{"id":455,"date":"2014-01-03T13:18:02","date_gmt":"2014-01-03T13:18:02","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=455"},"modified":"2014-01-03T13:18:02","modified_gmt":"2014-01-03T13:18:02","slug":"menyemai-kedamaian-dengan-ahlussunnah-wal-jamaah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2014\/01\/03\/menyemai-kedamaian-dengan-ahlussunnah-wal-jamaah\/","title":{"rendered":"Menyemai Kedamaian dengan Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah"},"content":{"rendered":"<p>oleh: Diana Sulistyowati<\/p>\n<p><em>\u201cSuatu saat Nana pasti akan mengerti dan paham tentang perbedaan-perbedaan ini. Silahkan sekarang diserap ilmu dari berbagai sumber. Aku akan selalu terbuka untuk sharing. Aku juga masih dalam tahap belajar.\u201d kata kakak menenangkanku pagi itu.<\/em><!--more--><\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n<p>Hal yang paling saya syukuri di dunia adalah karena saya terlahir dalam keluarga yang Islam. Sedari kecil saya mengenal Islam itu indah, menenangkan, dan mendamaikan. Hal yang mulai tampak berbeda terjadi ketika saya beranjak dewasa. Saya ingin mempelajari Islam lebih dalam. Ya..hal itulah yang membuat saya semakin mencari, menyelami, dan ingin mengenal. Namun, semakin saya mencari, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak saya. Hati saya bergejolak. Saya butuh jawaban dan penjelasan. Hmm.. perbedaan-perbedaan itu semakin terlihat jelas.<!--more--><\/p>\n<p><em>\u201cAku hanya ingin Islam yang menenangkan Kak. Aku belum tahu, apakah yang aku jalani ini benar-benar haq. Aku hanya berharap ampunan-Nya jika yang kuanggap haq ini ternyata tidak diterima oleh Allah, atau aku justru malah bersalah atas apa yang aku lakukan.\u201d ungkapku kepada kakak suatu ketika.<\/em><!--more--><\/p>\n<p>Perbedaan-perbedaan (<em>furu\u2019iyah<\/em>) itu terletak pada dasarnya. Jika pemaknaan dasarnya saja sudah berbeda maka hal-hal yang bersifat cabang juga akan banyak yang berbeda nantinya. Dalam proses pencarian saya untuk memahami perbedaan-perbedaan itu, sampailah suatu ketika hingga saya mengenal ASWAJA (Ahlussunnah wal Jama\u2019ah). Saya pun bertanya-tanya, \u201cApa itu ASWAJA? Bagaimana konsepnya?\u201d<!--more--><\/p>\n<p><strong>Definisi Aswaja<\/strong><\/p>\n<p>Ahlussunnah Wal Jama\u2019ah Menurut Syekh Abu al-Fadl ibn Syekh \u2018Abdus Syakur al-Senori dalam kitab karyanya\u00a0<em>\u201cal-Kaw\u00e2kib al-Lamm\u00e2\u2018ah f\u00ee Tahq\u00eeq al-Musamm\u00e2 bi Ahli al-Sunnah wa al-Jam\u00e2\u2018ah\u201d<\/em>\u00a0(kitab ini telah disahkan oleh Muktamar NU ke XXlll di Solo Jawa Tengah) menyebutkan definisi Ahlussunnah wal jama\u2019ah sebagai: kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW dan thariqah para sahabatnya dalam hal akidah, amaliyah fisik (fiqh), dan akhlaq batin (tasawwuf). Syekh \u2018Abdul Qodir al-Jilani mendefinisikan Ahlussunnah wal jama\u2019ah sebagai berikut: \u201cYang dimaksud dengan as-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. (meliputi ucapan, perilaku, serta ketetapan beliau). Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian jama\u2019ah adalah segala sesuatu yang yang telah disepakati oleh para sahabat Nabi SAW pada masa Khulafa\u2019 ar-Rasyidin yang empat yang telah diberi hidayah Allah.\u201d<!--more--><\/p>\n<p>Jika kita mencermati paham ASWAJA, baik dalam akidah (iman), syariat (islam) ataupun akhlak (ihsan), H. Soelaman Fadeli (2008:13) menjelaskan metodologi pemikiran (manhaj alfkr) ASWAJA sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>tawassuth<\/strong>\u00a0yang tengah dan moderat\/menghindari segala\u00a0 bentuk pendekatan dengan tatharruf (ekstrim).