{"id":809,"date":"2015-03-03T16:32:57","date_gmt":"2015-03-03T16:32:57","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=809"},"modified":"2015-03-03T16:32:57","modified_gmt":"2015-03-03T16:32:57","slug":"peran-ulama-dalam-merebut-kemerdekaan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2015\/03\/03\/peran-ulama-dalam-merebut-kemerdekaan-indonesia\/","title":{"rendered":"Peran Ulama dalam Merebut Kemerdekaan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong>(Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Republik Indonesia)<\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Oleh : K.H. Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, PhD.<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Mengutip pernyataan beberapa pendapat Ulama Indonesia diantaranya, K.H. Abdul Mukti, Syech Musa dan K.H. Hasyim Asy\u2019ari Jombang bahwa pada saat itu:<\/p>\n<p>\u201c<em>Soekarno tidak mau memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia karena dihalangi Inggris, bahwa Indonesia akan dibuat seperti Hiroshima dan Nagasaki, tapi didorong dan didesak oleh para Ulama agar Soekarno berani segera memproklamirkan Kemerdekaan Negara dan Bangsa Indonesia, karena menurut pendapat para Ulama saat itu (bertepatan dengan hari jum\u2019at legi<\/em>\u00a0<em>tanggal 9 Ramdhon 1364 H bertepatan tanggal 17 Agustus 1945 M), apabila tidak segera Memproklamirkan Kemerdekaan Negara dan Bangsa kita sekarang, maka<\/em>\u00a0<em>kita harus menunggu kemerdekaan Negara dan Bangsa ini selama 300 tahun mendatang\u201d.<\/em><!--more--><\/p>\n<p><strong>Pembukaan<\/strong><\/p>\n<p>Proklamasi 17 Agustus 1945 atau 9 Ramadhan 1364, pada hari\u00a0<em>Jum\u2019at Legi,<\/em>\u00a0pukul 10.00 pagi merupakan puncak keberhasilan perjuangan umat Islam sebagai mayoritas bangsa Indonesia dalam upayanya membebaskan bangsa dan Negara dari penjajahan Barat dan Timur. Proklamator dengan dorongan para ulama di Puluhan Pertama Ramadhan sebagai\u00a0<em>Puluhan Rahmat.<\/em>\u00a0\u00a0\u00a09 Ramadhan 1364 berani membacakan proklamasi, tidak gentar terhadap Amerika Serikat yang mendemonstrasikan bom pemusnah masal.<\/p>\n<p>Dengan semangat Jihad, dan terpanggil oleh Bung Tomo melalui Pemberontakan, umat Islam melalui perlawanan terhadap usaha penjajahan kembali Belanda, yang dibantu oleh Inggris dan AS dalam\u00a0<em>Perang Gerilya<\/em>\u00a0(1945-1950). Walaupun Bersenjatakan\u00a0<em>Bambu Runcing\u00a0<\/em>yang dianugrahkan oleh\u00a0<strong>Kiai Subehi\u00a0<\/strong>dari magelang, Jawa Tengah. Umat Islam Bandung melancarkan serangan heroic, disertai dengan gerakan bumi hangus membakar rumah dan kota Bandung, hingga menjadi\u00a0<em>Bandung Lautan Api.<\/em>\u00a0Suatu keberanian yang luar biasa dan pengorabanan harta yang akbar disertai pengorbanan jiwa dan raga dalam membela serta menegakkan Proklamator 17 Agustus 1945.<!