{"id":237,"date":"2015-08-20T08:44:11","date_gmt":"2015-08-20T08:44:11","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=237"},"modified":"2015-08-20T08:44:11","modified_gmt":"2015-08-20T08:44:11","slug":"tasawuf-dan-fakta-kehidupan-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2015\/08\/20\/tasawuf-dan-fakta-kehidupan-dunia\/","title":{"rendered":"Tasawuf dan Fakta Kehidupan Dunia"},"content":{"rendered":"<p><em>Kalangan tasawuf selalu berpendapat, orang yang jualan di pasar itu mutasawif terbesar. Jadi bukan orang yang khusyuk di tempat tertentu bertasawuf. Kalau dia di pasar bertasawuf dalam arti melaksanakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan selalu ingat Tuhan. Ya itu sudah tasawuf yang benar itu. (Gus Dur).<\/em><\/p>\n<p>Seorang ulama fiqih kenamaan Syaikh Zakaria Al-Anshari mengemukakan pendapatnya tentang definisi tasawuf, tasawuf ialah, suatu sikap memurnikan hati di hadapan Allah dan memandang remeh atau rendah terhadap selain Allah. Definisi ini sejalan dengan tujuan tasawuf dan pokok-pokok ajarannya. <!--more-->Syaikh Yusuf Khattar Muhammad dalam\u00a0<em>al-<\/em><em>M<\/em><em>ausu\u2019ah al-Yusufiyyah Fi Bayani \u2013Adillatis Shufiyyah.\u00a0<\/em>Membagi pokok-pokok ajaran tasawuf pada lima bagian\u00a0:<\/p>\n<ol>\n<li><em>Shafa\u2019ul Qalb wa Muhasabatuha\u00a0<\/em>(kebeningan hati dan muhasabah)<\/li>\n<li><em>Qashdu wajhillah\u00a0<\/em>(tujuannya hanya Allah SWT)<\/li>\n<li><em>At-tamasuk bil faqri wal iftiqar\u00a0<\/em>(hidup zuhud dan selalu merasa butuh kepada Allah SWT)<\/li>\n<li><em>Tauthinul qolbi alar rahman wal mahabah\u00a0<\/em>(memantapkan hati terhadap belas kasih dan cinta)<\/li>\n<li><em>At-tajamul bil akhlaq\u00a0<\/em>(menghiasi diri dengan akhlakul karimah)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Hal-hal yang berkaitan dengan dunia namun diniatkan untuk perbuatan akhirat maka hasilnya pun untuk kepentingannya di akhirat. Tasawuf merupakan sebuah media\/ajaran yang penting bagi manusia dewasa ini. Dimana nilai-nilai kemanusian dan ketuhanan perlahan mulai memudar, akibat dari pergeseran nilai kehidupan yang kian hari kian ketat, usaha kita untuk mendapatkan, mempertahankan, bahkan merebut kebudayaan dunia dengan cara-cara yang mengesampingkan\u00a0 nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.<\/p>\n<p>Maka perlu sekali ajaran tasawuf sebagai kendaraan sosial, kendaraan berdagang, dan kendaraan dalam menjalani berbagai bidang sisi kehidupan yang membawa manusia kepada sebuah jalan spiritual ketuhanan. Guna mendapatkan tujuan pengembaraan di dunia ini sebagai mahluk yang mendapatkan ridho Allah SWT. Bagaimana seorang menghiasi dirinya dengan akhlakul karimah di tengah pergumulan kehidupan sosialnya bersama masyarakat sebagai manifestasi dari pokok-pokok ajaran tasawuf dan menerapkan rasa belas kasih dan cinta, terhadap manusia sebagai rasa ikatan persaudaraan tanpa melihat suku, etnis, budaya, negara dan agama, serta membiasakan diri berdagang dengan jujur, bekerja sungguh-sungguh merupakan perwujudan sikap kebutuhan nya kepada Allah SWT dengan bekerja sungguh-sungguh sebagai alat mencapai kehidupan zuhud terhadap urusan keduniawian.<\/p>\n<p>Tasawuf dapat dikatakan sebagai sebuah \u201cRevolusi spiritual\u201d (<em>tsaurah ruhiyah<\/em>). Tasawuf selalu memberikan kendali untuk melakukan sebuah pembaharuan jiwa manusia. Kelimpahruwahan materi yang mewarnai kehidupan dunia ini bukanlah sesuatu yang penting. Dalam artian, \u00a0meskipun mempunyai harta yang banyak tapi harta tersebut tidak membuatnya mencintai harta tersebut. Justru, kelimpahruwahan hatilah yang menjadi penopang kehidupannya. Seorang yang bertasawuf memiliki kekayaan hati yang menjadikan dirinya tidak pasif terhadap kenyataan hidup. Kehidupan merupakan fakta yang tak bisa diingkari. Para mutasawif (orang yang bertasawuf) menghadapi kehidupan dengan realistis dengan kedekatan kepada Allah. Orang yang bertasawuf akan senantiasa merasakan percaya diri dan optimis. Aktivisme mereka selalu akan menyala sebab semua yang dilakukan tujuannya mencari ridho Allah SWT.