<\/li>\n<li><strong>Tawazun<\/strong>\u00a0yaitu sikap berimbang atau harmoni dalam berkhidmad demi terciptanya keserasian hubungan antar sesama umat manusia dan antara manusia dengan Allah swt.<\/li>\n<li><strong>netral atau adil<\/strong>\u00a0(ta&#8217;\u00e2dul), dan<\/li>\n<li><strong>toleran<\/strong>\u00a0(tas\u00e2muh) yaitu sikap toleran yang berintikan penghargaan terhadap perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat. Metodologi pemikiran ASWAJA senantiasa menghidari sikap-sikap tatharruf (ekstrim).<\/li>\n<\/ol>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><strong>Pemahaman Hadits tentang Bid\u2019ah<\/strong><\/p>\n<p>Pada acara Latihan Dasar Kepemimpinan dan Pemantapan Aswaja di Bintaro, saya mendapat penjelasan terkait Hadits Arba\u2019in An-Nawawi ke-28.<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u062a\u064e\u0642\u0652\u0648\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0633\u0651\u064e\u0645\u0652\u0639\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0637\u0651\u064e\u0627\u0639\u064e\u0629\u0650 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064b\u0627 \u062d\u064e\u0628\u064e\u0634\u0650\u064a\u0651\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0633\u064e\u062a\u064e\u0631\u064e\u0648\u0652\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u0650\u064a\u0652 \u0627\u062e\u0652\u062a\u0650\u0644\u0627\u064e\u0641\u0627\u064b \u0634\u064e\u062f\u0650\u064a\u0652\u062f\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0633\u064f\u0646\u0651\u064e\u062a\u0650\u064a\u0652 \u0648\u064e\u0633\u064f\u0646\u0651\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062e\u064f\u0644\u064e\u0641\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u0627\u0634\u0650\u062f\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a\u0650\u0651\u064a\u0652\u0646\u064e \u0639\u064e\u0636\u0651\u064f\u0648\u0652\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0648\u064e\u0627\u062c\u0650\u0630\u0650 \u0648\u064e\u0625\u0650\u064a\u0651\u064e\u0627\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0627\u0652\u0644\u0623\u064f\u0645\u064f\u0648\u0652\u0631\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062d\u0652\u062f\u064e\u062b\u064e\u0627\u062a\u0650 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0643\u064f\u0644\u0651\u064e \u0628\u0650\u062f\u0652\u0639\u064e\u0629\u064d \u0636\u064e\u0644\u0627\u064e\u0644\u064e\u0629\u064c (\u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0628\u0646 \u0645\u0627\u062c\u0647)<\/p>\n<p><em>\u201cHendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak hitam. Dan kalian akan melihat perselisihan yang sangat setelah aku (tiada nanti), maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa\u2019 rasyidin mahdiyyin (pemimpin yang lurus dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham (berpegang teguhlah padanya), dan jauhilah perkara-perkara muhdatsat (hal-hal baru dalam agama), sesungguhnya setiap bid\u2019ah itu kesesatan\u201d\u00a0<\/em>(HR. Ibnu Majah. Hadis senada diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).<!--more--><\/p>\n<p><strong>\u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0643\u064f\u0644\u0651\u064e \u0628\u0650\u062f\u0652\u0639\u064e\u0629\u064d \u0636\u064e\u0644\u0627\u064e\u0644\u064e\u0629\u064c<\/strong>\u00a0maka harus diartikan: Sesungguhnya SEBAGIAN dari BID`AH itu adalah sesat.