--more--><\/p>\n<p>Oleh Karena itu, kemerdekaan oleh para pendahulu, dinilai dan dituliskan dalam\u00a0<em>Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, terwujudnya hanya karena berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa,\u00a0<\/em>maka bangsa dan Negara Indonesia menjadi merdeka. Para ulama bersama pimpinan nasional sehari setelah Proklamasi, 18 Agustus atau 10 Ramadhan 1364, terdiri dari:<\/p>\n<ul>\n<li>K.H Wahid Hasyim (Nahdlatul Ulama)<\/li>\n<li>Ki Bagus Hadikusuma (Muhammadiyah)<\/li>\n<li>Kasman Singodimejo (Muhammadiyah)<\/li>\n<li>Mohammad Hatta (Sumatra Barat)<\/li>\n<li>Teuku Mohammad Hasan (Aceh)<\/li>\n<\/ul>\n<p>Berhasil merumuskan ideology Pancasila dan Konstitusi, Undang-Undang Dasar 1945, kemudian diserahkan untuk disyahkan kepada dan oleh\u00a0<em>Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia\u00a0<\/em>(PPKI) di Jakarta, pada hari dan tanggal yang sama, sabtu pahing, 18 Agustus atau 10 Ramadhan 1364.\u00a0<strong>Mungkinkah bangsa Indonesia merdeka, bila tanpa peran aktif para ulama?<\/strong><!--more--><\/p>\n<p><strong>Bahasa Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>Satu-satunya bangsa di Asia Tenggara yang menyatakan kemerdekaannya dengan\u00a0<em>bahasa sendiri hanyalah bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki Bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari jasa para Ulama.<\/em>\u00a0Agama Islam masuk dari Makkah ke Indonesia, dengan cara yang damai dan melalui jalan laut niaga, pada abad ke-7. Di pasa yang menggunakan nama hari-hari Islam:\u00a0<em>Pasar Senin, Rabu, Kamis, Jum\u2019at dan Ahad,\u00a0<\/em>berbahasa komunikasi dengan\u00a0<em>Bahasa Melayu Pasar.<\/em>\u00a0Rasulullah SAW sejak usia 8 hingga 40 tahun, sebelum menjadi Rasul, sebagai\u00a0<em>wiraniagawan<\/em>. Karena ulama sebagai\u00a0<em>warosatul ambiya\u2019,\u00a0<\/em>maka berpenghidupan sebagai\u00a0<em>wiraniagawan<\/em>\u00a0pula. Sebagai eksportir dan importer, seperti Wali Songo menetapkan wilayah dakwahnya dipantai-pantai.<!--more--><\/p>\n<p>Bahasa<em>\u00a0Melayu\u00a0<\/em>ini di\u00a0<em>Pesantren\u00a0<\/em>dikembangkan menjadi\u00a0<em>Bahasa Ilmu<\/em>. Setelah berdiri kekuasaan politik Islam atau\u00a0<em>Kesultanan<\/em>, digunkana sebagai\u00a0<em>Diplomatik<\/em>\u00a0yang dituliskan dengan\u00a0<em>Huruf Arab Melayu<\/em>. Walaupun dalam hubungan diplomatik dengan kerajaan asing lainnya. Di saat\u00a0<em>Gerakan Nasional\u00a0<\/em>(1900-1942), berubaha pula menjadi bahasa\u00a0<em>Bahasa Jurnalistik\u00a0<\/em>yang dipelopori dengan terbitnya bulletin\u00a0<em>Taman Pewarta\u00a0<\/em>(1902-1915) dari\u00a0<em>Sarikat Dagang Islam-<\/em>SDI. Di tengah gerakan budaya akan mengutamakan Bahasa Jawa dan nasionalisme Jawa, timbullah reaksinya\u00a0<em>Sumpa<\/em><em>h<\/em><em>\u00a0Pemuda<\/em>, lahirlah pernyataan anatara lain\u00a0<em>menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan<\/em>.<\/p>\n<p>Dari kenyataan sejarah yang demikian, George Mc Tuman Kahin, dalam\u00a0<em>nasionalism and Revolution Indonesia\u00a0<\/em>penggerak utama timbulnya\u00a0<em>Gerakan Nasional Indonesia artinya gerakan cinta agama, bangsa dan t<\/em><em>a<\/em><em>nah air, dipelopori ulama<\/em>\u00a0yang menjadikan Islam sebagai dasar pengikat kesatuan dan persatuan bangsa. Hal ini sebagai jawaban terhadap Penjajahan Barat yang menggunakan agama\u00a0<em>Katolik\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>Protestan\u00a0<\/em>sebagai\u00a0<em>motivasi\u00a0<\/em>gerakan\u00a0<em>imeperialisme\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>kapitalismenya.<\/em><!