POT (Pengajian Online Taqrib) #4: Hamdalah

Dengan menyebut nama Allah, Pemberi Kasih Yang Maha Kasih,

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya.

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin

“Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam”

Setelah membuka kitabnya dengan basmalah (menyebut nama Allah), pengarang kitab melanjutkannya dengan hamdalah (memuji Allah), karena mengikuti kitab Allah dan mengamalkan hadis Nabi “setiap perkara penting (menurut syar’i) yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmaanirrahiim’, maka terputus keberkahannya”  dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud “setiap perkara penting (menurut syar’i) yang tidak dimulai dengan  ‘alhamdulillah’ maka terputus keberkahannya”. Dari dua riwayat tersebut muncul pertanyaan, apakah kedua hadits tersebut tidak bertentangan?, bukankah akan menimbulkan kesan saling meniadakan satu sama lain, misalnya saja ketika seseorang mengamalkan hadits basmalah maka ia tidak perlu lagi mengamalkan hadits hamdalah atau sebaliknya.

Pengarang kitab menggabungkan basmalah dan hamdalah pada permulaan (ibtida) kitabnya karena mengamalkan kedua riwayat tersebut dan memberikan isyarat atau menunjukkan kepada kita  bahwa kedua hadits tersebut tidak bertentangan satu sama lain. Hal tersebut karena Ibtida terbagi menjadi dua, ibtida haqiqi dan ibtida idhafi. Ibtida haqiqi merupakan permulaan yang tidak boleh didahului oleh kalimat lain sedangkan ibtida idhafi merupakan permulaan yang boleh didahului oleh kalimat lain, bahkan ada ulama yang berpendapat ibtida idhafi harus didahului oleh kalimat lain, sehingga teranglah bagi kita bahwa hadits basmalah dan hamdalah tidak bertentangan satu sama lain dan keduanya independen tidak terikat satu sama lain dalam menghasilkan keberkahan.

Al hamdu lillaah (Segala Puji Hanya Bagi Allah)

Kalimat Alhamdulillah berasal dari hamidtu hamdallaahi (aku memuji dengan pujian terhadap Allah) kemudian kata kerja (hamidtu) pada kalimat tersebut dibuang diganti dengan kata setelahnya yaitu kata hamda,lalu dibubuhi alif lam yang menunjukkan kontinuitas dan diharakati dhammah pada huruf dal nya sehingga menjadi alhamdulillah. Alif lam yang melekat pada alhamdu merupakan al lil istigraaqil jinsi yang berarti segala bentuk pujian itu milik Allah. Ada empat macam bentuk pujian, pujian Allah terhadap diri-Nya, hal demikian merupakan suatu kepantasan bagi Allah sebagai Tuhan alam semesta, dan  hanya Allah yang berhak sombong, Allah berfirman “Allah sebaik-baiknya pengurus dan penolong” (QS Al-Hajj:78), pujian Allah terhadap makhluk-Nya, sebagaimana Allah memuji Nabi Ayub dalam surat shad ayat 44, pujian makhluk terhadap Allah dan pujian makhluk terhadap makhluk.

Hamd secara bahasa berarti pujian yang sempurna. Dalam bahasa arab terdapat kata yang serupa dengan hamd yaitu madh. Imam Fakhruddin ar-Razi di dalam kitab Mafatihil Ghaib atau yang lebih dikenal dengan Tafsir Al-Kabir menguraikan perbedaan kedua kata tersebut, menurutnya kata madh biasa digunakan untuk sesuatu yang mati (benda mati) dan sesuatu yang hidup seperti ketika seseorang melihat intan yang sangat indah lalu memujinya, berbeda dengan hamd yang digunakan hanya bagi sesuatu yang hidup, sehingga dapat dikatakan madh lebih umum dibandingkan hamd, kata hamd juga merupakan ungkapan yang menunjukkan atas beragam anugerah sedangkan hamd hanya anugerah tertentu yaitu anugerah kebaikan dan kenikmatan, madh diungkapkan  sebelum dan setelah terjadinya suatu kebaikan sedangkan hamd diungkapkan setelah terealisasinya kebaikan, madh terkadang dilarang, hal tersebut sesuai dengan hadits “siramkanlah pasir pada wajah orang-orang yang memuji (maddahiin)” sedangkan hamd  diperintahkan secara mutlak.[1]

Huruf lam (harful jar) pada kata lillah memiliki beberapa makna diantaranya yaitu lil ikhtishas (pengkhususan), lil milki (kepemilikan), dan lil isti’la (penguasaan). Ketiga makna tersebut layak disandingkan dengan kata Allah, segala pujian itu khusus bagi Allah karena agungnya Allah dan banyaknya anugerah dan kebaikan Allah, segala pujian itu milik Allah karena Allah Pemilik dari segala pemilik, segala pujian itu dikuasai oleh Allah karena Allah Penguasa dari segala penguasa.

