{"id":5130,"date":"2020-12-10T02:12:16","date_gmt":"2020-12-10T02:12:16","guid":{"rendered":"https:\/\/kmnu.or.id\/?p=5130"},"modified":"2020-12-10T02:12:16","modified_gmt":"2020-12-10T02:12:16","slug":"hasil-karya-lomba-cipta-puisi-regional-jatim-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2020\/12\/10\/hasil-karya-lomba-cipta-puisi-regional-jatim-bali\/","title":{"rendered":"Hasil Karya Lomba Cipta Puisi Regional Jatim Bali"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Perjuangan Santri oleh Dewi Julia<\/strong> <strong>(KMNU Udayana)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kisah melodi asrama santri tak pernah berhenti<br>Sungguh damai, menentramkan hati yang sunyi<br>Biarpun raga selalu terkekang,<br>dibalik pagar suci<br>Tak berarti jiwa melayang tanpa kendali<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi santri adalah pilihan<br>Jalani hari penuh ketakwaan<br>Berjuang melawan nafsu juga emosi<br>Demi menerapkan syariat islami<\/p>\n\n\n\n<p>Berjuang dan bertahanlah!<br>Langkahkan kaki pada tujuan pasti<br>Luruskan niat mengharap rida Ilahi<br>Dan, jadilah teladan untuk negeri ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tahmid di Kala Fajar oleh Dito Afako<\/strong> <strong>(KMNU UB)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kepada Allah-lah kami bersyukur tiada lelahnya<br>Atas segala anugerah yang Dia berikan<br>Kekuatan, kesehatan, dan akal sehat<br>Sungguh, mereka akan kembali kepada-Nya<\/p>\n\n\n\n<p>Kepada Allah-lah kami bersyukur tiada lelahnya<br>Keberanian para pahlawan melawan kolonial<br>Membangkitkan semangat kebangsaan<br>Semangat itu semakin melekat di badan<\/p>\n\n\n\n<p>Kepada Allah-lah kami bersyukur tiada lelahnya<br>Ilmu yang kita bawa<br>Kami jadikan itu sebagai pakaian<br>Untuk merawat akal dan nalar<\/p>\n\n\n\n<p>Kepada Allah-lah kami bersyukur tiada lelahnya<br>Rasa keislaman dan Kenusantaraan<br>Kami jadikan sebagai pandangan<br>Dalam menjalankan kehidupan<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Asa oleh Elsa Darma Pratiwi<\/strong> <strong>(KMNU UB)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ingatkah kau Pemuda!<br>Bung Karno membakar semangatmu<br>Kau junjung tinggi merah putihmu<br>Bak tak kan ada kematian yang mengancamu<\/p>\n\n\n\n<p>Ingatkah kau Pemuda!<br>Jasa mereka takkan pernah sirna<br>Menyulut semangat kebangsaan<br>Di negeri kita tercinta<\/p>\n\n\n\n<p>Kiat-kiatmu kini diuji oleh bangsa sendiri<br>Kepatutanmu, keikhlasanmu, kebebasanmu untuk ibu pertiwi<br>Janganlah bertingkah kau tak peduli<br>Jutaan umatmu kan selalu menanti<\/p>\n\n\n\n<p>Wahai Pemuda, hapuskan rasa takutmu<br>Genggam erat semangat juangmu<br>Bukankah kau sudah berjanji pada negerimu<br>Tuk tak segan berjibaku dan selalu pertumpu pada ilmu<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan lagi angan yang selalu terbanyang<br>Bukan pula kenangan yang selalu menyibukkan<br>Tapi, langkah kepastianmu yang kami butuhkan<br>Bismillahirrahmanirrahim<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sang Panji Negeri Rakus oleh Elsa Darma Pratiwi (KMNU UB)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Melihat Negeri ini\u2026<br>Detik ini pun masih tampak gejolak disana-sini<br>Seolah hari-hari hanya penuh riuh dan gaduh<br>Saling beradu, tak hanya pikiran<br>Ujaran kebencian kian ringan<br>Bak santapan yang wajar adanya<br>Apakah negeri ini lupa jati dirinya?