{"id":836,"date":"2016-10-10T15:09:47","date_gmt":"2016-10-10T15:09:47","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=836"},"modified":"2016-10-10T15:09:47","modified_gmt":"2016-10-10T15:09:47","slug":"mukidi-sang-santri-islam-ndeso-yang-kaget-islam-kampus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2016\/10\/10\/mukidi-sang-santri-islam-ndeso-yang-kaget-islam-kampus\/","title":{"rendered":"Mukidi, Sang Santri &#8220;Islam Ndeso&#8221; yang Kaget &#8220;Islam Kampus&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong>Mukidi, Sang Santri \u201cIslam\u00a0<em>Ndeso<\/em>\u201d yang Kaget \u201cIslam Kampus\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Alkisah, di sebuah kampus, sebut saja UPJ (Univeristas Para Jomblo) ada seorang manusia biasa bernama Mukidi. Ia adalah seorang santri yang masih polos dan seorang santri\u00a0<em>ndeso.\u00a0<\/em>\u00a0Sebagai santri\u00a0<em>ndeso<\/em>, diterima di kampus favorit adalah suatu kebanggaan, apalagi UPJ adalah kampus ternama di daerahnya. Seleksi sangat ketat untuk diterima menjadi mahasiswa di UPJ. Mukidi sungguh beruntung diterima di kampus tersebut.<\/p>\n<p>Orientasi perguruan tinggi telah dilaksanakan beberapa minggu lalu, kuliah pun sudah aktif sejak selesainya masa orientasi. Watak Mukidi memang cukup keras, meskipun gayanya juga sangat kocak dan terkesan\u00a0<em>ngawur<\/em>, tapi itulah Mukidi, santri\u00a0<em>ndeso\u00a0<\/em>sang mahasiswa legendaris yang\u00a0<em>nyeleneh<\/em>. Berbekal ilmu dari Kiai dari desanya, walaupun\u00a0<em>nyeleneh<\/em>, ia tetap santun dan taat beribadah, ilmu agamanya juga bagus karena telah ditempa di pesantren di desanya.<\/p>\n<p>Berangkat dari pemahaman ke-Islam-an Mukidi yang\u00a0<em>ndeso\u00a0<\/em>yang apabila ada perbedaan, sang guru selalu mengatakan \u201cjangan kau salahkan mereka, mereka punya pedoman juga, perbedaan itu rahmat\u00a0<em>ngger<\/em>\u201d. Namun suasana yang terjadi di kampus megahnya berbeda dengan ademnya Islam\u00a0<em>ndeso.<\/em>\u00a0Mukidi merasa gelisah dengan ajaran Islam di kampus yang ia impikan.<\/p>\n<p>Pagi itu, dengan kesederhanaan dan mata\u00a0<em>kriyip-kriyip\u00a0<\/em>(mata mengantuk) Mukidi mengikuti mata kuliah agama Islam. Pemahaman tentang Islam yang kaku benar-benar Mukidi rasakan di kelas ini. Tak pelak akhirnya Mukidi\u00a0<em>eyel-eyelan\u00a0<\/em>dengan dosen karena berbeda faham dengannya tentang hukum \u201cwanita sholat Jum\u2019at\u201d. Mukidi\u00a0<em>ngeyel<\/em>\u00a0karena sang dosen \u201cmengharamkan\u201d praktek itu, padahal di desa Mukidi, praktek itu benar adanya dengan beberapa penjelasan. Rasa tidak\u00a0<em>srek\u00a0<\/em>Mukidi ke dosen itu ia ungkapkan waktu UAS mata kuliah tersebut. Mukidi masuk terlambat, 20 menit mengerjakan soal kemudian langsung mengumpulkan lalu keluar, padahal masih banyak waktu yang tersisa. Mukidi ingat ekspresi ibu itu saat menyapanya di luar kelas<\/p>\n<p>\u201cJawabanmu betul betul, tapi terlalu singkat. Kamu lulusan mana?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMadrasah (tuuuuuuuuut:sensor) bu\u201d, jawab Mukidi datar.<\/p>\n<p>\u201cO, pantes\u201d jawab ibu itu singkat sambil lalu.<\/p>\n<p>Kampus-kampus umum memiliki kegiatan sejenis bimbingan baca Qur\u2019an.\u00a0<em>Alhamdulillah<\/em>, di kampus Mukidi juga diwajibkan bagi mahasiswa baru. Biasanya yang menjadi\u00a0<em>murobi\u00a0<\/em>(mentor) adalah mahasiswa semester 3, 4, atau semester yang lebih tua dari itu. Nasib baik menimpa Mukidi, mengapa? karena mentor Mukidi seorang dosen, bukan mahasiswa. Minggu-minggu awal\u00a0<em>sih\u00a0<\/em>bagus-bagus saja ngajinya. Begitu minggu pertengahan semester pembahasan bukan lagi membahas tata cara baca Qur\u2019an tetapi lebih sering\u00a0<em>fiqh,\u00a0<\/em>ada apa? Singkat cerita, sampailah pada bab niat sholat (<em>usholli<\/em>) dan do\u2019a qunut pada sholat shubuh.