{"id":847,"date":"2015-03-03T15:19:22","date_gmt":"2015-03-03T15:19:22","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=847"},"modified":"2015-03-03T15:19:22","modified_gmt":"2015-03-03T15:19:22","slug":"perumusan-aqidah-aswaja-dalam-bidang-akidah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2015\/03\/03\/perumusan-aqidah-aswaja-dalam-bidang-akidah\/","title":{"rendered":"Perumusan Aqidah Aswaja dalam Bidang Akidah"},"content":{"rendered":"<p>Berdasarkan jawaban pada tuisan &#8220;<a href=\"http:\/\/kmnu.or.id\/konten-53-pengertian-ahlussunah-wal-jamaah.html\" data-cke-saved-href=\"http:\/\/kmnu.or.id\/konten-53-pengertian-ahlussunah-wal-jamaah.html\">Pengertian ASWAJA<\/a>&#8221;\u00a0bahwa manhaj (pola pemikiran) Aswaja dalam bidang aqidah didasarkan pada konsep Asy\u2019ariyah dan Maturidiyah. Siapakah sejatinya Imam Asy\u2019ari dan Imam Maturidi?<\/p>\n<p><strong>Biografi Abu al-Hasan al-Asy\u2019ari<\/strong><\/p>\n<p>Nama lengkap Imam Asy\u2019ari adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Musa Abdullah bin Qais al- Asy\u2019ari. Nama al-Asy\u2019ari merupakan nisbat terhadap Asy\u2019ar, nama laki-laki dari suku Qahthan yang kemudian menjadi nama suku di Yaman. Dari Suku Asy\u2019ar ini, lahir sahabat terkemuka dan dikenal sangat alim, sehingga termasuk salah satu fuqaha\u2019 di kalangan sahabat Nabi SAW, yaitu Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy\u2019ari, yang dilahirkan pada 22 tahun sebelum Hijriyah, dan wafat pada tahun 44 Hijriyah\/665 Masehi.<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=57#_ftn1\" name=\"_ftnref1\" data-cke-saved-href=\"#_ftn1\" data-cke-saved-name=\"_ftnref1\">[1]<\/a><!--more--><\/p>\n<p>Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy\u2019ari lahir di kota Bashrah pada tahun 260 H\/873 M dan wafat pada tahun 324 H\/936 M. Beliau besar di lingkungan keluarga yang mengikuti faham Ahlussunnah waljama\u2019ah. Ayahnya, Ismail seorang ulama ahli hadist yang menganut faham Ahlussunnah Waljama\u2019ah. Hal itu terbukti, bahwa ketika Ismail menjelang wafat, dia berwasiat agar al-Asy\u2019ari diasuh oleh al-Imam al-Hafizh Zakariya al-Saji, pakar hadist dan fiqih madzhab Syafi\u2019I yang sangat popular di kota Bashrah.<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=57#_ftn2\" name=\"_ftnref2\" data-cke-saved-href=\"#_ftn2\" data-cke-saved-name=\"_ftnref2\">[2]<\/a>\u00a0 Pada masa kecilnya, al-Asy\u2019ari selain berguru kepada al-Saji, dia juga menimba ilmu dari ulama\u2019-ulama\u2019 ahli hadist yang lain, seperti Abdurrohman bin Khalaf al-Dhabbi, Sahal bin Nuh al-Bashri, Muhammad bin Ya\u2019qub al-Maqburi dan lain-lain. Sehingga hal tersebut mengantarkan al-Asyari menjadi ulama yang menguasai hadist, tafsir, fiqih, ushul fiqih dan lain-lain.<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=57#_ftn3\" name=\"_ftnref3\" data-cke-saved-href=\"#_ftn3\" data-cke-saved-name=\"_ftnref3\">[3]<\/a><!--more--><\/p>\n<p>Setelah ayahnya meninggal dunia, ibu beliau menikah lagi dengan salah seorang tokoh Mu\u2019tazilah yang bernama Abu al-Jubba\u2019I \u2018(w. 304 H\/916 M). Awalnya Imam al-Asy\u2019ari sangat tekun mempelajari aliran Mu\u2019tazilah. Namun setelah beliau mendalami ajaran Mu\u2019tazilah, terungkaplah bahwa ada banyak celah dan kelemahan yang terdapat dalam aliran tersebut. Beliau menganut paham Mu\u2019tazilah hingga berusia 40 tahun. Karena itu beliau meninggalkan ajarna Mu\u2019tazilah, dan kembali kepada ajaran Islam yang murni, sesuai dengan tuntunan Rasul SAW dan teladan para sahabatnya.