<\/p>\n\n\n\n<p>Arus zaman kian kencang<br>Lika-likunya tak terelakkan<br>Menuntut pemukimnya memasang sabuk pengaman,<br>menanti datangnya perubahan<br>Menancapkan kuat-kuat buah Nurani yang masih murni<br>Adalah jalan kuasa dan tangan Ilahi<br>Tersisip cahaya yang menerangi<br>Dari para cendekiawan dan santri<br>Tindak-tanduknya mendamaikan hati<br>Tulus ikhlas perjuanganmu selalu dinanti<br>Baktimu selalu mengayomi<br>Santri,\u2026. curahkan dirimu untuk negeri<br>Santri, kaulah Panji negeri kami<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Nasihat Manis oleh Ika Wita Ersalina (KMNU UNAIR)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Seminar-seminar sibuk membakar generasi muda<br>Menjadi terdepan bagi arah perubahan bangsa<br>Menuju Indonesia Emas di tahun empat lima<br>Menggenapi seabad usia bangsa<\/p>\n\n\n\n<p>Slogan from zero to hero dikencangkan<br>Jadi motivasi umum bagi santri di seluruh penjuru<br>Lagi-lagi diharapkan menjadi perubahan<br>Untuk meneruskan perjuangan yang dewasa lebih dulu<\/p>\n\n\n\n<p>Angin malam keras menerjang pikiran<br>Mengguncangkan angan tunggal bayangan apa itu pahlawan<br>Bahwa pahlawan tak melulu nantinya yang terdepan<br>Ia bisa datang dari arah yang tak direncanakan<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti kawanku, tiba-tiba eksis<br>Hanya karena ia mengamalkan nasihat manis<br>Terus membagi, hingga kantong menipis<br>Sedikit-sedikit keburukan di sekitarnya terkikis<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Juang oleh M. Syifa Zam Zami (KMNU UB)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kami santri Indonesia, berjuang untuk tujuan yang satu, Indonesia yang merdeka.<br>Merdeka dari belenggu penjajahan apa saja<br>Penjajahan bangsa asing<br>Yang membuat kepala pusing<br>Ataupun penjajahan bangsa sendiri<br>Yang membuat kepala semakin nyeri<br>Apakah kami hanya membual saja selama ini?<br>Nyawa para ulama yang telah hilang terlalu mahal untuk kami sia-siakan<br>Harganya pun tak sanggup kami angsur walau dengan tenor yang lama<br>Silahkan pecahkan kami dengan pemukul besi<br>Tembak dengan meriam yang paling sakti<br>Bakar kami dalam lautan bara api<br>Niscaya kami tetap berdiri<br>Demi mewujudkan mimpi para ulama kami<br>Merdeka di negeri sendiri<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Abdi Negeri oleh Mailul Munawaroh (IAIN Ponorogo)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ragam tanah airku bersatu<br>Menggenggam erat panji yang selalu tertancap<br>Semangatku kan terus tersulut api<br>Hingga nyawa ini tiada di bumi<\/p>\n\n\n\n<p>Ragam tanah airku bersatu<br>Menggenggam erat panji yang selalu tertancap<br>Semangatku kan terus tersulut api<br>Hingga nyawa ini tiada di bumi<\/p>\n\n\n\n<p>Tak berjuang dengan tembak<br>Namun kajian kitab selalu beranak<br>Tiada senapan pun tak menjadi halangan<br>Bibir terbasahkan dengan do\u2019a dan sholawat<br>Hingga pemberontak tak mampu mendekat<\/p>\n\n\n\n<p>Sang kyailah sosok panutan<br>Menggenggam erat Indonesia yang tersayang<br>Do\u2019a dan pengharapan terus mengalur<br>Demi Indonesia yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Berjuang dan Pertahankan oleh Maulana Wulida (KMNU UB)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kala Indonesia bak berlian pengantin baru<br>Tak sedikit lirikan terlontar padanya<br>Bersinar emas dalam tubuhnya<br>Tak sedikit cakra untuk mengambilnya<br>Pancasila dasar negaranya<br>Gemah ripah loh jinawi tanahnya<br>Toto tentrem masyarakatnya<br>Mengundang negara tetangga untuk