{"id":2660,"date":"2017-03-11T09:39:52","date_gmt":"2017-03-11T09:39:52","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=2660"},"modified":"2017-03-11T09:39:52","modified_gmt":"2017-03-11T09:39:52","slug":"kmnu-malaysia-kajian-kitab-klasik-dalam-program-rezende-talim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2017\/03\/11\/kmnu-malaysia-kajian-kitab-klasik-dalam-program-rezende-talim\/","title":{"rendered":"KMNU Malaysia: Kajian Kitab Klasik dalam Program Rezende Ta&#8217;lim"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kuala Lumpur-KMNU Online<\/strong><\/p>\n<p>Sabtu (11\/03), Guna meningkatkan rasa kecintaan terhadap ilmu dan ulama, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Malaysia mengadakan kajian kitab\u00a0<em>turats<\/em>\u00a0mingguan. Kegiatan yang dibungkus dalam program\u00a0<em>Rezende Ta\u2019lim<\/em>\u00a0atau pengajian keliling kampus ini, untuk serial perdananya, bertempat di Masjid Sultan Haji Ahmad Shah, International Islamic University Malaysia (IIUM). Isi kajian ini mengulas dua kitab klasik yang sudah tidak asing lagi didengar di kalangan pelajar, yaitu kitab \u201c<em>Bidayatul Hidayah<\/em>\u201d karya Imam Al Ghazali dan kitab \u201c<em>Mafhum Ahli Sunnah Wal Jamaah\u00ed<\/em>\u201d karya KH. Abul Fadhol As-Senori, Tuban.<\/p>\n<p>Kajian kitab\u00a0<em>turats<\/em>\u00a0yang mirip dengan kegiatan\u00a0<em>sorogan<\/em>\u00a0di pesantren ini menghadirkan Ustadz Robi\u2019 Uzt dan Ustadz Taufik sebagai pen-<em>syarah<\/em>. Metode pengkajiannya diawali dengan pembacaan tekstual kata per-kata dalam kitab, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan makna atau maksud kalimat dari pensyarah. Sebelum masuk pembahasan isi kitab, terlebih dahulu pen-<em>syarah<\/em>\u00a0memaparkan biografi masing-masing dari pengarang kitab.<!--more--><\/p>\n<p>\u201cKajian kitab\u00a0<em>turats<\/em>\u00a0ini sangatlah perlu untuk kalangan pelajar seperti kita, mengingat dengan membaca kitab-kitab ulama\u00a0<em>salaf\u00a0<\/em>hati menjadi sejuk dan pikiran mudah tenang akan petuah dan nasihat yang terkandung di dalamnya\u201d, ujar Ustadz Robi\u2019 mengawali pembahasan. \u201cYang kita sebut kolot itu pernah modern di zamannya, dan yang saat ini berlaku, mau tidak mau akan jadi kolot pada waktunya. Pada akhirnya bukanlah zaman yang jadi penentu, akan tetapi cara menghadapinya. Dari sini akan tampak mana yang benar-benar primitif-terbelakang dan mana yang modern-berkemajuan\u201d Ungkap Alfin selaku Ketua KMNU Malaysia.<\/p>\n<p>Membaca kitab klasik merupakan tradisi yang masih dilestarikan di berbagai pesantren yang ada di bumi nusantara. Penyajian materi yang tertuang dalam kitab-kitab ulama terdahulu memang memiliki karakteristik tersendiri. Disamping kaya akan informasi, terdapat banyak sekali hikmah dan pelajaran yang terkandung didalamnya. Apalagi kitab tersebut dikarang oleh seorang ulama besar yang tidak asing lagi di kalangan cendikiawan muslim dunia yang tidak hanya ahli dalam satu bidang ilmu saja, bahkan di berbagai macam cabang ilmu pun beliau menjadi pelopor dan\u00a0<em>mujaddid<\/em>. Maka tidak heran jika kitab-kitab karangan Imam Al-Ghazali menjadi sumber rujukan yang paling diminati di penjuru dunia. Salah satunya yaitu kitab \u201cBidayatul Hidayah\u201d.<\/p>\n<p>Secara ringkas, kitab yang merupakan intisari dari \u201cIhyaul Ulumuddin\u201d ini terdiri atas tiga sub pembahasan. Pertama, membahas tentang adab-adab ketaatan.