\u00a0<em>Kulla<\/em>\u00a0di dalam Hadits ini, tidak dapat diartikan SETIAP\/SEMUA BID`AH itu sesat, karena Hadits ini juga muqayyad atau terikat dengan sabda Nabi SAW yang lain:\u00a0<em>Man sanna fil islami sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man `amila biha<\/em>. Artinya : Barangsiapa memulai\/menciptakan perbuatan baik di dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya. Jadi jelas, ada perbuatan baru yang diciptakan oleh orang-orang di jaman sekarang, tetapi dianggap baik oleh Nabi SAW, dan dijanjikan pahala bagi pencetusnya, serta tidak dikatagorikan BID`AH DHALALAH,\u00a0<em>Forum Komunikasi Remaja Islam NU<\/em>\u00a0(2012)<!--more--><\/p>\n<p>Sebagai contoh dari man sanna sunnatan hasanah (menciptakan perbuatan baik) adalah saat Ustman bin Affan memperbanyak mushaf Al-Qur\u2019an yang mana pada zaman Rasulullah hal tersebut tidak dilakukan, lalu Hajjaj bin Yusuf memprakarsai pengharakatan pada mushaf Al-Qu\u2019ran, serta pembagiannya pada juz, ruku`, maqra, dll. yang hingga kini lestari, dan sangat bermanfaat bagi seluruh umat Islam, kemudian Umar bin Khattab juga menjadikan sholat tarawih berjamaah setelah isya\u2019, semua hal tersebut adalah bid\u2019ah yang tidak dilakukan pada masa Rasulullah. Namun, itulah yang disebut bid\u2019ah hasanah. Bid\u2019ah yang merupakan sunnah dari Khulafa\u2019 ar-Rasyidin<strong>,\u00a0<\/strong>dan pada hadits nabi juga sudah diterangkan bahwa kita juga harus berpegangteguh pada sunnah Khulafa\u2019 ar-Rasyidin<strong>.\u00a0<\/strong>Jika beberapa hal terkait amalan belum terdapat penjelasan pada Al-Qur\u2019an, hadits, dan sunnah Khulafa\u2019 ar-Rasyidin, maka kita seharusnya mengikuti ijtihad\/ ijma\u2019 para ulama.<!--more--><\/p>\n<p>Lebih lanjut, hal yang dikatakan bid\u2019ah dholalah terdapat dua syarat, selain amalan tersebut tidak ada tuntunan dari rasulullah, bid\u2019ah dholalah adalah bid\u2019ah yang menyalahi syariat Islam. Bid\u2019ah itu bukanlah suatu produk hukum tetapi objek hukum. Bid\u2019ah mempunyai arti sebagai sesuatu yang baru dan belum memiliki hukum. Barulah setelah itu, bid\u2019ah dilihat dari segi substansi manfaatnya baik atau tidak, dilihat, dari segi dasarnya ada atau tidak, melanggar syariat atau tidak. Melalui hal tersebut suatu bid\u2019ah bisa dihukumi apakah haram, sunnah, bahkan wajib (contoh bid\u2019ah yang wajib adalah kodifikasi Al-Qur\u2019an).<!--more--><\/p>\n<p>Ada beberapa kelompok yang memahami berbeda makna dari hadits Arba\u2019in An-Nawawi ke-28. Salah satu prinsip dalam Aswaja adalah menganut juga pada ulama empat mahdzab, yang mana diantara para ulama tersebut juga terdapat perbedaan. Permasalahan\u00a0<em>furu\u2019iyah<\/em>\u00a0sebenarnya adalah sudut pandang konsep bid\u2019ah yang dipahami berbeda, cara memperlakukan pandangan para ulama yang berbeda, cara memperlakukan masalah khilafiah yang berbeda, dan hal-hal lain yang sebenarnya sudah ada solusinya, yakni saling menghargai semua amalan asalkan terdapat rujukan dari Al-Qur\u2019an, hadits serta ijtihad\/ijma\u2019 para ulama. Begitulah seharusnya Islam yang mendamaikan dan menenangkan. Tidak selayaknya manusia mengkafirkan kelompok lain karena itu adalah hak prerogatif Allah SWT yang Maha Benar.<!--more--><\/p>\n<p>Diantara keistimewaan ajaran Islam lainnya, ajarannya tidak perlu ditambah atau pun dikurangi. Artinya Islam tidak mengizinkan adanya ibadah baru dalam agama. Justru karena agama Islam itu sempurna, tidak seharusnya kita menafsirkan hadits secara tekstual dan menyatakan hal ini bid\u2019ah, itu kafir, dll. Kita harus berpegang pada Al-Qur\u2019an, As-Sunnah, dan ijma\u2019 para ulama. Ijma\u2019 para ulama inilah yang menjadi jaminan kalau ilmu yang kita amalkan akan bisa tersambung kepada Rasulullah, bukan berarti dengan slogan kembali pada Al-Qur\u2019an dan As-Sunnah itu saja. Kita sebaiknya juga yakin jika Al-Qur\u2019an dan As-Sunnah itu telah ditafsirkan oleh orang-orang yang tepat. Yakni, dengan berpegang pada ulama-ulama salaf yang hidup tidak jauh dari Rasulullah.