<\/p>\n<p>Kitab-kitab karya beliau yang diantaranya sampai kepada kita ialah :<\/p>\n<ol>\n<li>Al-\u2018Amad fi al-Ru\u2019yah<\/li>\n<li>Risalah Istihsan al-Khaudh fi \u2018Ilm al-Kalam<\/li>\n<li>Al-Luma\u2019 fi al-Radd\u2019ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida\u2019<\/li>\n<li>Maqalat al-Islamiyyah wa Ikhtilaf al-Mushallin<\/li>\n<li>Tafsir al-Qur\u2019an<\/li>\n<li>Risalah al-Iman<\/li>\n<li>Risalah Ahl al-Tsaghar<\/li>\n<li>Al-Ibanah \u2018an Ushul al-Diniyyah<\/li>\n<li>Mujarrad Maqalat al-Imam al-Asy\u2019ari<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=57#_ftn4\" name=\"_ftnref4\" data-cke-saved-href=\"#_ftn4\" data-cke-saved-name=\"_ftnref4\">[4]<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Adapun Madzhab al-Asya\u2019ari\u00a0 merupakan aliran teologis terbesar yang berkembang dan diikuti oleh mayoritas masyarakat dari dulu hingga sekarang. Hal itu juga tak terlepas dari peran-peran ulama\u2019 madzhab al-Asy\u2019ari yang gigih memperjuangkan madzhab beliau. Diantara tokoh-tokoh penting yang memiliki peranan besar dalam penyebaran dan sosialisasi madzhab al-Asy\u2019ari.<\/p>\n<ol>\n<li>Al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (338-403 H\/950-1013 M)<\/li>\n<li>Abu Bakar bin Furak (w. 406 H\/1015 M)<\/li>\n<li>Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418\/1027 M)<\/li>\n<li>Abu Manshur al-Baghdadi (w. 429\/1037 M)<\/li>\n<li>Abu al-Qasim al-Qusyairi (376-465 H\/986-1072 M)<\/li>\n<li>Imam al-Haramain al-Juwaini (419-478 H\/1028-1085 M)<\/li>\n<li>Hujjatul Islam al-Ghazali (450-504\/1058-1111 M)<\/li>\n<li>Abu al-Fath al-Syahrastani (479-548 H\/1086-1152 M)<\/li>\n<li>Fakhruddin al-Razi (544-606\/1150-1210 M)<\/li>\n<li>Saifuddin al-Amidi (551-631 H\/1156-1233 M)<\/li>\n<li>Izzuddin bin Abdissalam (577-660 H\/1181-1262 M)<\/li>\n<li>Taqiyuddin\u00a0 al-Subkhi (687-756 H\/1284-1355 M)<\/li>\n<li>\u2018Adhududdin al-Iji (708-756 H\/1308-1355 M)<\/li>\n<li>Muhammad al-Sanusi (832-895 H\/1428-1490 M)<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=57#_ftn5\" name=\"_ftnref5\" data-cke-saved-href=\"#_ftn5\" data-cke-saved-name=\"_ftnref5\">[5]<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><strong>Biografi al-Imam Abu Manshur al-Maturidi<\/strong><\/p>\n<p>Nama lengkapnya Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi al-Samarqandi, nisbah kepada Maturid, nama distrik di Samarkand, negeri yang terletak di seberabang sungai Amu Dariya (seberang sungai Jihun), daratan Transoxiana. Tidak ada data sejarah yang menginformasikan tahun kelahiranya secara pasti. Akan tetapi menurut dugaan kuat, dia dilahirkan pada masa khalifah al-Mutawakkil (205-247 H\/820-861 M), khalifah ke-10 dari dinasti Abbasiyah. Diperkirakan al-Matiridi lahir sekitar 20 tahun sebelum lahirnya al-Imam al-Asy\u2019ari. Secara geneologis, nasab Abu Mansur al-Maturidi masih bersambung dengan sahabat Nabi SAW dari kaum Anshar, yaitu Abu Ayyub al-Anshari (w. 52 H\/672 M).