\u00a0 Kedua, berisi tentang apa itu maksiat dan bagaimana cara meninggalkannya. Ketiga, menjelaskan tentang bagaimana bergaul dengan manusia, sesama makhluk, dan beradab kepada Sang Maha Pencipta.\u00a0Pengarang berharap dengan digubahnya kitab ini menjadi permulaan hidayah yang dapat menghantarkan pembacanya menuju ke akhir capaian ilmu yaitu\u00a0<em>ma\u2019rifat billah<\/em>.<\/p>\n<p>Selain memunculkan tokoh timur-tengah, kajian kitab\u00a0<em>turats<\/em>\u00a0kali ini juga memunculkan tokoh yang tidak asing namanya dalam jajaran ulama besar di bumi nusantara, yaitu Syaikh Abul Fadhol As-Senori atau lebih dikenal dengan Mbah Fadhol. Sejak kecil beliau tekun dalam menimba ilmu, hingga pada saat usia 9 tahun, beliau\u00a0 mampu menghafal Al-Qur\u2019an dalam masa dua bulan saja. Selain belajar dari ayahanda, beliau juga pernah berguru kepada KH. Hasyim Asy\u2019ari. Diantara santri beliau yang masih hidup sampai saat ini adalah KH. Maimun Zubair dari Rembang.<\/p>\n<p>Mbah Fadhol merupakan sosok ulama nusantara asal Tuban yang terkenal akan kesederhanaannya, produktif nan cerdas. Tidak hanya ahli mengajar dan menulis, beliau juga sosok ulama yang multi talenta,\u00a0 kreatif, dan tekun dalam bekerja. Banyak pekerjaan diluar belajar-mengajar yang telah beliau lakukan. Diantaranya, pernah bekerja sebagai tukang reparasi jam tangan. Sampai-sampai beliau sanggup membuat jam tangan sendiri atas ketekunannya dan keseriusannya dalam pekerjaannya itu.<\/p>\n<p>Risalah \u201c<em>Mafhum Ahlussunnah wal Jamaah<\/em>\u201d merupakan salah satu buah karya tulisnya. Kitab kecil yang merupakan bagian dari penjelasan kitab \u201cJauharut Tauhid\u201d ini menerangkan secara rinci apa yang dimaksudkan dengan\u00a0<em>Ahlussunnah wal Jamaah<\/em>. Diawali dengan memaparkan secara singkat siapa itu\u00a0<em>salafussolih<\/em>, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan makna istilah perkata dari\u00a0<em>Al-Ahl<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Wal Jamaah<\/em>,\u00a0<em>As Sunnah wal Bid\u2019ah<\/em>, hingga pemaparan secara historis munculnya sekte dalam Islam berikut perjalanannya hingga berkembang dan masuk ke bumi nusantara sampai munculnya organisasi NU dan Muhammadiyah.<\/p>\n<p>Program\u00a0<em>Rezende Ta\u2019lim<\/em>\u00a0mingguan ini akan diadakan secara bergilir dari kampus ke kampus. Meski kegiatan ini boleh diikuti oleh siapa saja dan terbuka untuk umum, diharapkan dengan terealisasinya program unggulan ini menambah keakraban sesama anggota KMNU di berbagai Perguruan Tinggi di Malaysia. (AM\/Eff)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuala Lumpur-KMNU Online Sabtu (11\/03), Guna meningkatkan rasa kecintaan terhadap ilmu dan ulama, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Malaysia mengadakan kajian kitab\u00a0turats\u00a0mingguan. Kegiatan yang dibungkus dalam program\u00a0Rezende Ta\u2019lim\u00a0atau pengajian keliling kampus ini, untuk serial perdananya, bertempat di Masjid Sultan Haji Ahmad Shah, International Islamic University Malaysia (IIUM). Isi kajian ini mengulas dua kitab klasik&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2661,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2660"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2660"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2660\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2660"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2660"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2660"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}