{"id":445,"date":"2016-05-14T03:42:13","date_gmt":"2016-05-14T03:42:13","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=445"},"modified":"2016-05-14T03:42:13","modified_gmt":"2016-05-14T03:42:13","slug":"belajar-dari-pak-hasyim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2016\/05\/14\/belajar-dari-pak-hasyim\/","title":{"rendered":"Belajar dari Pak Hasyim"},"content":{"rendered":"<p>Sabtu (14\/5) minggu kemarin, KBRI Malaysia mengadakan Pengajian Isra\u2019 Mi\u2019raj Nabi Muhammad Saw. Adapun sebagai pembicara, tampil KH Hasyim Muzadi. Sebagaimana galibnya para Kyai NU, Pak Hasyim (panggilan akrab beliau) juga tampil dengan performa yang memukau. Artikulasinya jelas. Tidak ada keraguan. Beliau juga berbicara atas nama pengalaman, bukan hanya penelitian. Tidak terlalu lama, tidak juga terlalu pendek. Tidak terlalu ilmiah, namun juga tidak bisa disebut dagelan. \u201cIki pengajian lho rek,\u201d ajaknya menenangkan gelak hadirin.<\/p>\n<p>Ceramahnya tidak hanya menjangkau otak para intelektual, tapi juga menjejak pengetahuan orang awam. Saya kira, Pak Hasyim adalah di antara mereka yang diajak bicara Rasulullah Saw; \u201c<em>Kallim al-naas bi qadri uqulihim<\/em>\u201d (Nasihatilah manusia sesuai dengan tingkat pengetahuannya). Pokoknya, tidak ada yang cemberut ketika itu. Taqwa dan tawa bercampur baur jadi satu. \u201cPokoke nyenengke,\u201d kataku dalam hati.<\/p>\n<p>Dengan background pendidikannya yang relative divergen, ia mampu membawa perbedaan NU dengan Muhammadiyah sedemikian mudah dipahami. Sebagai contoh, tentang kasus kirim pahala dalam tahlilan. Orang NU melakukan tahlilan karena merasa bahwa pahala tersebut sampai kepada si mayit. \u201cPahala pasti sampai, wong kiriman ndak pernah mbalek (kembali),\u201d tandasnya disambut ger-geran hadirin. Di saat yang sama, ia juga memberikan justifikasi bagi Muhammadiyah yang tidak mau tahlilan. \u201cGimana mau nyampaek, lha wong nota pengiriman aja ndak ada,\u201d lanjutnya memecahkan gelak ruangan.<\/p>\n<p>Itu juga tidak berarti beliau abu-abu. Posisi beliau cukup jelas. \u201cOk, gimana kalau Muhammadiyah ikut tahlilan dengan niat baca al-Quran saja, dan ndak usah diniatkan mengirimkan pahala?\u201d himbaunya. Apapun bentuk dan substansinya, pendekatan seperti ini sangat baik. Meski tidak serta merta memuaskan kedua pihak, sekurang-kurangnya mampu mencairkan suasana.<\/p>\n<p>Kita tentu tidak bisa mengesampingkan gaya ceramah serius ala Prof. Quraish Shihab. Yang bisa katakan adalah pendekatan serius semacam itu punya segmen tersendiri. Gaya humor semacam KH Anwar Zahid tentunya juga punya audien dengan kriteria khusus. Tapi, bagi saya, pendekatan paling moderat adalah gaya semacam Pak Hasyim. Sekali lagi, bagi saya lho ya. Beliau berdiri di antara kedua aliran tersebut. Dan karena \u201ckhair al-umur ausatuha (sebaik-baik perkara adalah moderasinya)\u201d, maka saya kira gaya seperti inilah yang sesungguhnya paling diperlukan dalam dunia dakwah sekarang ini. Tidak terlalu banyak tawa, dan juga tidak terlalu serius. Orang \u2013 terutama para awam \u2013 tidak merasa bahwa mereka dicekoki pengetahuan-pengetahuan agama. Meski itu memang acara agama. Ajaran dan doktrin Islam masuk dengan sedemikian lembutnya.