--more--><\/p>\n<p><strong>Negara Kesatuan Republik Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>Republik Indonesia berwilayah terbentang dari barat,\u00a0<em>Sabang<\/em>\u00a0hingga timur,\u00a0<em>Merauke<\/em>. Sebenarnya sama jarak dari barat,\u00a0<em>Greenwich London\u00a0<\/em>hingga timur,\u00a0<em>Baghdad Irak<\/em>. Dari utara,\u00a0<em>Kepulauan Talaud\u00a0<\/em>hingga selata\u00a0<em>Pulau Rote,\u00a0<\/em>sama dengan dari utara,\u00a0<em>Jerman\u00a0<\/em>hingga selata,\u00a0<em>Aljazair.<\/em><\/p>\n<p>Negara Eropa sebenarnya terdiri dari Negara yang kecil-kecil, Inggris dan Itali serta sama dengan Sumatra dengan pulau disekitarnya. Francis, Spanyol, Norwegia, hanya sama dengan Kalimantan Indonesia, dan Negara Gereja Katolk Vatikan, hanya seluas 0,442 km<sup>2<\/sup>. Sedangkan kerajaan Protestan Belanda, Belgia, Swiss hanya sama dengan Provinsi Jawa Barat. Di asia Tenggara, Singapura hanya seluas dengan DKI Jakarta.<\/p>\n<p>Matahari untuk menyinari seluruh Nusantara Indonesia, harus terbit tiga kali. Dampaknya terjadi perbedaan tiga waktu: Waktu Indonesia Barat. Dan WAktu Indonesia Tengah, 1 jam dari Waktu Indonesia Barat. Selain pasti disyukuri, Indonesia memiliki laut terbesar dari pada Negara manapun di dunia.<!--more--><\/p>\n<p>Kondisi geogarfi yang demikian, dimanfaatkna oleh penjajah, untuk melahirkan gerakan separatis yang menghendaki negera federalis. Gerakan ini dipimpin penjajahan Kerajaan Protestan Belanda,\u00a0<em>Van Mook<\/em>. Maka para pendahulu Republik Indonesia. Keputusan yang demikian ini, tidak dapat dilupakan jasa,\u00a0<em>Mohammad Natsir<\/em>, dari Persatuan Islam<em>, Jong Islamieten Bond,\u00a0<\/em>Parpol Masyumi sebagai Perdana Mentri NKRI, 17 Agustus 1950.<\/p>\n<p><strong>Sangsaka Merah Putih<\/strong><\/p>\n<p>Dakwah ulama didarat dan dilaut tidak hanya mengajarkan Al-Qur\u2019an dan Hadits ritualnya melainkan dengan Al-Qur\u2019an dan Hadits itu pula, mengajarkan pembudayaan warna bendera\u00a0<em>Sang\u00a0<\/em><em>m<\/em><em>erah Putih\u00a0<\/em>yang bermula dari bendera Rasulullah SAW. Sebagai umat Islam sukar mengerti bahwa\u00a0<em>Bendera Rasulullah SAW\u00a0<\/em>terdiri dari dua unsur warna\u00a0<em>Merah Putih\u00a0<\/em>. hal ini terjadi sebagai akibar adanya system\u00a0<em>deislamisasi<\/em>\u00a0dalam penulisan sejarah Indonesia. Dampaknya dapat dikisahkan bahwa\u00a0<em>Merah Putih<\/em>\u00a0bukan warna bendera\u00a0<em>Rasulullah SAW.<\/em>penulisan yang demikian itu untuk mendiskreditkan umat Islam dan dinyatakan bahwa tidak memiliki andilnya dalam upaya dan perjuangan Indonesia Merdeka. Termasuk dalam penentuan piranti persatuan dan kesatuan yakni\u00a0<em>Bahasa Indonesia\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>Sang Saka Merah Putih.<\/em><!--more--><\/p>\n<p>Padahal\u00a0<em>Sang Saka Merah Putih<\/em>\u00a0berasal dari Rasulullah SAW yang dikembangkan oleh umat Islam Indonesia, sejak abad ke-7 hingga menjadi milik bangsa dan Negara Indonesia. Tentu sukar memahaminya, baiklah disini kita kaji kembali penuturan Imam Muslim dalam Shahihnya Kitab\u00a0<em>Al Fitan<\/em>, jilid X halaman 340: \u201c<em>Dari hamisy Qasthalani yang memperoleh beritanya dari Zubair bin Harb, Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna, Ibnu Basysyar, Mu\u2019adz bin Hisyam, Qatadah, Abu Qalahh, Abu Asam \u2018Ar Rahabiy, Tasuban bahwa Rasulullah SAW bersabda:<\/em><\/p>\n<p dir=\"rtl\"><span