{"id":4152,"date":"2019-01-15T11:41:08","date_gmt":"2019-01-15T11:41:08","guid":{"rendered":"https:\/\/kmnu.or.id\/?p=4152"},"modified":"2019-01-15T11:41:08","modified_gmt":"2019-01-15T11:41:08","slug":"mengenal-gempa-bumi-dan-tsunami-bagian-iii-tipe-tipe-pergerakan-patahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2019\/01\/15\/mengenal-gempa-bumi-dan-tsunami-bagian-iii-tipe-tipe-pergerakan-patahan\/","title":{"rendered":"MENGENAL GEMPA BUMI DAN TSUNAMI BAGIAN III: TIPE\u2013TIPE PERGERAKAN PATAHAN"},"content":{"rendered":"<p>Teori tektonik lempeng beserta tipe pergerakan lempeng \u2013 lempeng yang ada di bumi telah dijelaskan dalam bagian I dan II. Pergerakan lempeng yang memunculkan subduksi (tunjaman) serta tipe <em>transform<\/em> mampu menimbulkan gempa bumi akibat pergerakan batuan \u2013 batuan yang berada di atasnya. Batuan \u2013 batuan yang tidak stabil inilah yang didefinisikan sebagai patahan (<em>fault<\/em>), yang mampu membangkitkan tsunami jika terjadi di dasar laut. Patahan memiliki berbagai parameter seperti <em>foot wall<\/em> dan <em>hanging wall<\/em>, serta parameter penting lainnya seperti <em>strike<\/em>, <em>dip<\/em>, dan <em>slip \/ rake<\/em>, yang sudah dijelaskan di bagian I.<\/p>\n<p>Pergerakan <em>hanging wall<\/em> dapat digunakan dalam menentukan klasifikasi geometri patahan. Secara umum terbagi menjadi dua tipe : <em>dip \u2013 slip <\/em>dan<em> strike \u2013 slip<\/em>. Patahan tipe <em>dip \u2013 slip <\/em>juga dibagi menjadi dua : <em>normal fault<\/em> dan <em>reverse fault<\/em>. <em>Normal fault<\/em> ditunjukkan dalam Gambar 1a. Patahan tipe ini terjadi di daerah dengan bebatuan yang putus atau diregangkan oleh tekanan yang bersifat tensional. Daerah yang tidak berbatu bergerak turun relatif terhadap daerah yang berbatu. Kita masih bisa berjalan di atas patahan yang dihasilkan karena patahan yang terbentuk tidak membentuk bagian yang menjorok ke salah satu sisi.<\/p>\n<p><em>Reverse fault<\/em> terbentuk di daerah yang saling mengalami dorongan bersamaan (kompresional) sehingga bagian yang berbatu memiliki ruang yang lebih sempit (Gambar 1b). Langkan (bagian yang menjorok ke salah satu sisi) yang terbentuk di atas garis batas patahan membuat adanya jarak antara suatu bagian ke bagian lainnya, sehingga tidak dapat dilalui sebagaimana yang terbentuk dalam <em>normal fault<\/em>. <em>Thrust fault<\/em> merupakan tipe tertentu dari <em>reverse fault<\/em> yang memiliki sudut yang sangat kecil (Gambar 2).<\/p>\n<table style=\"height: 5px;\" width=\"5\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<table style=\"height: 34px;\" width=\"5\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-4155\" src=\"https:\/\/kmnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/normal-fault-gbr-1a.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"172\" \/> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4157 alignright\" src=\"https:\/\/kmnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/reverse-fault-gbr-1-b.png\" alt=\"\" width=\"290\" height=\"157\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Gambar 1. <em>Normal fault <\/em>(sesar naik) (a) dan <em>reverse fault <\/em>(sesar turun) (b)<br \/>\n(Sumber: https:\/\/www.windows2universe.org)<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4158 aligncenter\" src=\"https:\/\/kmnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/thrust-gbr-2.png\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"240\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 2. <em>Thrust fault<\/em> (Sumber : <a href=\"https:\/\/image.slidesharecdn.com\">https:\/\/image.slidesharecdn.com<\/a>)<\/p>\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Pergerakan yang terjadi di sepanjang <em>strike \u2013 slip fault<\/em> dalam arah horizontal dengan bagian yang berbatu di satu sisi patahan bergerak ke arah kiri dan bagian satunya bergerak ke arah kanan (Gambar 3). <em>Strike \u2013 slip <\/em>\/ <em>transform fault <\/em>tidak menghasilkan jurang (<em>cliff<\/em>) ataupun tebing curam (<em>scarps<\/em>) karena tidak terjadi pergerakan secara vertikal antara dua daerah berbatu yang dilalui patahan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4154 aligncenter\" src=\"https:\/\/kmnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/3.gif\" alt=\"\" width=\"318\" height=\"157\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 3. <em>Transform fault<\/em> (Sumber : https:\/\/www.windows2universe.org)<\/p>\n<p><em>Oblique fault<\/em> merupakan perpaduan mekanisme patahan antara <em>dip \u2013 slip<\/em> dalam arah vertikal dan <em>strike \u2013 slip<\/em> dalam arah horizontal (Gambar 4). Fenomena ini terjadi karena kombinasi gaya tekan (<em>compression<\/em>) dan gaya geser (<em>shear<\/em>). Hampir seluruh sesar memiliki komponen <em>dip \u2013 slip<\/em> dan <em>strike \u2013 slip<\/em> (baik <em>normal fault<\/em> ataupun <em>reverse fault<\/em>), sehingga penentuan patahan yang <em>oblique<\/em> memerlukan komponen <em>dip<\/em> dan <em>strike<\/em> agar dapat dihitung secara signifikan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4156 aligncenter\" src=\"https:\/\/kmnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/oblique-gbr-4.png\" alt=\"\" width=\"480\" height=\"360\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 4. <em>Oblique fault<\/em> (Sumber : <a href=\"https:\/\/www.iris.edu\/hq\/inclass\/animation\/fault_oblique_\">https:\/\/www.iris.edu\/hq\/inclass<\/a>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Secara umum, patahan yang mampu membangkitkan tsunami adalah tipe patahan <em>dip \u2013 slip<\/em> dan <em>oblique fault<\/em>, karena keduanya mampu mengangkat massa air sehingga pergerakannya yang mengarah ke pantai akan menimbulkan tsunami. Pertemuan dua lempeng, yakni lempeng benua dan samudera, akan menghasilkan gempa bumi di permukaan. Gempa bumi ini memicu pergerakan patahan baik itu secara <em>strike \u2013 slip<\/em>, <em>dip \u2013 slip<\/em>, maupun <em>oblique fault<\/em> tergantung tipe patahan di daerah hiposentrum. Kecuali <em>strike \u2013 slip<\/em> kedua tipe patahan lainnya akan memicu terbentuknya gelombang secara sinusoidal yang mengikuti dasar laut yang berupa patahan. Gelombang yang pertama terbentuk ini tidak terlalu besar karena dasar laut yang dalam. Penjalaran gelombang yang menuju pantai akan mengalami beberapa proses seperti <em>shoaling<\/em> (pendangkalan) dan refraksi (Holthuijsen, 2007).<\/p>\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Gelombang yang menuju perairan dangkal akan mengalami proses <em>shoaling<\/em> yang berujung pada pengurangan kecepatan dan panjang gelombang, namun menaikkan tinggi gelombang. Tinggi gelombang yang dihasilkan akan semakin besar ketika mendekati pantai. Hal ini disebabkan oleh efek gesekan dasar yang menghambat laju penjalaran gelombang. Tinggi gelombang yang besar ini akan menghantam pantai sebelum memasuki daratan di sekitarnya. Bentuk daratan di sekitar pantai yang terjal dan curam mampu menghambat penjalaran tsunami, sementara bentuk teluk yang cekung, bercorong, dan daratan yang cenderung datar akan membuat penjalaran tsunami dapat lebih jauh di daratan (Diposaptono, 2008 dalam Firmansyah, 2012). Lebih lengkapnya terkait tsunami berikut karakteristik dan proses \u2013 prosesnya akan dibahas pada bagian IV, yang juga merupakan bagian akhir dari pembahasan \u201cMengenal Gempa Bumi dan Tsunami\u201d, <em>Insyaallah<\/em>.<\/p>\n<p><em>Bersambung<\/em><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<p>Sumber :<\/p>\n<p>Firmansyah, S. 2012. Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran akibat Bencana Tsunami, Tugas \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Akhir, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Institut Pertanian Bogor, Bogor<\/p>\n<p>Holthuijsen, 2007. Waves in Oceanic and Coastal Waters, pp. 404. Cambridge University Press, January 2007. ISBN-10: . ISBN-13:. 10.2277\/0521860288.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.windows2universe.org\/earth\/geology\/fault.html\">https:\/\/www.windows2universe.org\/earth\/geology\/fault.html<\/a> (diakses pada 20 November 2017 pukul 15.20)<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.ngdc.noaa.gov\">www.ngdc.noaa.gov<\/a> (diakses pada 20 November 2017 pukul 12.54)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teori tektonik lempeng beserta tipe pergerakan lempeng \u2013 lempeng yang ada di bumi telah dijelaskan dalam bagian I dan II. Pergerakan lempeng yang memunculkan subduksi (tunjaman) serta tipe transform mampu menimbulkan gempa bumi akibat pergerakan batuan \u2013 batuan yang berada di atasnya. Batuan \u2013 batuan yang tidak stabil inilah yang didefinisikan sebagai patahan (fault), yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4153,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[122,325,435],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4152"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4152"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4152\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}