{"id":530,"date":"2016-07-09T13:45:35","date_gmt":"2016-07-09T13:45:35","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=530"},"modified":"2016-07-09T13:45:35","modified_gmt":"2016-07-09T13:45:35","slug":"syamun-al-ghazy-mujahid-yang-berjuang-1000-bulan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2016\/07\/09\/syamun-al-ghazy-mujahid-yang-berjuang-1000-bulan\/","title":{"rendered":"Syam&#8217;un al Ghazy, Mujahid yang Berjuang 1000 Bulan"},"content":{"rendered":"<p>Dari Ibnu Abbas <em>radiallahu \u2018anhumaa <\/em>berkata bahwa suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah dan menuturkan cerita seorang hamba yang bernama Syam\u2019un Al-Ghazi. Ia berperang melawan orang-orang kafir selama seribu bulan hanya dengan menggunakan senjata berupa jenggot unta. Dikisahkan ketika Syam\u2019un memukulkan jenggot unta tersebut kepada orang-orang kafir, maka seketika itu juga orang-orang kafir terbunuh, sudah banyak sekali korban-korban berjatuhan di tangan Syam\u2019un dengan senjata yang aneh itu. Jika Syam\u2019un haus maka dari senjata itu keluar air yang segar dan ketika Syam\u2019un merasa lapar maka dari senjata aneh tersebut tumbuh daging sehingga ia memperoleh makan dan minum dari jenggot unta tersebut.<\/p>\n<p>Menghadapi kekuatan Syam\u2019un yang tak tertandingi, orang-orang kafir merasa kewalahan, segala cara telah mereka kerahkan namun tidak pernah membuahkan hasil. Akhirnya mereka mendatangi istri Syam\u2019un yang juga kafir dan membujuknya untuk bekerja sama membunuh Syam\u2019un<\/p>\n<p>\u201dKami akan memberikanmu harta yang banyak jika kamu dapat membunuh Syam\u2019un,\u201d kata seorang kafir yang mencoba membujuk istri Syam\u2019un.<\/p>\n<p>\u201dAku tidak mampu membunuhnya,\u201d jawab istri Syam\u2019un<\/p>\n<p>\u201cKami akan memberikanmu tali yang sangat kuat. Dengan tali tersebut ikatlah kedua tangan dan kakinya pada saat ia tidur dan kami akan membunuhnya,\u201d kata seorang kafir lagi<\/p>\n<p>Akhirnya istri Syam\u2019un pun menyanggupi dan berhasil mengikatkan tali pada kaki dan tangan Syam\u2019un. Ketika terbangun dari tidurnya Syam\u2019un terkejut melihat kaki dan tangannya sudah terikat tali.<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang mengikat aku dengan tali ini ?\u201d tanya Syam\u2019un<\/p>\n<p>\u201cAku yang mengikatkan tali itu, aku ingin menguji kekuatanmu,\u201d jawab istrinya<\/p>\n<p>Ternyata Syam\u2019un bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut. Mengetahui hal itu, orang-orang kafir mendatangi istri Syam\u2019un kembali untuk memberikan rantai besi supaya istri Syam\u2019un mengikatkan rantai tersebut pada tubuh Syam\u2019un. Istri Syam\u2019un pun menyanggupi dan berhasil mengikatkan rantai pada kaki dan tangan Syam\u2019un.<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang mengikatku dengan rantai ini ?\u201d tanya Syam\u2019un ketika terbangun dari tidurnya<\/p>\n<p>\u201cAku yang mengikatkan rantai itu, aku ingin menguji kekuatanmu,\u201d jawab istrinya<\/p>\n<p>Syam\u2019un pun menarik tangannya dan dengan seketika rantai yang membelenggu tangan dan kakinya terputus.<\/p>\n<p>\u201cWahai istriku aku adalah seorang wali Allah, tidak ada yang mampu melumpuhkan kekuatanku di dunia ini\u00a0 kecuali rambutku ini\u201d<\/p>\n<p>Mendengar perkataan Syam\u2019un, malam harinya istri Syam\u2019un memotong rambut Syam\u2019un dan mengikat badannya dengan rambut tersebut.<\/p>\n<p>Pagi harinya Syam\u2019un merasa heran karena melihat tubuhnya terikat kembali, tetapi ketika ia menarik tangannya, ikatan yang mengikat tubuhnya tidak terputus. Melihat kondisi Syam\u2019un yang tak berdaya, istrinya segera menemui orang-orang kafir dan menceritakan apa yang terjadi. Maka mereka segera menemui Syam\u2019un dan membawanya ke tempat penjagalan manusia. Lalu Syam\u2019un pun diikat di tiang bangunan (tempat penjagalan manusia), dan mereka mencungkil mata Syam\u2019un serta memotong kaki, tangan dan lidah Syam\u2019un.<\/p>\n<p>Namun Allah SWT tak membiarkan seorang wali-Nya menderita seperti itu terlalu lama. Allah lalu berfirman kepada Syam`un \u201cApa pun yang engkau kehendaki akan aku kabulkan ?\u201d<\/p>\n<p>Syam\u2019un pun menjawab, \u201cAku menghendaki agar Engkau memberi kekuatan kepadaku, sehingga aku mampu meruntuhkan tiang bangunan dan reruntuhannya menimpa mereka.\u201d<\/p>\n<p>Allah SWT pun memberikan kekuatan luar biasa kepadanya. Lalu Syam\u2019un menggerakkan tubuhnya, hingga menyebabkan tiang bangunan menjadi patah dan hancur berantakan, disusul ambruknya seluruh badan bangunan tersebut dan menimpa orang-orang kafir, termasuk istri Syam\u2019un sehingga mereka semua tewas.<\/p>\n<p>Adapun Syam\u2019un diselamatkan oleh Allah SWT, bahkan Allah mengembalikan seluruh anggota tubuhnya seperti semula. Setelah itu Syam\u2019un beribadah kepada Allah SWT, malamnya ia isi dengan shalat, siangnya ia isi dengan puasa dan berperang di jalan Allah selama seribu bulan. Mendengar cerita tersebut para sahabat menangis karena menginginkan anugerah yang diperoleh Syam\u2019un.<\/p>\n<p>Salah seorang diantara para sahabat lalu bertanya, \u201cWahai Rasulullah, apakah engkau mengetahui pahala Syam\u2019un?\u201d \u201cAku tidak mengetahuinya\u201d jawab Rasul.<\/p>\n<p>Allah SWT kemudian menurunkan surat al-Qadar melalui malaikat Jibril as. Pada surat tersebut Allah menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan seseorang pada malam Qadr (salah satu malam di bulan Ramadhan), itu lebih baik dari pada ibadah yang dilakukan laki-laki tersebut (Syam\u2019un) \u00a0selama seribu bulan. <strong>(Bukhori Zainun)<\/strong><\/p>\n<p><em>Sumber: Kitab Durratun Nasiin<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari Ibnu Abbas radiallahu \u2018anhumaa berkata bahwa suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah dan menuturkan cerita seorang hamba yang bernama Syam\u2019un Al-Ghazi. Ia berperang melawan orang-orang kafir selama seribu bulan hanya dengan menggunakan senjata berupa jenggot unta. Dikisahkan ketika Syam\u2019un memukulkan jenggot unta tersebut kepada orang-orang kafir, maka seketika itu juga orang-orang kafir terbunuh, sudah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":531,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/530"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=530"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/530\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=530"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=530"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=530"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}