<\/p>\n<p>Dari gaya Pak Hasyim bicara, saya juga mengambil kesimpulan; \u201cKalau mau ceramah anda menarik, bicaralah dengan gaya ngomong face to face,\u201d lepas, tanpa beban. Bukan tanpa persiapan lho ya. Saya masih ingat ketika kecil. Ketika saya juara pidato di Ma\u2019had. \u201cSaya hampir tidak menganggap bahwa para audiens lebih tahu dari saya.\u201d Meski, ketika sekarang sudah besar, terkadang menjadi seorang pemalu. Jadi, intinya, kalau ingin pidato anda menarik, jangan bicara dengan beban yang nggandol (menanggung). Lepas saja. Meski di atas panggung.<\/p>\n<p>Paginya di hotel, kami sempatkan bertemu dengan beliau lagi. Bersama-sama kawan-kawan KMNU, kami ingin melepas keberangkatan beliau ke Tanah Air. Dalam ruangan yang serba rapi dan hening, suara Pak Subhan memecah. Mantan Presiden PPI Malaysia ini mengaku, \u201cKami datang ke sini, ingin agar Pak Kyai bisa memberi kami wejangan dan nasehat agar kami menjadi lebih semangat.\u201d Sekali lagi dengan respon humorisnya, \u201cTapi, saya takut (setelah dikasih nasihat) kalian malah lemes nanti, heheheee.\u201d Pertemuan mulai cair. \u201cPak Hasyim ini memang guyon terus,\u201d sangkaku dalam hati.<\/p>\n<p>Dalam sejam pertemuan, beliau membicarakan NU sebagai orang tua. Mengajari, mendidik, mengarahkan, dan menasihati. \u201cNjobo njero pokoke (luar dalam),\u201d kesanku. Tentang liberalisme, \u201dItu mereka yang bosen jadi orang sholih gitu aja, hehhe..\u201d Syiah, menurutnya, harus betul-betul diwaspadai karena gerakannya sudah masuk, menyusup, dan menjalar ke mana-mana. Porsi besar diberikan terhadap komunisme, di mana ia dikategorikan sebagai tantangan terbesar NU. Dan yang lain lagi, lagi, dan lagi.<\/p>\n<p>Saya yang sedari awal suudzon terhadap Pak Hasyim karena gemar guyonnya, menjadi sadar. Betapa banyak tantangan yang ada di hadapan kita. Betapa sekian permasalahan perlu kita selesaikan. Betapa sesungguhnya kita tidak bisa memejam mata ketika menyadari semuanya. Kami sadar bahwa kita tidak sedang hidup di dunia yang serba ideal. Itu semua adalah tugas kita. Itu juga bukan berarti kita harus memusuhinya, tapi kita mengajak mereka. Menuntun mereka dengan cinta. Bukan dengan paksa. Kebaikan disebut kebaikan karena ada keburukan. Pendakwah pun dibilang pendakwah karena ada pendosa. Kebenaran terbukti benar karena ada yang terbukti salah.<\/p>\n<p>\u201cHmmm\u2026bener ya peks, kok malah jadi lemes ya,\u201d kata Robby, si Bantany sahabatku. Wallahu A\u2019lam.<\/p>\n<p><em>*)By: Ahmad Aziz, KMNU Malaysia.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu (14\/5) minggu kemarin, KBRI Malaysia mengadakan Pengajian Isra\u2019 Mi\u2019raj Nabi Muhammad Saw. Adapun sebagai pembicara, tampil KH Hasyim Muzadi. Sebagaimana galibnya para Kyai NU, Pak Hasyim (panggilan akrab beliau) juga tampil dengan performa yang memukau. Artikulasinya jelas. Tidak ada keraguan. Beliau juga berbicara atas nama pengalaman, bukan hanya penelitian. Tidak terlalu lama, tidak juga&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":449,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/445"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=445"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/445\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=445"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=445"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=445"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}