Sangat menarik rasanya mempelajari bahasa arab terutama yang berkenaan dengan kaidah-kaidah yang berkaitan dengannya. Al Quran sendiri diturunkan dengan menggunakan bahasa arab sehingga pengetahuan terhadap bahasa arab merupakan suatu keharusan bagi orang yang ingin menarik makna pesan-pesan Al Quran. Bahasa arab itu bahasa yang unik dan kaya akan kosa kata, mungkin hal tersebut merupakan salah satu alasan mengapa Al Quran berbahasa arab, selain Al Quran itu sendiri diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang berbahasa arab, sebagai contoh kata طرق (tharaqa) yang memiliki arti mengetuk, dari akar kata tersebut lahir kata طريق (thariiq), dari kata طرق juga lahir kata مطرقة yang berarti palu. Uniknya kata-kata bentukan tersebut meskipun memiliki makna yang berbeda tetapi mengandung makna dasar akar katanya yaitu tharaqa, kata thariiq berarti jalan karena jalan diketuk oleh kaki kita, bukankah ketika kita berjalan seolah-olah kita mengetuk jalan, begitu juga dengan kata مطرقة (palu) karena palu digunakan untuk memalu/mengetuk paku atau benda-benda lain selain paku.
Dalam bahasa arab bunyi satu kata dapat mengakibatkan perbedaan makna, contohnya pada kalimat السماء ماأحسن, jika kita membacanya ‘maa ahsanu as samaai’ itu akan berbeda artinya jika kita membaca ‘maa ahsana as samaa’ walaupun tulisannya terlihat sama jika tidak diberi harakat, karena yang pertama adalah sebuah istifham (pertanyaan) ‘apa yang paling indah di langit?’ sedangkan yang kedua merupakan rasa takjub (litta’ajjub) akan keindahan langit. Hal tersebut juga yang menyebabkan Abu Aswad ad-Duali menulis tentang kaidah-kaidah bahasa arab atas perintah Imam Ali karramallahu wajhah.
Dikisahkan pada suatu malam Abu Aswad dan seorang anak perempuannya berada di atas atap rumahnya, sang anak melihat langit dan bintang-bintang yang ada di langit seraya berkata “maa ahsanu as-samaai” (apa yang paling indah di langit?), mendengar perkataan sang anak Abu Aswad menjawab “bunyatu nujuumihaa” (gugusan bintangnya), karena Abu Aswad mengira anaknya bertanya mengenai hal yang paling indah di langit, mendengar ucapan sang ayah anaknya berkata “wahai ayahku aku tidak bermaksud bertanya kepadamu, akan tetapi aku merasa takjub/kagum akan keindahan langit”, mendengar perkataan anaknya, Abu Aswad berkata “kalau begitu katakanlah maa ahsana as-samaa” (alangkah indahnya langit). Besok paginya Abu Aswad menemui Sayyidna Ali dan menanyakan perihal anaknya yang salah dalam melafadzkan kalimat tersebut, Sayyida Ali mengatakan bahwa hal demikian itu dikarenakan orang-orang ‘ajam (non arab) berbaur denga orang-orang arab, lalu Imam Ali pun mendiktekan kaidah-kaidah bahasa arab, dan memerintahkan Abu Aswad untuk menuliskan kaidah-kaidah tersebut. Demikian riwayat singkat mengenai asal mula dibukukannya kaidah-kaidah bahasa arab.
Bahasa arab juga kaya akan sinonim, menurut Al-Fairuzabadi pengarang Qamus Al- Muhith kata عسل (asal) yang berarti madu ditemukan sebanyak delapan puluh kata. Dalam bahasa arab juga sering ditemui kata-kata yang beda tetapi memiliki makna sama seperti سنة, مندوب, مستحب dan lain-lain, tapi penggunaan kata-kata tersebut memiliki tingkatan dan penggunaanya masing masing. Misalnya lagi kata جلس dan قعد memiliki arti duduk hanya saja dalam penggunaannya berbeda, jika kita menghendaki seseorang duduk dari keadaanya semula ia berdiri maka keliru jika kita menggunakan kata اجلس (ijlis) kata perintah dari جلس, karena kata اجلس dgunakan untuk memerintahkan seseorang dari keadaan ia berbaring agar ia duduk, semestinya yang kita ucapkan adalah اقعد (uq’ud) yang merupakan kata perintah dari kata qa’ada.
Hal ini juga menjadikan kita agar berhati-hati dalam menjawab suatu pertanyaan, dalam surat al a’raf ayat 172 Allah berfirman “alastu birabbikum, qaaluu balaa” yang artinya “bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab balaa” menurut Ibnu Abbas ra, jika kata balaa ditukar dengan na’am (نعم), maka orang yang menjawabnya berpotensi menjadi kafir, karena kata na’am digunakan sebagai pembenaran untuk suatu pertanyaan, baik pertanyaan tersebut dengan redaksi positif maupun negatif. Sehingga ketika ditanya “bukankah Aku Tuhanmu?” kemudian dijawab dengan kata نعم (iya) maka mereka berarti membenarkan kalau Allah bukan Tuhan mereka, demikian dinukil oleh Az-Zarkasyi dalam kitabnya Al Burhan fi Uluumil Quran. Itu semua sedikit daripada keunikan bahasa arab, masih banyak keunikan bahasa arab yang lain dan dari keunikan tersebut tidak mustahil rasanya jika menjadi salah satu sebab dipilihnya bahasa arab sebagai bahasa Al Quran.
Wallahu a’lam bis showab
Mochamad Bukhori Zainun