merebutnya<\/p>\n\n\n\n<p>Kini Indonesia masih berjuang<br>Kala senja mulai hilang<br>Mentari berganti setiap pagi<br>Negara mulai dilawan oleh bangsanya sendiri<br>Berbagai paham masuk tak terkendali<br>Jatuh, bangun, sakit, dan masih bangkit<br>Ibu pertiwi masih kokoh dengan pancasilanya<br>Walaupun beragam budaya, masih tetap bersatu jua<\/p>\n\n\n\n<p>Kini Indonesia masih bertahan<br>Dibalik hiruk piruknya calon pejabat<br>Yang mengemis tanpa malu pada rakyat<br>Toto tentrem pun masih melekat<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Merajuk Tuhan Lewat Doa oleh Delvi Yurvila Nada (KMNU UNAIR)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gemuruh takbir dan senyuman nan merekah<br>Allah hadir menebarkan berkah tak terhingga<br>Lihatlah<br>Tegap berdiri tak takut mati<br>Mengenggam tasbih melangitkan dzikir pada Illahi<\/p>\n\n\n\n<p>Sorot matanya tajam penuh keyakinan<br>Langkahnya jelas terarah dan pantang menyerah<br>Mereka adalah manusia-manusia yang percaya<br>Bahwa gaungan doa di langit yang Maha Kuasa<br>Adalah jalan pintas meraih kemenangan membela negara<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka adalah pahlawan badaniyah<br>Mereka adalah pahlawan Ruhaniyah<br>Menjadi garda pembela tanah yang disebutnya negara<br>Hubbul wathon minal iman di hatinya<br>Namun tak seperti pujangga pada kekasihnya yang hanya omong belaka<br>Tajuk mereka adalah realita<br>Mereka adalah pahlawan negeri yang beriman pada Illahi Robbi<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Santri Hiya Hiya Hiya oleh Delvi Yurvila Nada (KMNU UNAIR)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tegap badan kokoh berdiri<br>Bersila santai menawarkan kopi<br>Menjadi garda pembela tanah yang disebutnya negeri<\/p>\n\n\n\n<p>Santri<br>Begitu kebanyakan orang menyebutnya<br>Sarung pengikat perutnya<br>Peci menjadi ciri khasnya<br>Baktimu abadi kepada negeri<br>Cintamu suci pada Illahi Robbi<\/p>\n\n\n\n<p>Ucapanmu sejuk seperti embun pagi<br>Menenangkan dan menuntaskan kegundahan<br>Berdakwah tanpa memaksa<br>Mengajak tanpa mengejek<br>Langkah hidupnya teratur<\/p>\n\n\n\n<p>Tutur katanya lembut menyenangkan<br>Kepada negara saja mereka membela<br>Apalagi kepadamu<br>Wahai jodoh yang tak kunjung tiba<br>Hiya Hiya Hiya<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Evolusi Santri oleh Siti Khalimatus Sa\u2019diyah (Evolusi Santri)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Metamorfosis dari sebuah kebodohan<br>Mulai merangkak kearah garis kebenaran<br>Belajar berdiri dengan syariat yang ditekankan<br>Lalu berlari bersama tasawuf dalam dekapan<\/p>\n\n\n\n<p>Santri, tak lagi tombak dan bambu runcing<br>Tak ada darah disertai tubuh terguling<br>Kini saatnya mengkaji, berkumpul kemudian berunding<br>Kemukakan aspirasi ditengah negara genting<\/p>\n\n\n\n<p>Sosial media bukan ajang popularitas<br>Jari jemari suci bukan untuk menulis kata tak pantas<br>Izar dan khimar tetap menjadi identitas<br>Saatnya dalami semua ilmu dan lukiskan kreatifitas<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sepenuh Al-Fatihah oleh Sri Rahayuningsih (KMNU IAIN Ponorogo)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada pusara yang harum dengan aroma bunga<br>Dalam keheningan cahaya bumantara<br>Bijak bestari melangkahkan kakinya<br>Diikuti puluhan pasang kaki lainnya<br>Kemudian bersimpuh serupa duduk tasyahud<br>Membungkuk dengan khusyuk<\/p>\n\n\n\n<p>Bayang-bayang 10 november silam<br>Berbondong-bondong