Memafkan merupakan tindak mulia yang diajarkan oleh Islam. Saling memaafkan, memberi maaf dan meminta maaf. Karena sebagai manusia tidak mungkin lepas dari yang namanya salah dan khilaf. Kesalahan itu terkadang datang karena disengaja maupun karena tidak disengaja. Dengan saling memaafkan maka akan tercipta kedamaian dan kerukunan. Walaupun mungkin ada perbedaan namun perbedaan itu fitrah dan tidak perlu dipermasalahkan. Karena hakikatnya semua manusia berasal dari sumber yang sama, yaitu tanah. Maka contohlah kearifan tanah yang tiada punya dendam kepada apapun. Itulah tema yang disampaikan oleh Al Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf pada saat acara Glodogan Berdzikir dan Bersholawat, Ahad 13 September 2015, ba’da Isya’ kemarin.
Di hadapan ribuan jama’ah yang memadati lapangan desa Glodogan, Klaten Selatan, Klaten, Habib dari Solo ini juga mengajak Ahbaabul Musthofa -panggilan untuk jama’ah beliau- dan kepada Syekhermania -panggilan untuk para penggemar berat beliau- untuk menyebarkan salam. Saling mencintai sesama manusia dimana pun berada. Mengajak kepada kebaikan dengan cara yang baik dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik pula. Andai kita tidak suka dengan seseorang maka doakanlah agar dia mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Karena Islam itu adalah ajaran damai sebagai perwujudan dari Islam Rahmatan Lil ‘Alamain. Saling membenci dan dendam dalam Islam hanya akan merobohkan Islam itu sendiri.
Dalam hidup berkeluarga terutama, memaafkan termasuk elemen terpenting untuk keutuhan hidup berumah tangga. Pastilah tidak bisa dipungkiri bahwa antara suami dengan istri, antara bapak dengan anak, antara ibu dengan anak, begitu juga sebaliknya dan dengan anggota keluarga lainnya ada gesekan-gesekan itu. Dan sebaik-baik keluarga adalah adanya saling memaafkan dan saling menyayangi. Jangan sampai dia ahli sholat, ahli puasa dan ahli ibadah lainnya tapi di rumah tidak pernah baik dengan ibu dan bapaknya. Namun ada kalanya, seseorang akan mencaci maki dahulu, hingga puas kemudian baru memaafkan. Itu pun juga tidak baik, alangkah baiknya mampu mengendalikan diri.
Menjelang pilkada, Habib Syekh mengajak kepada warga Klaten, khususnya kepada Pecinta Sholawat untuk tidak terprovokasi. Jangan pula menebarkan isu-isu yang bisa memprovokasi umat. Janganlah seperti itu, jangan menggunakan cara-cara kotor untuk mencapai tujuan. Tidaklah mungkin kita mati karena miskin atau pun karena lapar. Jika kita berusaha dengan baik dan berdoa pada Allah, InsyaAllah, Allah akan mencukupi kebutuhan kita. Beliau berpesan agar selalu mengikuti jejak para kyai dan habaib, atau istilahnya ngelmu nunut. Termasuk untuk ikut pemerintah dalam penetapan jatuhnya Hari Raya Idul Adha. Meskipun ada sebagian umat Islam di Indonesia yang berbeda dalam pelaksanaan Sholat Idul Adha. Karena saat ini pemerintah kita masih merupakan pemerintah yang baik dan patut untuk diikuti. (Minardi Lazisnu Klaten)