<\/p>\n<p>Dari rekam jejak sejarah para\u00a0<em>mutasawif\u00a0<\/em>\u00a0kita dapat mengambil banyak pelajaran, bahwa hidup di dunia ini bukan sebuah kenyataan yang harus dihindari dengan tidak berusaha dalam urusan keduniawian. Namun seharusnya realita kehidupan ini segalanya dijadikan sebagai sarana\u00a0<em>taqarrub\u00a0<\/em>\u00a0kita kepada Allah. Bagaimana seorang Umar bin Abdul Aziz, seorang raja yang bersifat asketis atau zuhud, dengan tetap memegang jabatan sebagai seorang Khalifah Islam yang tersohor. Beliau tetap memegang jabatan sebagai seorang raja namun, beliau tidak silau dengan kekuasaannya. Lalu seorang fisikawan Muslim tersohor, yang merupakan seorang penemu teori aljabar pertama, \u00a0beliau seorang pelaku tasawuf yakni Jabir bin Hayyan al-Azdi. Meskipun sebagai seorang\u00a0<em>mutasawif<\/em>\u00a0beliau tetap mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang sains.<\/p>\n<p>Belum lagi ulama-ulama tersohor para pencetus ajaran tasawuf, yangg dikenal sebagai salah seorang bintang sufi yang sangat gemilang yakni Imam Junaid Al-Baghdadi. Beliau mendefinisikan tasawuf sebagai berikut: \u201cTasawuf ialah membersihkan hati dari sifat-sifat kebinatangan dan menggantinya dengan akhlak yang fitri, menekankan sifat kemanusiaan (<em>basyariyah<\/em>),\u00a0 menjauhi hawa nafsu, berpegang teguh pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar keabadiannya, memberi nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji pada Allah SWT, dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW.\u201d Nyatanya beliau seorang pengusaha sukses, namun beliau tidak sibuk dengan usahanya, tapi beliau menyibukan dirinya dengan Allah SWT.<\/p>\n<p>Kemudian Abul Hasan \u2018ali Asy-Syadzili belaiu salah seorang tokoh sufi terkenal dari benua Afrika, beliau\u00a0 merupakan seorang petani sukses. Dari uraian mengenai kisah beberapa tokoh taswuf tadi terlihat bahwa para sufi sesungguhya tidaklah berjarak total dari dunia, seorang sufi\u00a0<em>mutasawif\u00a0<\/em>\u00a0memiliki sikap zuhud yang bisa berarti seorang\u00a0<em>\u00a0mutasawif\u00a0<\/em>mempunyai harta kekayaan yang melimpah, tetapi harta kekayaannya tidak\u00a0<em>nyantol\u00a0<\/em>di dalam hatinya. Pelaku tasawuf hanya memagari dunia melalui medium pelatihan sehingga tercapai ketenangan dan keteduhan jiwa (<em>an-nafsul muthma\u2019innah<\/em>). Ajaran tasawuf\u00a0 (sufisme) dengan berbagai komponen ajarannya merupakan sebuah alat pengendali moral dan bekal bagi diri dalam menghadapi segala macam problematika urusan kehidupan dunia sebagai alat menuju kehidupan akhirat sebagai tujuan final seorang muslim.<\/p>\n<p>Kesufian seseorang tidak akan menghalangi aktivitas mereka sehari-hari sebagai manusia biasa yang butuh pemenuhan hidup dan perjuangan membangun cita-cita kemanusiaan. Sebagai penutup penulis sampaikan kembali sebuah pesan yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Qodir Jailani : \u201cSemua harta benda (dunia) adalah batu ujian yang membuat banyak manusia gagal dan celaka, sehingga membuat mereka lupa kepada Allah SWT kecuali jika pengumpulannya dengan niat yang baik untuk akhirat Maka jika\u00a0 di dalam pen-<em>tasharruf-<\/em>annya telah memiliki tujuan yang baik, harta dunia itu pun akan menjadi harta akhirat.\u201d\u00a0<strong>(Randi Septiana)<\/strong><\/p>\n<p>Rujukan:<\/p>\n<ol>\n<li>Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj,\u00a0<em>Tasawuf sebagai kritik sosial,\u00a0<\/em>SAS Foundation dan LTN PBNU.<\/li>\n<li>KH. MA. Sahal Mahfudz,\u00a0<em>\u00a0Nuansa fiqih sosilal,\u00a0<\/em>LKIS.<\/li>\n<li>M. Sulton Fatoni &amp; Wildan Fr,\u00a0<em>\u00a0The Wisdom of Gusdur,\u00a0<\/em>Imania.<\/li>\n<li>Tim penulis batartama,\u00a0<em>Trilogi Ahlusunah,\u00a0<\/em>Pustaka Sidogiri.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalangan tasawuf selalu berpendapat, orang yang jualan di pasar itu mutasawif terbesar. Jadi bukan orang yang khusyuk di tempat tertentu bertasawuf. Kalau dia di pasar bertasawuf dalam arti melaksanakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan selalu ingat Tuhan. Ya itu sudah tasawuf yang benar itu. (Gus Dur). Seorang ulama fiqih kenamaan Syaikh Zakaria Al-Anshari mengemukakan pendapatnya tentang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":238,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=237"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}