{"id":502,"date":"2014-02-08T02:48:28","date_gmt":"2014-02-08T02:48:28","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=502"},"modified":"2014-02-08T02:48:28","modified_gmt":"2014-02-08T02:48:28","slug":"urgensi-nu-islam-indonesia-produk-lokal-yang-mulai-diserang-produk-impor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2014\/02\/08\/urgensi-nu-islam-indonesia-produk-lokal-yang-mulai-diserang-produk-impor\/","title":{"rendered":"Urgensi NU (Islam Indonesia),  Produk Lokal yang Mulai Diserang Produk Impor"},"content":{"rendered":"<p>Bukan hanya barang-barang seperti buah-buahan, sayur, daging sapi,\u00a0handphone, dan komputer saja yang bisa diimpor, saat ini karena begitu\u00a0hebatnya manusia, paham-paham agama pun sudah menjadi komoditi impor ekspor\u00a0yang menjanjikan. Jika dulu indonesia dijajah kekayaan alamnya yang sangat\u00a0potensial untuk\u00a0menguasai\u00a0perdagangan dunia, hari ini, paham-paham agama\u00a0juga digunakan untuk kepentingan\u00a0 serupa, meskipun lebih seram, yaitu\u00a0&#8216;menguasai dunia&#8217;.<\/p>\n<p>Paham-paham apa yang dimaksud? Penulis, sebagai bagian dari umat islam,\u00a0jelas lebih tau mengenai paham-paham agama islam, karena itu yang\u00a0dibicarakan selanjutnya lebih mengenai paham-paham agama islam tersebut.\u00a0Agar lebih mudah, mari kita coba bandingkan dengan komoditi impor yang\u00a0berupa produk-produk pertanian.<!--more--><\/p>\n<p>&#8220;Tak semua tumbuhan dapat tumbuh di indonesia. Semua tumbuhan yang tumbuh\u00a0di Indonesia harus memiliki karakter dan ketahanan yang ideal, yang sesuai\u00a0dengan iklim dan kondisi alam di Indonesia&#8221; begitulah kurang lebih yang\u00a0dosen-dosen saya sampaikan disetiap kuliah. Memang pada kenyataannya\u00a0seperti itu, ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi agar suatu tanaman\u00a0dapat tumbuh disuatu tempat. Karena itulah kenapa Carica hanya tumbuh di\u00a0wonosobo, teh hanya ada di puncak dan dibeberapa tempat lain.<!--more--><\/p>\n<p>Begitu pula Islam Indonesia, mengapa Indonesia dominan bahkan hampir\u00a0semuanya bermahdzab Imam Syafi&#8217;i terkait fikih, jawabannya adalah karena\u00a0pada awal penyebaran Islam di Indonesia, mahdzab tersebutlah yang paling\u00a0sesuai dengan kondisi budaya asli indonesia. Sehingga dalam sejarahnya\u00a0islam dapat diterima tanpa ada paksaan dari penduduk aslinya. Para Wali\u00a0sangat memahami bahwa mereka harus memilih terlebih dahulu jenis dan Islam\u00a0seperti apa yang dapat tumbuh subur dan berbuah lebat di Indonesia. Karena\u00a0keputusan itulah, Islam Indonesia dapat berkembang dan dirasakan manfaatnya\u00a0seperti saat ini.<!--more--><\/p>\n<p>Sekitar abad 17-19 di dunia sudah akrab dengan istilah dijajah atau\u00a0menjajah. Nusantara pun sedang sekarat-sekaratnya di jajah. Pihak penjajah\u00a0selain menguras ke kayaan alam indonesia, juga menyebarkan agama lain guna\u00a0mengurangi kekuatan Islam di nusantara. Bahkan di dunia Islam sendiri,\u00a0juga terjadi hal yang serupa, Arab Saudi dengan pemahaman barunya tentang\u00a0islam, mengeluarkan aturan baru yang melarang dipraktekkannya pemahaman\u00a0islam lain yang tidak sesuai dengan pemahaman wahabi yang baru dianut oleh\u00a0Arab Saudi saat itu. Hal-hal inilah yang membuat para Kiyai di Indonesia\u00a0resah, sehingga dibentuklah Nahdlatul Ulama sebagai wadah dan jalan untuk\u00a0mempertahankan Islam Nusantara dan mengubah rencana Arab Saudi tersebut.\u00a0Apalagi pihak pemerintah Arab Saudi juga berencana menggusur Makan Nabi\u00a0Muhammad SAW. Ini sudah keterlaluan. Berbeda dengan moratorium\u00a0perijinan penangkapan ikan oleh kapal asing yang membuat perusahaan asing\u00a0tidak mendapat uang penghasilan, &#8220;Moratorium Ibadah&#8221; ala Arab Saudi ini\u00a0sangat meresahkan karena terkait urusan agama dan akhirat. Selain itu,\u00a0alasan utama mengapa Nahdlatul Ulama harus menggagalkan rencana itu adalah,\u00a0karena adanya kebijakan wahabi itu akan merusak tatanan Islam yang sudah\u00a0dibuat oleh para pendahulu penyebar Islam di dunia. Sehingga bisa jadi\u00a0justru islam akan goyah jika kebijakan ini jadi diterapkan. Islam di tanah\u00a0air pun akan mengalami dampaknya, karena setiap muslim yang hendak\u00a0melaksanakan ibadah haji harus ke Mekkah dan Madinah yang notabanenya ada\u00a0di Arab Saudi.<!--more--><\/p>\n<p>Dalam periode selanjutnya, NU dan Indonesia menjadi saling terikat dan tak\u00a0bisa lepas. Tak seperti paham lainnya,\u00a0 NU adalah paham keislaman yang\u00a0menjadi produk lokal asli nusantara yang sudah sangat sesuai dengan iklim\u00a0dan kondisi Indonesia. Islam yang toleran dan juga menjadi pondasi utama\u00a0eksistensi NKRI. Karena selain sebagian besar warga NKRI adalah NU, NU\u00a0jugalah yang dari masa ke masa tetap setia membela bangsa ini, bahkan\u00a0dengan gagah berani mengatakan bahwa &#8220;Membela Bangsa (Indonesia) Adalah\u00a0Sebagian dari Iman. Kini, Indonesia telah dikenal sebagai negara dengan\u00a0penduduk muslim terbesar di dunia. Hal ini tentu membuat takut pihak-pihak\u00a0lain yang tak suka dengan Islam, sehingga dengan berbagai cara mencoba\u00a0ngurangi kekuatan Indonesia baik dari luar maupun dari dalam. Salah\u00a0satunya, yaitu mereka mengekspor paham islam transnasional seperti\u00a0wahabi-salafi ke Indonesia untuk bersaing dengan produk lokal yang sudah\u00a0ada. Sehingga tak heran pula, paham salafi-wahabi yang sebenarnya tergolong\u00a0baru di Indonesia bisa tumbuh seakan-akan cepat (walaupun sebenarnya biasa\u00a0saja). Seperti komoditi baru yang mencoba membuka pasar, mereka datang\u00a0dengan semangat bergelora, rasa baru, kemasan yang memikat, dan tentu\u00a0dengan promosi dan pemasaran yang wah. Orang-orang pun beberapa ada yang\u00a0terpikat, khususnya mereka-mereka yang awam dan belum bisa membedakan mana\u00a0produk lokal mana produk asing, mana produk organik dan mana yang buatan.<!--more--><\/p>\n<p>Adanya pemahaman impor ini tentu sedikit mengganggu produk lokal, sehingga\u00a0penyebarannya harus dikurangi, kalau perlu sampai habis. Tapi apakah harus\u00a0diperangi? Sebaiknya tidak usah. Karena tak seperti produk lokal yang\u00a0ketersediaannya terjamin dan akan tumbuh serta panen setiap waktu, yang\u00a0namanya produk impor, tetap akan dibatasi oleh tanggal basi kadaluarsa.\u00a0Bandingkanlah antara padi dan kurma. Padi sebagai tanaman yg sudah ada\u00a0sejak dulu di Indonesia bisa tumbuh dan panen dua sampai tiga kali setiap\u00a0tahunnya, tapi kurma yang merupakan tanaman timur tengah, sangat sulit\u00a0tumbuh di Indonesia, tumbuh pun tak bisa berbuah, berbuah pun akan menghasilkan buah yang kualitasnya rendah. Sehingga tak perlulah kita\u00a0begitu kawatir.\u00a0 Dari pada sibuk mengurusi &#8216;kurma&#8217; yang belum tentu tumbuh\u00a0di Indonesia, lebih baik kita mengurusi &#8216;padi&#8217; agar hijaunya bisa\u00a0mensejahterahkan Indonesia.<!--more--><\/p>\n<p>Muhamad Arifin<\/p>\n<p>Dewan Pertimbangan KMNU<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukan hanya barang-barang seperti buah-buahan, sayur, daging sapi,\u00a0handphone, dan komputer saja yang bisa diimpor, saat ini karena begitu\u00a0hebatnya manusia, paham-paham agama pun sudah menjadi komoditi impor ekspor\u00a0yang menjanjikan. Jika dulu indonesia dijajah kekayaan alamnya yang sangat\u00a0potensial untuk\u00a0menguasai\u00a0perdagangan dunia, hari ini, paham-paham agama\u00a0juga digunakan untuk kepentingan\u00a0 serupa, meskipun lebih seram, yaitu\u00a0&#8216;menguasai dunia&#8217;. Paham-paham apa yang dimaksud?&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":503,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/502"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=502"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/502\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=502"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=502"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=502"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}