Rabbil ‘aalamiin (Pengurus Alam Semesta)

Eksistensi terbagi menjadi dua, eksistensi yang wajib adanya dan eksistensi yang mungkin adanya. Eksistensi yang wajib adanya yaitu Dzat Allah (rabb) sedangkan selain Dzat Allah maka  termasuk kedalam eksistensi yang mungkin adanya atau dinamakan dengan alam semesta (‘aalamiin), dinamakan demikian karena segala sesuatu yang ada selain Allah menunjukkan adanya Allah.  Allah adalah rabb yang memiliki dan mengurusi alam semesta hingga bagian yang paling terkecil (seperti quark dan super-string) dari alam semesta, Allah merupakan rabb yang mengurusi proses terjadinya manusia dari mulai setetes air mani hingga menjadi manusia sempurna, Allah adalah rabb yang mengatur dan mengurus benda-benda langit sehingga tidak bertabrakan satu sama lain dan menjadi harmoni. Tidak mungkin jika tidak ada sesuatu kekuatan besar, yaitu pengawasan ilahi yang menjaga keharmonisan benda-benda langit yang tersebar di angkasa dengan jarak yang cukup jauh, sehingga gravitasi internal tidak menarik benda-benda tersebut menjadi satu masa yang besar. Adanya alam semesta merupakan tanda adanya Allah dan ke-Esa-an Allah

Ibnu Mu’taz berkata:

“fayaa ‘ajaban kayfa ya’shil ilaah           am kayfa yajhaduhul jaahid

Wa fii kulii syai in lahu aayah                      tadullu ‘alaa annahu waahid”

Maka sungguh mengherankan bagaimana seseorang bisa maksiat kepada Tuhan, atau bagaimana ia bisa mengingkari-Nya, padahal dalam tiap sesuatu terdapat ayat (tanda) yang menunjukkan bahwasanya Allah itu Esa.

Penutup

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin merupakan kalimat yang redaksinya khabari (pemberitahuan) sedangkan maknanya insya’I (menumbuhkan/memunculkan) sehingga ketika seseorang membaca hamdalah seolah-olah ia memberikan suatu pernyataan bahwa segala puji hanya bagi Allah yang memunculkan  pengertian ia memuji Allah, karena mengabarkannya seseorang tentang pujian termasuk bagian dari suatu pujian.  Alhamdulillaahirabbil’aalamiin merupakan kalimat mulia nan agung, sudah seyogyanya seorang muslim menjadikannya sebagai dzikir dalam kesahariannya dan diucapkan pada hal yang semestinya (pada tempatnya)

Syaikh Sirri As-Saqathi pernah berkata “sudah tiga puluh tahun aku melakukan istigfar kepada Allah karena  ucapan Alhamdulillah yang keluar dari mulutku” lalu beliau ditanya “bagaimana itu bisa terjadi?” beliau pun berkata “pada saat itu terjadi suatu kebakaran di Kota Bagdad, banyak sekali toko-toko yang terbakar ketika itu, lalu seseorang memberitahuku bahwa tokoku tidak terbakar, mendengar perkataan orang tersebut aku mengucapkan Alhamdulillah, yang berarti aku merasa senang karena tokoku tidak terbakar ketika orang lain tertimpa musibah, sejak saat itu aku melakukan istigfar kepada Allah atas ucapan Alhamdulillah yang keluar dari mulutku”.

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin terdiri dari delapan huruf seperti pintu surga yang memiliki delapan pintu, barang siapa yang mengucapkannya dengan hati yang bersih maka ia berhak memilih lewat pintu surga yang manapun ia kehendaki, demikian sebagian ‘aarifiin berkata. Lalu lewat pintu manakah kita memasuki surga? (Santri Kobong)

Wallahu a’lamu bis shawab


[1] Fakhruddin Ar-Razi, Mafaatihul Ghaib, hal.223

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *