindak dan menjalani hidupnya.
Dasar ilmu agama Islam ada 3 yaitu ilmu fiqih , ilmu tauhid, ilmu akhlaq atau ilmu tasawuf. Setiap muslim wajib mempelajari ketiganya untuk mencapai derajat hidup sesungguhnya yaitu iman, islam dan ihsan. Untuk mencapai tingkat iman, cukup baginya mempelajari ilmu tauhid kemudian wajib baginya mempelajari dasar ilmu lainnya agar dapat mencapai kepada tingkat islam dan ihsan yaitu dengan mempelajari ilmu fiqih dan ilmu akhlaq. Dalam ushul fiqih, dikatakan bahwa mempelajari dasar ilmu agama hukumnya fardhu ‘ain, sedangkan mempelajari ilmu penunjangnya adalah fardhu kifayah. Contohnya adalah ilmu nahwu shorof yang dipelajari untuk memahami isi kitab-kitab fiqih dan syarah lainnya. Dengan ilmu ini akan menunjang dalam mempelajari dasar agama Islam. Namun, hukum mempelajari ilmu Nahwu Shorof ini adalah fardhu kifayah yang artinya akan gugur kewajibanya apabila sudah ada beberapa orang yang telah mempelajarinya. Jika hukum fardhu kifayah dalam mempelajari hal tersebut disepelekan maka sama saja sedikit demi sedikit akan timbul banyak presepsi penafsiran yang kompleks dan akan berakibat pada perpecahan maupun kehancuran, karena tidak ada yang menjaga ilmu tersebut.
Ilmu yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-Hadist selalu mengalami perkembangan penafsiran. Tafsir Al-Quran seyogyanya dipelajari sebaik mungkin dengan berkiblat pada ulama. Seperti terminologi Islam nusantara yang mengikuti beberapa kiblat ulama yang bersanad sampai kepada nabi yaitu ilmu fiqih menganut empat mahzab (Hanafi, Syafi’i, Hambali, Maliki), namun didominasi oleh Mahzab Imam Syafi’i, sedangkan ilmu tauhid merujuk Imam al-Asy’ary dan Imam al-Maturidii. Ilmu akhlaq (ilmu tasawuf) oleh Imam Al Ghozali.
Ilmu akan menjadi elok ketika mengetahui sisi baik dan buruknya, serta tujuan dari ilmu tersebut. Ada 3 hal yang menjadi tujuan orang mencari ilmu yaitu : 1) Dicari karena Dzatnya. Misal melihat Allah kelak, yang dicari ialah melihat Allah, bukan selainnya. Dzat Allah bersifat mutlak dan tidak dapat disandingkan dengan apapun. 2) Dicari karena untuk dzat dan selainnya, uang (uang dicari bukan karena dzatnya yang berupa kertas tetapi karena selainnya yaitu nilai dari uang tersebut). 3) Dicari karena dzat dan selainnya/selain keduanya, misal untuk mendapat kesehatan tubuh dengan belajar yoga. Seseorang tidak bertujuan untuk mencari karena nilai atau sifatnya, tetapi karena fungsinya yang menyehatkan.
Ilmu Tauhid menjadi dasar utama untuk mencapai iman, namun ilmu fiqih dan ilmu tasawuf akan menjadi pelengkap yang mengantarkan pada tingkat derajat manusia pada tingkatan islam dan ihsan. Maka perlunya belajar mulai dari ilmu tauhid, ilmu fiqh, dan tasawuf. Ketika seseorang telah mempelajari ilmu tasawuf, maka akan timbul kepekaan dan rasa yang tulus dalam beribadah. Seperti halnya saat bersholawat kepada Rosulullah, semata-mata untuk mengharap syafaat beliau. Sehingga ketika bersholawat itu tidak hanya keluar dari lisan saja, namun juga dari hati. Maka akan muncul pertanyaan dalam diri sendiri, apakah kita pantas sebagai umat beliau. Bahkan Rosulullah ketika akan meninggal pun yang diingat serta diucapkan ialah “ummatii,ummatii, ummatii..”. Sehingga sudah sepantasnya kita memuliakan Rosul dengan bersholawat dan menjalankan risalahnya.
Carilah ilmu yang jelas sanad ulamanya sampai nabi, maka para ulama akan mendoakan keberkahan ilmu kita, jika hanya mencari ilmu melalui Google, sudah pasti Google tidak akan pernah bisa mendoakan kita. Belajarlah dengan diawali hadiah fatihah untuk sang guru dan penulis buku, karena itu adalah cara terbaik untuk membalas jasa beliau. (Erna Purwaningsih & Falahunnisa Nurul Azmi)
Disampaikan oleh Ustadz Muhammad Hilmi Ainunajih