dir=\"RTL\">\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0632\u064e\u0648\u064e\u0649 \u0644\u0650\u0649\u064e \u0627\u0644\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u064e \u0641\u064e\u0631\u064e\u0623\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f \u0645\u064e\u0634\u064e\u0627\u0631\u0650\u0642\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0645\u064e\u063a\u064e\u0627\u0631\u0650\u0628\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0623\u064f\u0645\u0651\u064e\u062a\u0650\u0649 \u0633\u064e\u064a\u064e\u0628\u0652\u0644\u064f\u063a\u064f \u0645\u064f\u0644\u0652\u0643\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0627 \u0632\u064f\u0648\u0650\u0649\u064e \u0644\u0650\u0649 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0623\u064f\u0639\u0652\u0637\u0650\u064a\u062a\u064f \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0646\u0652\u0632\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0623\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0631\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0623\u064e\u0628\u0652\u064a\u064e\u0636\u064e<\/span><\/p>\n<p><em>\u201cSesungguhnya Allah SWT telah memperlihatkan dunia kepadaku, aku<\/em>\u00a0<em>ditunjukkan pula timur dan baratnya. Kerajaan dunia akan sampai kepada umatku seperti apa yang diperlihatkan kepadaku dan aku dianugrahi warna yang Saka Merah Putih\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Tentu umat Islam Indonesia mengenal ajaran\u00a0<em>Merah Putih\u00a0<\/em>diatas, sejak awal masuknya agama Islam ke nusantara pada abad ke-6 M. Sejak itu pula umat Islam akrab sekali dengan warna\u00a0<em>merah<\/em>.tidah tahu terhadap warna merah seperti sekarang ini. Karena Islam juga mengajarkan bahwa isteri Nabi dari Nabi adam AS, hingga Rasulullah SAW disebut merah. Misalnya Siti Hawa RA artinya Merah.<!--more--><\/p>\n<p>Menurut Ismail Haqqi Al Buruswi dalam\u00a0<em>Tafsir Ruhul Bayan,\u00a0<\/em>menjelaskan bawa Hawa sama dengan Hautun artinya Merah dan Siti Aisya RA. Sering dipanggil oleh Rasulullah SAW dengan Humairoh artinya juga Merah. Oleh Karena itu, para ulama terdahulu di Indonesia, dalam membudayakan dan mengabdikan\u00a0<em>Merah Putih,\u00a0<\/em>antara lain melalui tiga upacara:<\/p>\n<ol>\n<li>Setiap pembangunan rumah, pada kerangka atap suhunan dikibarkan\u00a0<em>Merah Putih\u00a0<\/em>dengan harapan mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW.<\/li>\n<li>Pada setiap tahun baru Islam atau tahun Hijriyah diperingati dengan membuat bubur Me<em>rah Putih.<\/em><\/li>\n<li>Pada saat pemberian nama anak juga dengan disertai pembuatan\u00a0<em>Bubur M<\/em><em>e<\/em><em>rah Putih<\/em>. Mengapa?<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Bubur Merah Putih<\/em>\u00a0saat bayi dilahirkan sebagai lambing dari ibu,<\/p>\n<p dir=\"RTL\">\u00a0\u062e\u064e\u0644\u064e\u0642\u064e \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0646\u0652\u0633\u064e\u0627\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0642\u064d<\/p>\n<p><em>\u201cDia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.\u201d (QS 96:2)<\/em><!--more--><\/p>\n<p>Selama 9 bulan 10 hari dalam Rahim, mengkonsumsi darah ibu, merah warnanya. Setelah lahir masih tetep membutuhkan darah ibu, ASI selama 20 bulan 20 hari warnya putih. Dengan demikian seorang anak bayi membutuhkan darah ibu yang berwarna merah dan putih selama 30 bulan (QS. 46:115).