{"id":853,"date":"2016-10-15T15:24:23","date_gmt":"2016-10-15T15:24:23","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=853"},"modified":"2016-10-15T15:24:23","modified_gmt":"2016-10-15T15:24:23","slug":"kenapa-amr-selalu-dipukuli-zaid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2016\/10\/15\/kenapa-amr-selalu-dipukuli-zaid\/","title":{"rendered":"Kenapa &#8216;Amr Selalu Dipukuli Zaid?"},"content":{"rendered":"<p>Dalam mempelajari ilmu\u00a0<em>nahwu<\/em>\u00a0seringkali kita mendapatkan contoh kalimat\u00a0<em>dharaba zaidun &#8216;amron<\/em>\u00a0(<em>zaid\u00a0<\/em>memukul\u00a0<em>&#8216;amr<\/em>). Dari manakah kalimat tersebut berasal hingga sampai saat ini dikalangan santri masih sering terdengar contoh kalimat tersebut? Berikut ini kisah dibalik mengapa<em>\u00a0zaid<\/em>\u00a0selalu memukul\u00a0<em>&#8216;amr<\/em>\u00a0yang diambil dari kitab<\/p>\n<p><span dir=\"RTL\">\u0627\u0644\u0646\u0638\u0631\u0627\u062a \u0644\u0644\u0634\u064a\u062e \u0645\u0635\u0637\u0641\u0649 \u0644\u0637\u0641\u064a \u0628\u0646 \u0645\u062d\u0645\u062f \u0644\u0637\u0641\u064a \u0627\u0644\u0645\u0646\u0641\u0644\u0648\u0637\u064a \u0627\u0644\u0645\u062a\u0648\u0641\u0649 \u0661\u0663\u0664\u0663 \u0647\u062c\u0631\u064a\u0629 \u0628\u0645\u0635\u0631<\/span><\/p>\n<p>jilid 1 halaman 307.<\/p>\n<p>Dahulu kala ada seorang gubernur dari\u00a0<em>Daulah Usmaniyah<\/em>\u00a0bernama Dawud Basya. Beliau ingin sekali belajar bahasa Arab. Kemudian ia menghadirkan salah seorang ulama\u2019 dari ulama-ulama di negerinya. Suatu hari dia bertanya kepada ulama&#8217; tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Wahai guru, apa kesalahan si &#8216;<em>amr<\/em>\u00a0sehingga si\u00a0<em>zaid<\/em>\u00a0memukulnya setiap hari&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Apakah &#8216;<em>amr\u00a0<\/em>mempunyai kedudukan lebih rendah dari\u00a0<em>zaid<\/em>\u00a0sehingga\u00a0<em>zaid<\/em>\u00a0bebas memukulnya, menyiksanya, dan &#8216;<em>amr<\/em>\u00a0tidak bisa membela dirinya&#8221; Si gubernur menanyakan hal tersebut dengan menghentakkan kakinya ke tanah sambil marah-marah.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak ada yang dipukul , tidak ada yang memukul wahai gubernur, ini hanya permisalan saja yang dibuat ulama&#8217;\u00a0<em>nahwu<\/em>\u00a0supaya memudahkan untuk belajar ilmu bahasa arab tersebut&#8221; jawab gurunya.<\/p>\n<p>Jawaban sang guru tidak memuaskan hati sang gubernur, oleh karena itu ia marah lalu ia memenjarakan gurunya tadi. Kemudian ia menyuruh orang untuk mencari ulama&#8217; nahwu yang lain. Pertanyaan yang sama diajukan seperti pertanyaan awal dan mereka menjawab dengan jawaban seperti ulama&#8217; yang pertama. Gubernur kembali tidak puas, akhirnya guru barunya pun ikut dipenjarakan.<\/p>\n<p>Satu per satu ulama&#8217; negeri itu tidak bisa memuaskan gubernur dengan jawabannya. Alhasil, penuh lah penjara dengan pengajar\u00a0<em>nahwu<\/em>\u00a0dan sunyi lah madrasah-madrasah dari para pengajar dikarenakan para ulama&#8217;nya dipenjara. Kejadian ini menjadi perbincangan dimana-mana dan semuanya berusaha bagaimana mencari jalan keluarnya.