{"id":2663,"date":"2017-03-16T09:52:25","date_gmt":"2017-03-16T09:52:25","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=2663"},"modified":"2017-03-16T09:52:25","modified_gmt":"2017-03-16T09:52:25","slug":"belajar-dari-pak-hasyim-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2017\/03\/16\/belajar-dari-pak-hasyim-2\/","title":{"rendered":"Belajar dari Pak Hasyim"},"content":{"rendered":"<p>Beberapa hari lalu tepatnya tanggal 16 Maret 2017 umat Islam Indonesia berduka atas kepulangan putra bangsa dan juga ulama umat Islam Indonesia. Beliau adalah KH. Ahmad Hasyim Muzadi, kelahiran Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944. Beliau adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang adalah tempat beliau mengabdikan diri dengan menjadi Pengasuh Pondok Pesantren tersebut. Tidak hanya berkecimpung dalam ranah agama, beliau juga pernah terjun di ranah politik, yakni digandeng oleh Megawati Soekarno Putri untuk menjadi calon wakil presiden dalam Pemilihan Umum Presiden 2004. Tak heran jika jika kepulangannya menghadap Yang Maha Kuasa membuat banyak orang terutama umat Islam kehilangan sosok ulama yang meneduhkan dan mengayomi.<!--more--><\/p>\n<p>Tahun 2016<strong>,\u00a0<\/strong>KBRI Malaysia beruntung karena kedatangan sosok ulama dari tanah air untuk mengobati kerinduan dan untuk mendapatkan ilmu serta nasihatnya kepada warga Indonesia yang ada di Malaysia. KBRI Malaysia mengadakan Pengajian\u00a0<em>Isra\u2019 Mi\u2019raj<\/em>\u00a0Nabi Muhammad Saw. Adapun sebagai pembicara, tampil KH. Hasyim Muzadi. Sebagaimana galibnya para Kiai NU, Pak Hasyim (panggilan akrab beliau) juga tampil dengan performa yang memukau. Artikulasinya jelas dan tidak ada keraguan. Beliau juga berbicara atas nama pengalaman, bukan hanya penelitian. Cara bicaranya tidak terlalu lama, tidak juga terlalu pendek, tidak terlalu ilmiah, namun juga tidak bisa disebut dagelan. \u201c<em>Iki pengajian lho rek<\/em>,\u201d ajaknya menenangkan gelak hadirin.<\/p>\n<p>Ceramah Pak Hasyim tidak hanya menjangkau otak para intelektual, tapi juga menjejak pengetahuan orang awam. Saya kira, Pak Hasyim adalah di antara mereka yang diajak bicara Rasulullah Saw, \u201c<em>Kallim al-naas bi qadri uqulihim<\/em>\u201d (Nasihatilah manusia sesuai dengan tingkat pengetahuannya). Pokoknya, tidak ada yang cemberut ketika itu. Takwa dan tawa bercampur baur jadi satu. \u201c<em>Pokoke nyenengke<\/em>,\u201d kataku dalam hati.<\/p>\n<p>Berdasarkan latar belakang pendidikannya yang relatif divergen, ia mampu membawa perbedaan NU (Nahdlatul Ulama) dengan Muhammadiyah sedemikian mudah dipahami. Sebagai contoh, tentang kasus kirim pahala dalam\u00a0<em>tahlilan<\/em>. Orang NU melakukan\u00a0<em>tahlilan<\/em>\u00a0karena merasa bahwa pahala tersebut sampai kepada si mayit. \u201cPahala pasti sampai,\u00a0<em>wong\u00a0<\/em>kiriman\u00a0<em>ndak<\/em>\u00a0pernah\u00a0<em>mbalek<\/em>\u00a0(kembali),\u201d tandasnya disambut\u00a0<em>ger-geran<\/em>\u00a0hadirin. Di saat yang sama, ia juga memberikan justifikasi bagi Muhammadiyah yang tidak mau\u00a0<em>tahlilan<\/em>. \u201c<em>Gimana<\/em>\u00a0mau\u00a0<em>nyampek,<\/em>\u00a0<em>lha wong<\/em>\u00a0nota pengiriman aja\u00a0<em>ndak<\/em>\u00a0ada,\u201d lanjutnya memecahkan gelak ruangan.<\/p>\n<p>Pendapat belaiu di atas juga tidak berarti beliau abu-abu. Posisi beliau cukup jelas. \u201c<em>Ok<\/em>,\u00a0<em>gimana<\/em>\u00a0kalau Muhammadiyah ikut\u00a0<em>tahlilan<\/em>\u00a0dengan niat baca\u00a0<em>al-Quran<\/em>\u00a0saja, dan\u00a0<em>ndak<\/em>\u00a0usah diniatkan mengirimkan pahala?\u201d himbaunya. Apapun bentuk dan substansinya, pendekatan seperti ini sangat baik. Meski tidak serta merta memuaskan kedua pihak, sekurang-kurangnya mampu mencairkan suasana.