<!--more--><\/p>\n<p><strong>Bid\u2019ah Hasanah dan Bid\u2019ah Dholalah<\/strong><\/p>\n<p>Mengenai pembagian bid\u2019ah menjadi dua macam (bid\u2019ah hasanah dan bid\u2019ah dholalah), Imam asy Syafi\u2019e mengatakan:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0627\u0644\u0628\u0650\u062f\u0652\u0639\u064e\u0629\u064f \u0628\u0650\u062f\u0652\u0639\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 : \u0645\u064e\u062d\u0652\u0645\u064f\u0648\u062f\u064e\u0629\u064c \u0648\u064e\u0645\u064e\u0630\u0652\u0645\u064f\u0648\u0645\u064e\u0629\u064c \u0641\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0641\u064e\u0642\u064e \u0627\u0644\u0633\u0651\u064f\u0646\u0651\u064e\u0629\u064e \u0641\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0645\u064e\u062d\u0652\u0645\u064f\u0648\u062f\u064c \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u062e\u064e\u0627\u0644\u064e\u0641\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0645\u064e\u0630\u0652\u0645\u064f\u0648\u0645\u064c<\/p>\n<p>\u201cBid\u2019ah itu dua jenis: Bid\u2019ah yang dipuji dan bid\u2019ah yang dikeji. Apa yang sejalan dengan sunnah itu, maka ia dipuji dan apa yang bertentangan dengannya, maka ia dikeji.<!--more--><\/p>\n<p>Melalui riwayat ini, Imam asy Syafi\u2019e membahagikan Bid\u2019ah kepada:<\/p>\n<ol>\n<li>Bid\u2019ah<em>\u00a0Mahmudah<\/em>\u00a0(dipuji)\/\u00a0<em>Ghair Mazmumah<\/em>\u00a0(tidak dikeji)\/\u00a0<strong>Hasanah<\/strong>\u00a0(baik)<\/li>\n<li>Bid\u2019ah\u00a0<em>Mazmumah<\/em>\u00a0(dikeji)\/\u00a0<em>Dhalalah<\/em>\u00a0(sesat)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Imam Nawawi berkata:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0627\u0644\u0628\u0650\u062f\u0639\u064e\u0629\u064f \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u0631\u0652\u0639\u0650 \u0647\u0650\u064a\u064e \u0625\u0650\u062d\u0652\u062f\u064e\u0627\u062b\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0643\u064f\u0646\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0639\u064e\u0647\u062f\u0650 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0647\u0650\u064a\u064e \u0645\u064f\u0646\u0652\u0642\u064e\u0633\u0650\u0645\u064e\u0629\u064c \u0627\u0644\u064e\u0649 \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064d \u0648\u064e\u0642\u064e\u0628\u0650\u064a\u062d\u064e\u0629\u064d<\/p>\n<p><strong>\u201cBid\u2019ah dari segi Syara\u2019 ialah mengada-adakan sesuatu yang tidak ada pada zaman Rasulullah dan ia terbagi kepada hasanah (baik) dan qabihah (buruk).\u201d<\/strong><!--more--><\/p>\n<p>Imam Abd al Haqq ad Dahlawi berkata:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0625\u0650\u0639\u0644\u064e\u0645 \u0623\u064e\u0646 \u0643\u064f\u0644\u0651\u064e \u0645\u064e\u0627 \u0638\u064e\u0647\u064e\u0631\u064e \u0628\u064e\u0639\u062f\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0628\u064e\u062f\u0652\u0639\u064e\u0629\u064c \u0648\u064e\u0643\u064f\u0644\u0651\u064e \u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652\u0641\u064e\u0642\u064e \u0623\u064f\u0635\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0633\u0651\u064b\u0646\u0651\u064e\u0629\u0650 \u0648\u064e\u0642\u064e\u0648\u064e\u0627\u0639\u0650\u062f\u064e\u0647\u0627\u064e \u0623\u064e\u0648 \u0642\u064f\u0628\u0650\u0633\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0647\u064e\u0627<\/p>\n<p><strong>\u201cKetahuilah bahwa setiap yang lahir selepas (zaman) Rasulullah adalah Bid\u2019ah dan setiap yang bersamaan (sesuai) dengan usul sunnah dan kaidah-kaidahnya atau yang diqiyaskan atasnya, maka ia itu Bid\u2019ah hasanah (baik), dan setiap yang bertentangan dengannya (dengan usul sunnah dan kaedah-kaedahnya) maka itu Bid\u2019ah Sayyi\u2019ah (keji) dan Dhalalah (sesat).