<\/p>\n<p>Sang gubernur kembali mencari guru dengan mengutus utusan untuk menjemput para ulama\u2019-ulama\u2019 ahli bahasa di Baghdad. Sang utusan berhasil menghadirkan ulama&#8217; dari Baghdad di hadapannya. Beliau adalah pimpinan ulama\u2019 yang paling \u2018alim dari\u00a0 para ulama&#8217; di Baghdad. Sang ulama\u2019 berani maju ke depan dan berkenan menjawab pertanyaan gubernur tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Apa kesalahan &#8216;<em>amr<\/em>\u00a0sehingga selalu dipukul oleh\u00a0<em>zaid<\/em>\u00a0?&#8221; tanya Gubernur Dawud.<\/p>\n<p>&#8220;Kesalahan\u00a0<em>&#8216;amr<\/em>\u00a0adalah karena ia telah mencuri huruf\u00a0<em>wawu<\/em>\u00a0yg seharusnya itu milik anda wahai gubernur. Huruf\u00a0<em>wawu<\/em>\u00a0yang saharusnya ada dua pada kata dawud ternyata cuma ada satu, oleh karenanya para ulama\u2019\u00a0<em>nahwu<\/em>\u00a0menugaskan si\u00a0<em>zaid\u00a0<\/em>untuk selalu memukul\u00a0<em>&#8216;amr<\/em>, sebagai hukuman atas perbuatannya itu.&#8221; Jawab pimpinan ulama&#8217; dengan tegas, sambil mengisyaratkan adanya huruf\u00a0<em>wawu\u00a0<\/em>di kalimat &#8216;<em>amr<\/em>\u00a0setelah huruf\u00a0<em>ro&#8217;<\/em>\u00a0(<span dir=\"RTL\">\u0639\u0645\u0631\u0648<\/span>).<\/p>\n<p>Mendengar jawaban dari ulama\u2019 tersebut, sang\u00a0 gubernur merasa sangat puas dan memuji ulama\u2019 tersebut. Kepuasan hati sang gubernur membuatnya ingin memberikan hadiah. Ia menawarkan hadiah apa saja yang ulama&#8217; tersebut kehendaki. Permintaan ulama\u2019 tersebut sederhana.<\/p>\n<p>&#8220;Aku hanya minta agar para ulama\u2019 yang anda penjarakan dibebaskan semuanya&#8221; kata sang ulama.<\/p>\n<p>Maka gubernur mengabulkan permintaannya. Akhirnya para ulama&#8217; itu bebas dari penjara. Ulama&#8217;-ulama&#8217; dari Baghdad tadi diberi hadiah sekaligus diberi uang transportasi dan diantar kembali ke negeri mereka. (Bukhori Zainun\/Eff)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam mempelajari ilmu\u00a0nahwu\u00a0seringkali kita mendapatkan contoh kalimat\u00a0dharaba zaidun &#8216;amron\u00a0(zaid\u00a0memukul\u00a0&#8216;amr). Dari manakah kalimat tersebut berasal hingga sampai saat ini dikalangan santri masih sering terdengar contoh kalimat tersebut? Berikut ini kisah dibalik mengapa\u00a0zaid\u00a0selalu memukul\u00a0&#8216;amr\u00a0yang diambil dari kitab \u0627\u0644\u0646\u0638\u0631\u0627\u062a \u0644\u0644\u0634\u064a\u062e \u0645\u0635\u0637\u0641\u0649 \u0644\u0637\u0641\u064a \u0628\u0646 \u0645\u062d\u0645\u062f \u0644\u0637\u0641\u064a \u0627\u0644\u0645\u0646\u0641\u0644\u0648\u0637\u064a \u0627\u0644\u0645\u062a\u0648\u0641\u0649 \u0661\u0663\u0664\u0663 \u0647\u062c\u0631\u064a\u0629 \u0628\u0645\u0635\u0631 jilid 1 halaman 307. Dahulu kala ada seorang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":854,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/853"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=853"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/853\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=853"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=853"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=853"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}