<\/p>\n<p>Kita tentu tidak bisa mengesampingkan gaya ceramah serius ala Prof. Quraish Shihab, yang bisa katakan adalah pendekatan serius semacam itu punya segmen tersendiri. Gaya humor semacam KH. Anwar Zahid tentunya juga punya\u00a0<em>audience<\/em>\u00a0dengan kriteria khusus, tetapi bagi saya, pendekatan paling moderat adalah gaya semacam Pak Hasyim. Sekali lagi, bagi saya\u00a0<em>lho<\/em>\u00a0<em>ya<\/em>. Beliau berdiri di antara kedua aliran tersebut, dan karena \u201c<em>khair al-umur ausatuha<\/em>\u00a0(sebaik-baik perkara adalah moderasinya)\u201d, maka saya kira gaya seperti inilah yang sesungguhnya paling diperlukan dalam dunia dakwah sekarang ini. Tidak terlalu banyak tawa, dan juga tidak terlalu serius. Orang \u2013terutama para awam\u2013 tidak merasa bahwa mereka dicekoki pengetahuan-pengetahuan agama. Meskipun itu memang acara agama. Ajaran dan doktrin Islam masuk dengan sedemikian lembutnya.<\/p>\n<p>Lewat gaya Pak Hasyim bicara, saya bisa mengambil kesimpulan, \u201cKalau mau ceramah anda menarik, bicaralah dengan gaya\u00a0<em>ngomong face to face<\/em>, lepas, tanpa beban\u201d. Bukan tanpa persiapan\u00a0<em>lho ya<\/em>. Saya masih ingat ketika kecil. Ketika saya juara pidato di Ma\u2019had. \u201cSaya hampir tidak menganggap bahwa para\u00a0<em>audience<\/em>\u00a0lebih tahu dari saya.\u201d Meski, ketika sekarang sudah besar, terkadang menjadi seorang pemalu. Intinya, kalau ingin pidato anda menarik, jangan bicara dengan beban yang\u00a0<em>nggandol<\/em>\u00a0(menanggung). Lepas saja. Meski di atas panggung.<\/p>\n<p>Paginya di hotel, kami sempatkan bertemu dengan beliau lagi. Bersama-sama kawan-kawan KMNU, kami ingin melepas keberangkatan beliau ke Tanah Air. Dalam ruangan yang serba rapi dan hening, suara Pak Subhan memecah. Mantan Presiden PPI Malaysia ini mengaku, \u201cKami datang ke sini, ingin agar Pak Kiai bisa memberi kami wejangan dan nasehat agar kami menjadi lebih semangat.\u201d Sekali lagi dengan respon humorisnya, \u201cTapi, saya takut (setelah dikasih nasihat) kalian malah lemes nanti,\u00a0<em>heheheee<\/em>.\u201d Pertemuan mulai cair. \u201cPak Hasyim ini memang guyon terus,\u201d sangkaku dalam hati.<\/p>\n<p>Dalam sejam pertemuan, beliau membicarakan NU sebagai orang tua, mengajari, mendidik, mengarahkan, dan menasihati. \u201c<em>Njobo njero pokoke<\/em>\u00a0(luar dalam),\u201d kesanku. Tentang liberalisme, \u201dItu mereka yang\u00a0<em>bosen<\/em>\u00a0jadi orang\u00a0<em>sholih gitu aja<\/em>,\u00a0<em>hehhe..<\/em>\u201d Syiah, menurutnya, harus betul-betul diwaspadai karena gerakannya sudah masuk, menyusup, dan menjalar ke mana-mana. Porsi besar diberikan terhadap komunisme, di mana ia dikategorikan sebagai tantangan terbesar NU, dan yang lain lagi, lagi, dan lagi.<\/p>\n<p>Saya yang sedari awal\u00a0<em>suudzon<\/em>\u00a0terhadap Pak Hasyim karena gemar guyonnya, menjadi sadar. Betapa banyak tantangan yang ada di hadapan kita. Betapa sekian permasalahan perlu kita selesaikan. Betapa sesungguhnya kita tidak bisa memejam mata ketika menyadari semuanya. Kami sadar bahwa kita tidak sedang hidup di dunia yang serba ideal. Itu semua adalah tugas kita. Itu juga bukan berarti kita harus memusuhinya, tetapi kita mengajak mereka. Menuntun mereka dengan cinta, bukan dengan paksa. Kebaikan disebut kebaikan karena ada keburukan. Pendakwah pun dibilang pendakwah karena ada pendosa. Kebenaran terbukti benar karena ada yang terbukti salah.<\/p>\n<p>\u201c<em>Hmmm\u2026bener ya peks, kok malah jadi lemes ya<\/em>,\u201d kata Robby, Si Bantany sahabatku.\u00a0<em>Wallahu A\u2019lam.<\/em><\/p>\n<p>(Aziz Ahmad\/Eff)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa hari lalu tepatnya tanggal 16 Maret 2017 umat Islam Indonesia berduka atas kepulangan putra bangsa dan juga ulama umat Islam Indonesia. Beliau adalah KH. Ahmad Hasyim Muzadi, kelahiran Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944. Beliau adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang adalah tempat beliau mengabdikan diri&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2664,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2663"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2663"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2663\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2663"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2663"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2663"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}