\u201d<\/strong><!--more--><\/p>\n<p>Al \u2018Allamah al Faqih al Muhaqqiq, Habib Zain al \u2018Abidin ibn Sumaith berkata di dalam kitabnya al Ajwibah al Ghaliyah fi Aqidah al Firqah an Najiah:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0641\u064e\u0643\u064f\u0644\u0651\u064f \u0625\u0650\u062d\u0633\u064e\u0627\u0646\u064d \u0644\u064e\u0645 \u064a\u064f\u0639\u0647\u064e\u062f\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0639\u064e\u0647\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u064e\u0648\u0650\u064a\u0651\u0650 \u0641\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0628\u0650\u062f\u0639\u064e\u0629\u064d \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064d \u064a\u064f\u062b\u064e\u0627\u0628\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0647\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0627\u0645\u0650\u0644\u0647\u0627 \u0628\u0650\u062f\u064e\u0644\u0650\u064a\u0644\u0650 \u0642\u064e\u0648\u0652\u0644\u0650\u0647\u0650 \u0635 : ((\u0645\u064e\u0646 \u0633\u064e\u0646\u0651\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0625\u0650\u0633\u0644\u0627\u064e\u0645\u0650 \u0633\u064f\u0646\u0651\u064e\u0629\u064b \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064b \u0641\u064e\u0639\u064e\u0645\u0650\u0644\u064e \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0643\u064f\u062a\u0650\u0628\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u062b\u0652\u0644\u064f \u0623\u064e\u062c\u0652\u0631\u0650 \u0645\u064e\u0646 \u0639\u064e\u0645\u0650\u0644 \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u064a\u064e\u0646\u0642\u064f\u0635\u064f \u0645\u0650\u0646 \u0623\u064f\u062c\u064f\u0648\u0631\u0650\u0647\u0650\u0645 \u0634\u064e\u064a\u0621\u064c))<\/p>\n<p><strong>\u201cMaka setiap perkara yang baik yang tidak ada pada zaman Nabi, maka ia adalah Bid\u2019ah Hasanah, diberi ganjaran orang yang melakukan dengan dalil perkataan dari Nabi. \u201cSiapa yang mengadakan di dalam Islam sunnah yang baik lalu diamalkan orang kemudian sunnahnya itu, diberikan kepadanya pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya dengan baik dengan tidak dikurangkan sedikitpun dari pahala orang yang mengerjakan itu.\u201d<\/strong><!--more--><\/p>\n<p>Hadist dari Abd ar Rahman bin Abd al Qari tentang solat Tarawih dimana beliau (Abdu ar Rahman) keluar bersama Sayyidina Umar bin al Khattab pada suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid. Mereka berdua mendapati sekumpulan sahabat sholat sedirian dan yang lain berjamaah. Sayyidina Umar mengatakan jika beliau mengumpulkan mereka untuk mengikuti seorang qari (imam), maka ia lebih baik. Beliau kemudian menyuruh mereka untuk mengikuti Ubai bin Ka\u2019ab. Pada malam lain ketika ramai terdapat para jamaah sholat di belakang seorang imam, Sayyidina Umar berkata:<\/p>\n<p>\u0646\u0650\u0639\u0652\u0645\u064e\u062a\u0650 \u0627\u0644\u0628\u0650\u062f\u0639\u064e\u0629\u064f \u0647\u064e\u0630\u0650\u0647\u0650<\/p>\n<p><strong>\u201cIni adalah Bid\u2019ah yang baik.\u201d<\/strong><!--more--><\/p>\n<p>Para Ulama\u2019 telah bersepakat tentang pembahagian Bid\u2019ah kepada yang terpuji dan tercela. Sayyidina Umar \u0633 adalah orang pertama yang mengatakan demikian.