{"id":872,"date":"2017-07-16T15:42:03","date_gmt":"2017-07-16T15:42:03","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=872"},"modified":"2017-07-16T15:42:03","modified_gmt":"2017-07-16T15:42:03","slug":"kh-anwar-zahid-isi-tabligh-akbar-dan-program-ayomondok-di-negeri-jiran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2017\/07\/16\/kh-anwar-zahid-isi-tabligh-akbar-dan-program-ayomondok-di-negeri-jiran\/","title":{"rendered":"KH. Anwar Zahid Isi Tabligh Akbar dan Program #AyoMondok di Negeri Jiran"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kuala Lumpur,\u00a0<\/strong><strong><em>KMNU Online<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Ahad (27\/11), Ribuan warga Indonesia yang bermukim di Malaysia dari berbagai elemen dan golongan berbondong-bondong hadir di pelataran Safuan Plaza, Chowkti. Pagi itu para hadirin berkumpul dalam acara Tabligh Akbar bertanjuk ke-Aswaja-an, &#8220;Menjaga Tradisi Keilmuan dan Akhlakul Karimah&#8221;. Tabligh akbar ini menghadirkan dai kondang KH. Anwar Zahid sebagai penceramah dalam acara tersebut. Turut hadir pula dalam acara tersebut tokoh-tokoh masyarakat dan nahdliyin di antaranya, Ketua Pertubuhan Nahdlatul Ulama Selangor dan Kuala Lumpur, Ustadz Ahmad Rofi\u2019i, Rais Syuriyah PCINU Malaysia, Ustadz Liling Sibromilisi, Plt Ketua Tanfidz PCINU Malaysia, Ustadz Ihyaul Lazib, dan turut hadir juga Minister Kaunselor Pensosbud Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur, bapak Trigustono Supriyanto.<\/p>\n<p>Dalam tausiahnya, pengasuh Pondok Pesantren Attarbiyah Islamiyah Assyafi&#8217;iyah, Bojonegoro ini mengajak dan mendorong warga Indonesia di Malaysia agar senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah. \u201cJika kita semua merindukan surga dan takut panasnya api neraka, maka satu satunya jalan untuk kita adalah mendekatkan diri kepada Allah,\u201d tegas Kyai Anwar.<\/p>\n<p>Beliau juga menjelaskan tentang pentingnya hubungan ilmu dan akhlak. Dalam ceramahnya beliau mengajak masyarakat agar sebisa mungkin setelah mempelajari ilmu kemudian mempraktikkannya ke dalam kehidupan nyata meskipun hanya sedikit. Beliau juga menegaskan bahwa tradisi keilmuan yang diwariskan oleh para nabi\u00a0 perlu direalisasikan dalam kehidupan nyata dengan berakhlakul karimah. \u201cTanpa akhlak, ilmu seseorang tidak akan ada nilainya,\u201d imbuh beliau.<\/p>\n<p>Beliau menganjurkan para jamaah yang hadir agar menghindari dari kebiasaan menyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Manfaatkan waktu sebaik-baik untuk ibadah pada Allah. Perbanyak membaca Al Quran. Jika tidak bisa membaca Al Quran satu juz dalam sehari, kurangilah menjadi setengah juz. Jika dirasa masih sulit, maka setidaknya satu surat terpendek. \u201cKalau tidak mampu hanya membaca setengah halaman Al Quran,\u00a0<em>y<\/em><em>owes Qulhu ae Lek!!??<\/em>\u201d teriak sang Kiai disambut gelak tawa para hadirin.<\/p>\n<p>Beliau juga menekankan agar dalam mencari perkara dunia seharusnya tidak sampai melupakan perkara akhiratnya terutama sisi ibadahnya.<\/p>\n<p>&#8220;Cari\u00a0<em>duit<\/em>\u00a0silahkan. Namun itu hanya sarana untuk kemudahan dalam beribadah. Jika sudah dapat\u00a0<em>duit<\/em>\u00a0banyak\u00a0<em>ya<\/em>\u00a0harus dirohanikan. Yakni disalurkan kepada yang berhak, untuk biaya anak, keluarga, madrasah, sarana ibadah contohnya, karena hartamu dan\u00a0<em>duit<\/em>-mu sebagian memang harus dilepas&#8221;, tutur Kyai yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Langitan, Tuban ini.<\/p>\n<p>Bapak Ihyaul Lazib, plt. selaku Ketua Tanfidz PCINU Malaysia tampak tersenyum lebar menanggapi pengajian yang mendapatkan respon positif dari ribuan warga Indonesia itu. \u201cKami sangat mengapresiasi kinerja dan semangat teman-teman panitia yang telah berupaya mewujudkan rangkaian acara Tabligh Akbar ini,&#8221; komentar beliau memuji para panitia. Sementara itu, Ketua Panitia Tabligh Akbar, Tamam Basith menyampaikan harapannya agar acara ini dapat mendekatkan warga Indonesia yang ada di Malaysia pada tradisi keilmuan dan keagamaan ulama salaf.<\/p>\n<p>Tidak hanya rangkaian Tabligh Akbar, acara ini juga diramaikan oleh tim pesantren dalam persembahannya mencanangkan Gerakan #AyoMondok. Tujuan tim pesantren ini adalah untuk mengajak masyarakat mengenal dunia kepesantrenan dengan menyediakan pelayanan informasi seputar pondok pesantren yang ada di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cDengan menyediakan\u00a0<em>booth<\/em>\u00a0informasi seputar pesantren ini, diharapkan masyarakat Indonesia yang ada di perantauan ini dimudahkan mengakses info terkait pesantren, tempat terbaik untuk mendidik anak-anaknya, baik yang masih ada di kampung maupun yang sedang ikut merantau,\u201d ungkap Uswah selaku bagian dari panitia tim pesantren.<\/p>\n<p>Adanya gerakan #AyoMondok dalam rangkaian acara Tabligh Akbar ini adalah sebagai wujud dari semangat pengabdian teman-teman KMNU Malaysia dalam mengapresiasikan penetapan Hari Santri Nasional 22 Oktober lalu. Diwakili ketua KMNU Malaysia, Alfin Mubarok, teman-teman KMNU berharap adanya keberlanjutan dari gerakan #AyoMondok ini. \u201cSaya berharap, akan ada kelanjutan dari program #AyoMondok ini, tidak hanya informasi seputar pesantren yang ada di Indonesia, namun juga yang ada di Malaysia,\u201d ujar Alfin.<strong>(Afif Ar.\/ el Naomiy)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuala Lumpur,\u00a0KMNU Online Ahad (27\/11), Ribuan warga Indonesia yang bermukim di Malaysia dari berbagai elemen dan golongan berbondong-bondong hadir di pelataran Safuan Plaza, Chowkti. Pagi itu para hadirin berkumpul dalam acara Tabligh Akbar bertanjuk ke-Aswaja-an, &#8220;Menjaga Tradisi Keilmuan dan Akhlakul Karimah&#8221;. Tabligh akbar ini menghadirkan dai kondang KH. Anwar Zahid sebagai penceramah dalam acara tersebut&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":874,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/872"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=872"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/872\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}