Ada seorang laki laki tinggal di pinggiran kota mekkah, bukan di kota mekkahnya. Beliau tinggal didaerah dimana daerah tersebut warganya sangat membenci Rosulullah. Sebaliknya dengan beliau, rasa rindu dan cinta telah lama berkecamuk dalam dadanya. Rindu begitu teramat pada Rosulullah. Melihat warga sekitarnya membenci ditambah rasa rindunya maka ia pun berniat untuk hijrah ke Madinah.
Beliau adalah orang kaya. Tanah, pertokoan, rumah dan lainya beliau miliki. Namun, beliau rela meninggalkan semuanya untuk berhijrah ke Madinah. Beliau membawa perbekalan yang bisa dibawa. Uang, makanan, pakaian, onta dan perlengkapan lainya. Setelah semua selesai, beliau memantau keadaan luar. Jangan sampai warga tau. Jikalau tau pasti akan diinterogasi dan lebih parahnya dicegah. Beliau pun mengendap-endap sedikit demi sedikit. Sampai pada keluar dari daerah tersebut. Rasa lega menyejukan hatinya. Berlanjutlah perjalanan dengan hati tenang dan gembira membayangkan segera bertemu Rosulullah di Madinah.
Di tengah perjalanan, beliau bertemu sekitar 4 atau 5 orang dari daerahnya. Lalu mereka menginterogasi.
“mau kemana kau?”
“aku mau ke suatu daerah”
“kemana?”
“ke sana ke suatu daerah”
“pasti kau mau berhijrah ke madinah”
setelah berkelat, lalu beliau pun mengakui jika hendak ke madinah, tetapi mereka mencegah
“pulang saja kau, cepat pulang saja”
Beliau kecewa dan rasanya berat padahal sudah bermekaran hatinya. Karena sangking rindunya, beliau bernegosiasi agar tidak dicegah ke Madinah.
“Hei kalian, tidak ada untungnya untuk kalian aku pulang atau tidak. Keadaanya akan sama saja seperti hari biasa. Tetapi jika kalian melepaskan aku hijrah ke Madinah, hartaku aku tinggalkan di sana. Kalian bisa pulang dan mengambil semuanya. Ada toko, rumah, tanah dan yang lainya”
kemudian para pencegat ini berunding,
“Sebentar kami berunding dulu”, setelah selesai berunding mereka menghasilkan keputusan yang keji
“Ya, kami terima tawaranmu, asalkan apa yang kau bawa juga untuk kami”,
Dzul Bijadain ingin segera hijrah dan tidak ingin berkelat. Maka beliau menyetujui tawaran tersebut. Perbekalan uang, makanan, pakaian semua dikasihkan.
“Untamu juga kami ambil”, diturutilah permintaan mereka. Kejamnya lagi setelah semua diberikan, Dzul Bijadain dilucuti pakaiannya sampai hanya tersisa dua kain penutup aurat dari pusar hingga lutut.
Beliau melanjutkan perjalanan panjangnya dengan kondisi ala kadarnya. Tak ada minum makan bahkan pakaian hanya dua kain. Perjalanan Mekkah – Madinah saja seperti Surabaya – Jakarta, beliau menempuh dengan jalan kaki berhari-hari. Jika menemukan sumur, beliau minum sebanyak-banyaknya untuk menguatkan diri. Jika menemukan perkampungan beliau meminta makanan atau meminta susu untuk menyambung ruhnya. Prinsipnya, beliau harus kuat sampai bertemu Rosulullah. Dua kain yang dikenakan tak lagi berwarna, kumal dan kotor. Tubuhnya sudah tidak karu- karuan.
Sampailah beliau masuk ke kota Madinah. Beliau sangat bergembira akhirnya sampai pada kota tempat tinggal Rosulullah yang sangat dirindukan. Namun beliau bingung karena tidak ada kenalan, tidak tau tempat dan tidak tau daerahnya. Dalam hatinya bertanya,
“dimana tempat Rosulullah, bagaimana aku bisa berjumpa denganya, bagaimana Rosulullah mau bertemu dengan saya dengan keadaan seperti ini?”
Rasa rindu yang membuncak membuatnya terus maju. Dengan bertanya ke siapa saja, beliau mencari tempat Rosulullah.
Rosulullah sedang berada di Masjid bersama para sahabat. Dzul Bijadain akhirnya sampai di gerbang Masjid. Rosulullah mengetaui perjuangan beliau dari bisikan malaikat. Maka Rosulullah langsung keluar, berjalan bahkan setengah berlari menyambut kedatangan Dzul Bijadain. Setelah dekat Rosulullah berseru menyambut dengan wajah gembira dan penuh suka cita.
“Ahlan wa sahlan wa marhaban ya dzul bijadain ( si pemilik dua kain ), aku telah mendengar kabar tentang perjuanganmu untuk sampai ke sini”
Dzul Bijadain gembira tak terkira, seakan sirna semua perjuangan dan pengorbanan yang telah dilalui. Beliau merasa mendapat lebih dari apa yang diharapkan.
Dzul Bijadain hidup di Madinah dan menjadi sahabat Rosulullah yang begitu dicintai Rosulullah. Beliau meninggal setelah perang Khaibar tetapi bukan karena perangnya. Setelah perang beliau sakit panas yang menyebabkan meninggal. Meninggalnya beliau membuat Rosulullah sangat sedih sampai-sampai saat pemakaman Dzul Bijadain, Rosulullah yang turun sendiri ke liang lahad untuk menerima jenazahnya. Kemudian Rosulullah berdoa, “Wahai ALLAH sesungguhnya aku Ridho pada Dzul Bijadain, maka Ridhoilah dia Ya ALLAH”. Sahabat-sahabat yang menyaksikan iri padanya, andaikan aku adalah jenazah itu.
Barangsiapa yang cinta kepada Rosulullah maka Rosulullah akan membalas lebih. Beliau tau siapa siapa yang mencintainya. Bahkan Rosulullah telah merindukan kita dari 14 abad yang lalu sebelum kita dilahirkan di dunia. Kita telah didoakan dalam sujud panjangnya. Jika Nabi lain diberikan doa doa yang mustajab. Rosulullah menyimpanya untuk dipersiapkan nanti untuk mensyafaati umatnya.
Jika ada cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka itu tidak berlaku saat kita cinta pada Rosulullah saw
Dikisahkan oleh Ustadzah Halimah Alaydrus (Majelis Ahbabuz Zahro-Jakarta, alumni Daruz zahro, Tarim) dalam sebuah majelis Ya’lim di Tegal.
Oleh : Falahunnisa Nurul Azmi (Keperatawatan Gigi / KMNU UGM)