<\/p>\n<p>Para Ulama\u2019 juga bersepakat mengatakan hadits:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0643\u064f\u0644\u0651\u064e \u0628\u0650\u062f\u0652\u0639\u064e\u0629\u064d \u0636\u064e\u0644\u0627\u064e\u0644\u064e\u0629\u064c<\/p>\n<p><strong>\u201cSetiap bid\u2019ah itu sesat.\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Perlu dikhususkan bahwa hanya Imam asy Syatibi saja yang tidak bersama dalam kesepakatan ini. Beliau menolak pembahagian bid\u2019ah seperti ini dan mendakwa bid\u2019ah semuanya tercela. Walau bagaimanapun Imam asy Syatibi mengakui ada diantara bid\u2019ah tersebut yang dituntut sama ada dalam bentuk wajib atau sunat. Hanya beliau tidak menamakannya \u2018bid\u2019ah\u2019 tetapi memasukkannya dalam kategori \u2018Maslahah al Mursalah\u2019 (kepentingan umum). Justru perbedaan pendapat beliau hanyalah dari segi menamakannya saja. Dengan kata lain, menurut beliau bid\u2019ah yang dituntut tidak boleh dinamakan bid\u2019ah, tetapi dinamakan \u2018Maslahah\u2019.<!--more--><\/p>\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n<p>Rasul bersabda, berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafa\u2019 ar-Rasyidin. Dari bahasan sebelumnya, kita tahu bahwa para Khulafa\u2019 ar-Rasyidin pun juga melakukan bid\u2019ah hasanah. Justru penolakan atas hal inilah yang merupakan bid\u2019ah dholalah. Sebelum kita mengatakan bahwa sesuatu dikatakan bid\u2019ah dholalah atau tidak, mari kita cek terlebih dahulu, apakah ada syariat yang dilanggar? Adakah berpedoman pada Al- Qur\u2019an, sunnah-sunnah atau ijma\u2019 para ulama di dalamnya? Apakah membawa kemaslahatan untuk umat?<!--more--><\/p>\n<p>Cara memaknai bid\u2019ah akan berbeda jika hanya berdasarkan hadits secara tekstual. Lebih baik dalam menafsirkan hadits, kita juga merujuk pada pendapat ulama-ulama terdahulu yang ternyata, hampir semua ulama membagi bid\u2019ah menjadi dua macam. Hal yang ditekankan di sini adalah landasan hukum. Landasan hukum itu sendiri bukan hanya tekstual pada Al-Qur\u2019an dan hadits, tetapi juga ijma\u2019 para ulama yang lebih kompeten dalam menafsirkan Al-Qur\u2019an dan hadits tersebut.<!--more--><\/p>\n<p>Melalui tulisan ini, saya hanya berharap agar bisa menjadi rujukan bagi para pembaca agar tetap bisa saling menghargai dan menjunjung tinggi persatuan dalam Islam. Tidak ada maksud sama sekali untuk menggurui. Saya hanya seorang muslimah berpengetahuan biasa saja yang menginginkan Islam sebagai agama pembawa kedamaian.<!--more--><\/p>\n<p>Wallahu a\u2019lam bishawab.<\/p>\n<p>Jakarta Pusat, 3 Februari 2015<\/p>\n<p>Diana Sulistyowati<\/p>\n<p>Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin (IMAN)-STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara)<!--more--><\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka:<\/strong><\/p>\n<p>Fuadi, Suud.\u00a0<em>Aswaja, Anggitan Pengantar Menuju\u00a0 Gerakan Sosial.\u00a0<\/em><a href=\"http:\/\/blog.umy.ac.id\/ghea\/files\/2012\/01\/Ahlussunnah-Wal-Jamaah-pel-aswaja-uin.doc\" data-cke-saved-href=\"http:\/\/blog.umy.ac.id\/ghea\/files\/2012\/01\/Ahlussunnah-Wal-Jamaah-pel-aswaja-uin.doc\">http:\/\/blog.umy.ac.id\/ghea\/files\/2012\/01\/Ahlussunnah-Wal-Jamaah-pel-aswaja-uin.doc<\/a>. (diakses 3 Februari 2015)<!--more--><\/p>\n<p>Bin Haji Joll, Muhadir.2014.<em>Hujjah dan Dalil Wujudnya Bid\u2019ah Hasanah di dalam Islam.<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/ibadurrahman99.wordpress.com\/2014\/09\/19\/hujah-dan-dalil-wujudnya-bidah-hasanah-di-dalam-islam-ustaz-muhadir-bin-haji-joll\/\" data-cke-saved-href=\"https:\/\/ibadurrahman99.wordpress.com\/2014\/09\/19\/hujah-dan-dalil-wujudnya-bidah-hasanah-di-dalam-islam-ustaz-muhadir-bin-haji-joll\/\">https:\/\/ibadurrahman99.wordpress.com\/2014\/09\/19\/hujah-dan-dalil-wujudnya-bidah-hasanah-di-dalam-islam-ustaz-muhadir-bin-haji-joll\/<\/a>\u00a0(diakses 3 Februari 2015)<!