melawan<br>Bambu runcing adalah bukti keberanian<br>Rasa sakit yang menembus<br>Getir pahit akibat senjata terhunus<br>Rasa manis akan merdeka<br>Atau mati menjadi syuhada<\/p>\n\n\n\n<p>Sepasang tangan menangkupkan ruas-ruas jemari<br>Bibir-bibir mulai merapal nama-nama yang terpatri<br>Direngkuhnya dengan al-fatihah yang penuh<br>Dengan dada yang bergemuruh<br>Air mata yang enggan berteduh<br>Tubuh yang teramat rapuh<br>Rindu antara fajar dengan subuh<br>Dengan al fatihah yang akan terus tumbuh<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Nusantara oleh Wisam Zuhdi Surya Nusantara (KMNU UB)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari sedalam palung sajak<br>Kusisihkan setetes air<br>Basuhkan dalam kesucian semesta<br>Demi kokoh tegak<br>Nusantara<\/p>\n\n\n\n<p>Wahai santri harapan bangsa<br>Yang kian terkikis angkara<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa\u2026.<br>Eksistensi nusantara mulai sirna<br>Karena arogansi kian menggila<br>Terbaur ego radikalisasi<br>Menancap liar tiada kendali<\/p>\n\n\n\n<p>Bersandar jalan nirwana<br>Membakar tekad berpacu di dada<br>Melebur abadi nurani<br>Walau timah berjuta menghampiri<br>Sungguh, tak kubiar tetes kelam ibu pertiwi<br>jatuh kembali<\/p>\n\n\n\n<p>Wahai kawula santri<br>Yang mulai menggores perih<br>Nanar mata kami tersipu, malu<br>Hingga kerikil kian menderu<br>Bangkitkan kesadaran bersama waktu<br>Perlahan mengiris pilu<\/p>\n\n\n\n<p>Teriring Maha Asih<br>Dalam memeluk rasa bangga<br>Menjagamu untuk kokoh menegak<br>Nusantaraku<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sepuluh November oleh Wisam Zuhdi Surya Nusantara (KMNU UB)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada sepuluh November<br>Kubuka hikayat satu satu<br>Dalam untaian bait asma-Mu, meski sungguh nyenyat jiwaku<\/p>\n\n\n\n<p>Pada sepuluh November<br>Sembari menyeret langkah dua dua<br>Dalam jahitan dosa menganga<br>Hamba berteduh di bawah naung ruhiyat agama<\/p>\n\n\n\n<p>Pada sepuluh November<br>Kuazamkan diriku<br>Di bawah tiga tiga nasihat ilmu<br>Untukmu, negeriku<\/p>\n\n\n\n<p>Pada sepuluh November<br>Kusimpulkan rantai janji empat empat<br>Dalam untaian akad yang tak sempat<br>Hingga kutemukan jalan yang tepat, berbekal syariat<\/p>\n\n\n\n<p>Pada sepuluh November<br>Kurekatkan jemari lima lima<br>Hingga tiada bertepuk sebelah sisi sahaja<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi kilas balik sepuluh November<br>Usai tuntas amanah sebagai fakir ilmu<br>Mengabdi demi bangsaku<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perjuangan Santri oleh Dewi Julia (KMNU Udayana) Kisah melodi asrama santri tak pernah berhentiSungguh damai, menentramkan hati yang sunyiBiarpun raga selalu terkekang,dibalik pagar suciTak berarti jiwa melayang tanpa kendali Menjadi santri adalah pilihanJalani hari penuh ketakwaanBerjuang melawan nafsu juga emosiDemi menerapkan syariat islami Berjuang dan bertahanlah!Langkahkan kaki pada tujuan pastiLuruskan niat mengharap rida IlahiDan, jadilah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5150,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5130"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5130"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5130\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5130"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5130"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5130"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}