Potensi sumber daya perikanan dan kelautan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekitar 75 % dan selama ini sudah memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap pembangunan nasional. Baik kita sadari atau tidak sekarang kita sudah memasuki MEA, Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016 dimana proses transformasi global bertumpu pada teknologi yang semakin canggih dan perdagangan bebas. Di sisi lain kita berhadapan dengan problematika yang sangat fundamental tentang bagaimana cara kita untuk dapat menyelesaikan krisis ekonomi yang menjajah negeri ini sejak tahun 1997. Ironisnya sering kita jumpai kesenjangan antara harapan dan fakta dalam pemanfaatan sumber daya perikanan dan kelautan. Sudah menjadi kewajiban bagi kita, mulai dari sekarang harus memikirkan upaya untuk menjemput peluang yang ditawarkan secara global dari sektor utama bangsa Indonesia yakni perikanan dan kelautan. Memang tidak sederhana dan sesederhana kita membalikkan kedua telapak tangan, karena yang harus kita persiapkan adalah peningkatan efisiensi ekonomi, pengembangan teknologi, potensi sumber daya manusia, dan tenaga kerja dalam peningkatan kontribusi yang signifikan untuk pembangunan nasional.
Menurut Prof. DR. IR.H.Tridoyo Kusumastanto, MS bahwa potensi wilayah pesisir dan lautan Indonesia dipandang dari segi fisik, terdiri atas perairan nusantara seluas 2.8 juta km² dan laut teritorial seluas 0.3 juta km². Perairan nasional seluas 3,1 juta km², luas daratan sekitar 1,9 juta km², luas wilayah nasional 5,0 juta km², luas ZEE (Exlusive Economic Zone) sekitar 3,0 juta km², panjang garis pantai lebih dari 81.000 km dan jumlah pulau lebih dari 18.000 pulau. Dari segi pembangunan potensi wilayah pesisir dan laut indonesia di antaranya adalah sumber daya yang dapat diperbarui contohnya perikanan tangkap, aquacultur, dan pengolahan pasca panen hasil perikanan. Sumber daya yang tidak dapat diperbarui contohya adalah hasil tambang. Kemudian energi kelautan seperti wave, current, tide, dan wind. Selain itu juga jasa lingkungan seperti kegiatan pariwisata, perhubungan kelautan dan pelabuhan.
Hasil dari sektor perikanan Indonesia atau renewable resource di antaranya meliputi peikanan laut seperti ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil, ikan demersal, budi daya air payau melalui kegiatan tambak di daerah pesisir serta marikultur (budi daya di laut). Sumber daya yang tidak dapat diperbarui (non renewable resource) dari hasil penelitian BPPT (1998) dari 60 cekungan minyak yang terkandung dalam alam Indonesia, sekitar 70% atau sekitar 40 cekungan terdapat di laut. Dari 40 cekungan itu 10 cekungan telah diteliti secara intensif, 11 baru diteliti sebagian, sedangkan 29 belum terjamah. Jika sumberdaya tersebut dioptimalkan pemanfaatannya, Indonesia pasti akan menjadi negara hebat. Padahal kita ketahui bahwa Indonesia tidak hanya memiliki sektor perikanan dan kelautan dalam pembangunan nasional, namun juga memiliki sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan yang potensial untuk menunjang pembangunan nasional.
Posisi Indonesia yang strategis terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudra (Pasifik dan Hindia) memberikan poin utama dalam jalur perekonomian dunia. Didukung dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 60% bermukim di wilayah pesisir menjadi pusat kegiatan ekonomi seperti perdagangan, pariwisata, budi daya, dan lain-lain. Salah satu persoalan mendasar dalam pembangunan dari sektor perikanan adalah rendahnya pendidikan dan tingginya angka kemiskinan di wilayah pesisir. Kehidupan masyarakat nelayan dan petani tambak sangat tergantung dengan kondisi lingkungan dan rentan pada kerusakan baik pencemaran atau degradasi serta sangat tergantung pada musim penangkapan serta persoalan-persoalan lainnya dari kelompok masyarakat nelayan adalah ketergantungan terhadap pasar.
Kondisi demikian mempunyai implikasi yang sangat penting yaitu masyarakat nelayan sangat peka terhadap fluktuasi harga. Sehingga perubahan harga yang kecil sekalipun dapat mempengaruhi kondisi sosial masyarakat nelayan di wilayah pesisir. Persoalan inilah yang menjadi perhatian kita, melalui pendidikan serta pengabdian terhadap masyarakat diharapkan mampu memberikan solusi atas kompleksnya persoalan yang harus kita selesaikan bersama. Pembangunan ekonomi berbasis sumber daya lokal, local economic development, merupakan sebuah kebijakan ekonomi baru berbasis masyarakat new community – Cased economic. Dengan demikian akan tercipta interdependesi ekonomi lokal dalam konteks ekonomi global. Dalam perspektif ekonomi regional, wilayah pesisir menjadi pondasi penting serta kekuatan dalam pembangunan nasional. Kekuatan tersebut yaitu Natural resources advantages atau imperfect factor mobility.
Secara faktual di wilayah pesisir terdapat keunggulan lokal yang khas seperti keunggulan sumber daya mangrove, terumbu karang, padang lamun. Kedua adalah economic of concentralion atau imperfect diversibility melalui kegiatan usaha berdasarkan skala ekonomi umumnya terjadi pengelompokan industri sejenis (cluster of industry) misalnya industri pengalengan ikan.
Pesantren merupakan lembaga penting dalam masyarakat dan menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sehingga dalam pembangunan ekonomi “local economic development” atau pembangunan sumber daya lokal berbasis masyarakat new community – Cased economic. Santri selain bidang keagamaan ilmu amali dan amal ilmi dengan kemampuan sains dan teknologi, menjadi elemen utama dalam pembangunan nasional wilayah pesisir dari sektor perikanan dan kelautan.
Inilah tanggung jawab para santri yang juga mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Mereka menjadi harapan untuk kemajuan dan pembangunan nasional di masa mendatang.(A. Nur Hijayat/Mahasiswa MSP IPB)