--more--><\/p>\n<p>Aswaja.<em>Dalil kewajiban mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. dan para Shahabat beliau (Khulafa\u2019ur Rasyidin.<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/laskarnahdiyin.wordpress.com\/menyingkap-tipu-daya-fitnah-keji-fatwa-fatwa-kaum-salafi-wahabi\/kejanggalan-kaum-salafi-wahabi-dalam-berdalil\/dalil-kewajiban-mengikuti-sunnah-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-beliau-khulafaur-rasyidin\/\" data-cke-saved-href=\"https:\/\/laskarnahdiyin.wordpress.com\/menyingkap-tipu-daya-fitnah-keji-fatwa-fatwa-kaum-salafi-wahabi\/kejanggalan-kaum-salafi-wahabi-dalam-berdalil\/dalil-kewajiban-mengikuti-sunnah-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-beliau-khulafaur-rasyidin\/\">https:\/\/laskarnahdiyin.wordpress.com\/menyingkap-tipu-daya-fitnah-keji-fatwa-fatwa-kaum-salafi-wahabi\/kejanggalan-kaum-salafi-wahabi-dalam-berdalil\/dalil-kewajiban-mengikuti-sunnah-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-beliau-khulafaur-rasyidin\/<\/a>\u00a0(diakses 3 Februari 2015)<!--more--><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/submiis.blogspot.com\/2013\/12\/hadits-arbain-ke-28-berpegang-teguh.html\" data-cke-saved-href=\"http:\/\/submiis.blogspot.com\/2013\/12\/hadits-arbain-ke-28-berpegang-teguh.html\">Hadits Arbain ke-28 (Berpegang Teguh Pada Sunnah)<\/a>.2013.\u00a0<a href=\"http:\/\/submiis.blogspot.com\/2013\/12\/hadits-arbain-ke-28-berpegang-teguh.html\" data-cke-saved-href=\"http:\/\/submiis.blogspot.com\/2013\/12\/hadits-arbain-ke-28-berpegang-teguh.html\">http:\/\/submiis.blogspot.com\/2013\/12\/hadits-arbain-ke-28-berpegang-teguh.html<\/a>\u00a0(diakses 3 Februari 2015)<!--more--><\/p>\n<p>Hadits Arba\u2019in ke-28: Nasehat untuk Menjelaskan Sunnah dan Menghindari Bid\u2019ah. 2014.\u00a0<a href=\"https:\/\/alquranmulia.wordpress.com\/2014\/03\/05\/hadits-arbain-ke-28-nasehat-untuk-menjalankan-sunnah-dan-menghindari-bidah\/\" data-cke-saved-href=\"https:\/\/alquranmulia.wordpress.com\/2014\/03\/05\/hadits-arbain-ke-28-nasehat-untuk-menjalankan-sunnah-dan-menghindari-bidah\/\">https:\/\/alquranmulia.wordpress.com\/2014\/03\/05\/hadits-arbain-ke-28-nasehat-untuk-menjalankan-sunnah-dan-menghindari-bidah\/<\/a>\u00a0(diakses 3 Februari 2015)<!--more--><\/p>\n<p>FOKRIS NU (Forum Komunikasi Remaja Islam NU).2012.<em>Makna \u201cKullu Bid\u2019ah Dholalah\u201d.<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/permalink.php?id=222754921109012&amp;story_fbid=478331952217973\" data-cke-saved-href=\"https:\/\/www.facebook.com\/permalink.php?id=222754921109012&amp;story_fbid=478331952217973\">https:\/\/www.facebook.com\/permalink.php?id=222754921109012&amp;story_fbid=478331952217973<\/a>\u00a0(diakses 3 Februari 2015)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh: Diana Sulistyowati \u201cSuatu saat Nana pasti akan mengerti dan paham tentang perbedaan-perbedaan ini. Silahkan sekarang diserap ilmu dari berbagai sumber. Aku akan selalu terbuka untuk sharing. Aku juga masih dalam tahap belajar.\u201d kata kakak menenangkanku pagi itu.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":456,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/455"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=455"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/455\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=455"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=455"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=455"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}