<\/p>\n<p>Dengan pengertian 9 bulan 10 hari ditambah 20 bulan 20 hari, sama dengan 30 bulan lamanya. Bagi ibu-ibu yang akan menyempurnakan pemberisan ASI dapat diperpajang dari 20 bulan 20 hari menjadi 24 bulan atau 2 tahun (QS. 2:233). Warna busana Rasulullah SAW yang rangkap dua atau\u00a0<em>Al-Hullah\u00a0<\/em>, berwarna merah. Peristiwa ini dilihat oleh Sayyidina Al Barra RA disebutkannya:<!--more--><\/p>\n<p>\u201c<em>Sungguh kusaksikan Rasulullah SAW berbusana merah warnanya dan aku belum pernah melihat busananya Rasulullah SAWyang seindah itu.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Abu Daud, dan Turmudzi. Kalau kita perhatikan lebih lanjut warna sarung pedang Rasulullah SAW, Sayyidina Ali Ra. Dan Khalid bin Walid Ra. juga merah.<\/p>\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n<p>Jasa agung ulama dan umat Islam Indonesia dalam meraih kemerdekaan, diingatkan segenap generasi oleh para pendahulu dengan membangun monument Masjid Syuhada, di Ibukota perjuangan Yogyakarta, Artinya tanpa pengorbanan para Syuhada Indonesia tidak akan merdeka. Dengan kata lain, untuk apa para Syuhada berkorban? Jawabnya, agar Indonesia Merdeka. Agar cita-cita yang demikian agung mulia serta terhormat ini, dipahami generasi selanjutnya, dibangunlah di ibukota RI Jakarta Masjid Istiqlal Masjid kemerdekaan. Agar lebih dipahami bahwa ulama sebagai pengawal terdepan perjuangan nasional, dibangunlah Monumen Nasional dengan didepannya patung Pangeran Diponegoro yang sedang memacu kuda. Maknanya\u00a0<strong><em>pengawal terdepan perjuangan nasional Indonesia adalah ulama.<\/em>\u00a0<\/strong>Antara lain Fatahillah, Syarif Hidayatullah, Hasanuddin Imam Bonjor, Teuku Cik Ditiro, Sisingamangaraja XII, dan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.<!--more--><\/p>\n<p>\u201c<em>Perhatikan lah sejarahmu, untuk hari esok\u201d (QS.\u00a0<\/em>18:29).<\/p>\n<p>\u201c<em>Karena dalam sejarah terdapat didalamnya pelajaran, kebenaran, dan peringatan yang\u00a0<\/em><em>m<\/em><em>engukuhkan hatimu<\/em>\u00a0(QS.\u00a0 11:120)<\/p>\n<p>Sumber :<\/p>\n<p>Suryanegara, Ahmad Mansur. 2005.\u00a0<em>Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Republik Indonesia.\u00a0<\/em>Majlis Al-Ihya Bogor.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Republik Indonesia) Oleh : K.H. Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, PhD. Mengutip pernyataan beberapa pendapat Ulama Indonesia diantaranya, K.H. Abdul Mukti, Syech Musa dan K.H. Hasyim Asy\u2019ari Jombang bahwa pada saat itu: \u201cSoekarno tidak mau memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia karena dihalangi Inggris, bahwa Indonesia akan dibuat seperti Hiroshima dan Nagasaki, tapi didorong dan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":810,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,11,14],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/809"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=809"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/809\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=809"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=809"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=809"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}