\u00a0<em>Lah kok<\/em>\u00a0oleh mentor kesayangan Mukidi \u201camalan\u201dnya dari desa itu di anggap\u00a0<em>bid\u2019ah<\/em>\u00a0dan sesat, sontak Mukidi tidak terima.<\/p>\n<p>\u201cBuat apa baca\u00a0<em>Usholli\u00a0<\/em>kalok pulang sholat\u00a0<em>nyuri<\/em>\u00a0sandal,\u00a0<em>mending nggak\u00a0<\/em>baca\u00a0<em>usholli\u00a0<\/em>tapi pulang\u00a0<em>nggak\u00a0<\/em>mencuri\u201d, ungkap murobi itu.<\/p>\n<p>Sontak Mukidi kaget, spontan \u00a0dia menjawab \u201cmembandingkannya jangan dengan\u00a0<em>maling geh\u00a0<\/em>pak. Kalau sama-sama tidak mencuri baik mana?\u201d balas Mukidi.<\/p>\n<p>\u201cTapi baca\u00a0<em>usholli\u00a0<\/em>itu tidak diajarkan oleh Nabi, dan menambah sesuatu dalam sholat itu tidak boleh\u201d sang murobi memberi penjelasan.<\/p>\n<p>\u201cPak, sholatkan dimulai dari takbir. Jadi\u00a0<em>Usholli\u00a0<\/em>kan diluar sholat, kalau sebelum sholat saya boleh\u00a0<em>benerin\u00a0<\/em>baju, membaca Qur\u2019an, bahkan menyanyi juga boleh. Kenapa membaca\u00a0<em>Usholli\u00a0<\/em>tidak boleh? Padahal itu bagus untuk menata hati menyiapkan diri untuk sholat\u201d tegas Mukidi.<\/p>\n<p>\u201cBaiklah, itu memang diluar sholat. Lantas bagaimana dengan do\u2019a\u00a0<em>qunut<\/em>?\u201d sang\u00a0<em>murobi\u00a0<\/em>membuka masalah baru. Mungkin menghindari debat lebih jauh dengan Mukidi tentang\u00a0<em>Usholli.<\/em><\/p>\n<p>\u201cPak, didalam sholat-kan ada yang namanya sunnah\u00a0<em>hai-at\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>ab\u2019ad<\/em>\u201d Mukidi mencoba menjelaskan. Terjadilah perdebatan lucu (anda tahulah siapa pemenangnya, mentornya seorang dosen dan Mukidi hanya mahasiswa baru yang\u00a0<em>ndeso.\u00a0<\/em>Tapi, sang mentor tidak pernah belajar agama secara khusus dan Mukidi pernah\u00a0<em>numpang nginep\u00a0<\/em>di pesantren beberapa tahun hehe).<\/p>\n<p>Kecewanya Mukidi dengan dosen (<em>murobi<\/em>) itu membuatnya mengambil keputusan \u201cprotes\u201d yang nekat. Mukidi \u201cbolos\u201d saat Ujian Tengah Semester bimbingan membaca Qur\u2019an pada hari minggu di masjid kampus. Ia sengaja jalan-jalan ke pantai (maklum, masih remaja labil). Alhasil nilai bimbingan Mukidi hanya 67.50. Nilai itu adalah nilai terendah di kelompoknya, bahkan mungkin di program studi Mukidi. Padahal, (maaf) jika ditanding lomba baca Qur\u2019an,\u00a0<em>Insya Allah<\/em>\u00a0Mukidi yakin, melawan mentornya pun Mukidi menang tapi ya sudahlah, namanya juga hidup. Beruntung nilai akhir Mukidi \u00a0(30% nilai bimbingan Qur\u2019an\u00a0<em>plus\u00a0<\/em>70% nilai kuliah PAI) dapat A (meski Mukidi tidak tau dari mana, nilai 67.50 plus nilai UAS yang datang terlambat dan pulang pertama\u00a0<em>kok\u00a0<\/em>bisa A). Setidaknya itu jadi pelipur lara bagi Mukidi.<\/p>\n<p>Tulisan ini bukan untuk menghujat atau menghina kelompok lain. Penulis hanya ingin mengajak, ayo kita jadi orang Islam jangan\u00a0<strong>kaku,\u00a0<em>gumunan<\/em>, bingungan, protesan, kagetan,\u00a0<\/strong><strong>dsb<\/strong>. Bagaimana caranya? \u00a0Caranya dengan\u00a0<strong>terus ngaji, cari guru yang benar, hargai perbedaan.<\/strong>\u00a0(Rosihun, Eff)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mukidi, Sang Santri \u201cIslam\u00a0Ndeso\u201d yang Kaget \u201cIslam Kampus\u201d Alkisah, di sebuah kampus, sebut saja UPJ (Univeristas Para Jomblo) ada seorang manusia biasa bernama Mukidi. Ia adalah seorang santri yang masih polos dan seorang santri\u00a0ndeso.\u00a0\u00a0Sebagai santri\u00a0ndeso, diterima di kampus favorit adalah suatu kebanggaan, apalagi UPJ adalah kampus ternama di daerahnya. Seleksi sangat ketat untuk diterima menjadi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":837,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/836"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=836"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/836\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}