<\/p>\n<p>Al-Maturidi lahir di lingkungan keluarga ulama yang tidak diragukan lagi kecintaannya pada ilmu agama. Sehingga hal tersebut sangat mempengaruhi perkembangan intelektual al-Maturidi yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mencintai ilmu agama sejak usia dini. Dia mempelajari ilmu agama sejak usia dini dan agaknya, selain ditopang dengan kecerdasannya yang luar biasa, al-Maturidi juga seorang pelajar yang tekun dan gigih dalam menuntut ilmu, sehingga pada akhirnya mengantar reputasi intelektual al-Maturidi ke puncak kecermerlangan dengan menyandang beberapa gelar seperti, <em>Imam al-Huda<\/em> (pemimpin kebenaran), <em>Qudwat al-Sunnah wa al-Ihtida\u2019<\/em> (panutan pengikut sunnah dan petunjuk), <em>Rafi\u2019 A\u2019lam al-Sunnah wa al-Jama\u2019ah<\/em> (pengibar bendera sunnah dan jama\u2019ah), <em>Imam al-Mutakallimin<\/em> (penghulu para teolog) dan <em>Mushahhih \u2018Aqa\u2019id al-Muslimin<\/em> (korektor aqidah kaum muslimin). Gelar-gelar tersebut membuktikan posisi intelektual al-Maturidi yang sangat istimewa dalam pandangan murid-muridnya.<!--more--><\/p>\n<p>Karya-karya al-Imam al-Maturidi telah menulis banyak karangan, yang membuktikan kedalaman, kesuburan dan ilmu pengetahuannya. Menurut informasi yang ada, terdapat 17 judul karya al-Maturidi. Namun sayang sekali hanya sedikit yang sampai kepada generasi sekarang, diantaranya adalah :<\/p>\n<ol>\n<li>Ta\u2019wilat Ahl al-Sunnah<\/li>\n<li>Ma\u2019khadz al-Syarai\u2019 dan Kitab jadal<\/li>\n<li>Kitab al-Tauhid<\/li>\n<\/ol>\n<div>\n<hr \/>\n<div id=\"ftn1\">\n<ol>\n<li>K.H M. Idrus Ramli,<em> Pengantar Sejarah Ahlussunnah Waljama\u2019ah<\/em>, hlm.85.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<div id=\"ftn2\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=57#_ftnref2\" name=\"_ftn2\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref2\" data-cke-saved-name=\"_ftn2\">[2]<\/a> Al-Hafizh Ibn Asakir, <em>Tabyin Kidzb al-Muftari<\/em>, hlm. 35.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn3\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=57#_ftnref3\" name=\"_ftn3\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref3\" data-cke-saved-name=\"_ftn3\">[3]<\/a> K. H. M. Idrus Ramli, Pengantar Sejarah Ahlussunnah Waljama\u2019ah, hlm.88<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn4\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=57#_ftnref4\" name=\"_ftn4\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref4\" data-cke-saved-name=\"_ftn4\">[4]<\/a> <em>Ibid<\/em>, hlm.98-100.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn5\">\n<ol>\n<li><em>Ibid<\/em>, hlm. 101-106.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berdasarkan jawaban pada tuisan &#8220;Pengertian ASWAJA&#8221;\u00a0bahwa manhaj (pola pemikiran) Aswaja dalam bidang aqidah didasarkan pada konsep Asy\u2019ariyah dan Maturidiyah. Siapakah sejatinya Imam Asy\u2019ari dan Imam Maturidi? Biografi Abu al-Hasan al-Asy\u2019ari Nama lengkap Imam Asy\u2019ari adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":859,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,12],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/847"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=847"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/847\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=847"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=847"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=847"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}