{"id":2322,"date":"2015-03-22T00:21:52","date_gmt":"2015-03-22T00:21:52","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=2322"},"modified":"2015-03-22T00:21:52","modified_gmt":"2015-03-22T00:21:52","slug":"perjalanan-tirta-selamat-hari-air","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2015\/03\/22\/perjalanan-tirta-selamat-hari-air\/","title":{"rendered":"Perjalanan Tirta (Selamat Hari Air)"},"content":{"rendered":"<p>Sejauh mata memandang, terlihat birunya air yang\u00a0 menenangkan, kerlap-kerlip cahaya yang menghiasi laut, seperti langit bertabur bintang yang begitu mempesona setiap mata yang memandang. Di siang yang sangat terik, terlihat sekumpulan tirta yang siap mendarmakan hidupnya untuk berpetualang melihat kondisi saudara mereka.<!--more--><\/p>\n<p>Sebagian tirta merasa senang dengan perjalanan yang akan mereka lakukan. Namun, sebagian lagi merasa sedih. \u00a0Birunya laut yang indah, desiran angin ,dan ombak ,serta keindahan alam bawah laut, layaknya surga dunia dalam air, membuat mereka merasa berat hati untuk meninggalkan tempat itu. Adapula cerita-cerita \u00a0yang pernah mereka dengar ,membuat mereka takut untuk melanjutkan siklus hidupnya. Bukan hal yang aneh memang, karena mereka mendengar cerita tentang manusia yang selalu menyalahkan mereka, dan mengkambinghitamkan mereka atas kesalahan yang manusia buat.\u00a0 Sebagian lagi, merasa amat tertarik dan sangat antusias untuk melanjutkan siklus hidupnya. Mereka optimis, perjalanan ini akan sangat bermanfaat untuk mereka dan makhluk hidup. Salah seorang tirta menerawang jauh ke dalam laut untuk melihat kawan mereka. Sebagai tanda perpisahan \u00a0Tirta terlugu di antaera mereka membacakan sebuah puisi untuk semua yang ada di laut itu.<!--more--><\/p>\n<p><strong>Perjalanan adalah Sebuah Pelajaran<\/strong><br \/>\n\u201cSebiru langit , sebiru lautan , sebiru hati kita<br \/>\nTerlihat begitu indah , terdengar begitu lembut, terasa sangat mendamaikan jiwa<br \/>\nitulah kita sekarang<br \/>\nkawan, kini waktunya kami tuk melanjutkan siklus kehidupan<br \/>\nrasanya berat hati meninggalkan kalian<br \/>\nkami tahu perjalanan ini tak mudah penuh badai yang menghantam<br \/>\nnamun di perjalanan ini<br \/>\nKami akan\u00a0 belajar tegar setegar batu karang<br \/>\nKami akan belajar kuat , sekuat hempasan ombak<br \/>\nKami akan belajar sabar, sesabar nelayan yang memancing ikan<br \/>\nKami akan belajar lebih lembut selembut tarian ubur-ubur<br \/>\nKarena perjalanan hidup adalah sebuah pelajaran\u201d<!--more--><\/p>\n<p>Ikan, batu karang, ombak,\u00a0 dan seisi laut tertegun mendengar puisi itu.\u00a0 Seekor ikan berteriak dari \u00a0dasar laut,\u201c Semangat\u00a0 Tirta!! Perjalanan ini, akan ada hal baru, kau akan tahu saudaramu dan sudaraku di luar sana. Kau akan melihat kondisi mereka. Sampaikan salamku kepada mereka, Tirta!!!\u201d. \u00a0Tirta membalas, \u201cTerima kasih ikan, kiranya mungkin ini yang bisa kami sampaikan untuk kalian semua. Tinggal hitungan detik lagi, aku akan terbang menuju awan\u201d.<!--more--><\/p>\n<p>Kini, sekumpulan tirta itu bersiap-siap untuk berevaporasi, berganti fase dari cair menjadi uap untuk terbang menuju negeri awan. Tirta pun berkata pada matahari \u201c Matahari, panaskanlah kami agar kami bisa menjadi uap. Udara , antarlah\u00a0 kami agar kami bisa naik ke langit\u201d. Matahari dan udara siap menolong tirta. Tirta pun akhirnya menjadi uap dan naik ke langit dan akhirnya\u00a0 berkondensasi menjadi embun dan\u00a0 berkumpul membentuk awan.\u00a0 Hingga pada akhirnya tirta-tirta itu keluar dari awan\u00a0 menuju bumi. Tirta-tirta berteriak kegirangan \u201c Ye!!! Sekarang kita jadi hujan yang akan membasahi Bumi. Kita juga akan memberi warna , menghiasi bumi ,dan melihat\u00a0 orang-orang tersenyum. Lihat, cahaya mendekati kita, itu artinya, kita akan membentuk PELANGI!! ,HOREEEE!!!\u201d. Lihat kawan, kita menjadi pusat perhatian sepasang mata di bumi. Ingin aku melihat manusia tersenyum karena kedatangan kita. Bukankah kita adalah berkah yang diturunkan Tuhan??\u201d.<!--more--><\/p>\n<p>Tirta-tirta\u00a0 kini sampai di Bumi. Mereka\u00a0 jatuh di tempat yang berbeda dan harus berpisah untuk menjalani dharma kehidupan mereka. Perjalanan turun ke Bumi itu begitu mengasyikkan dan begitu menyenangkan, karena mereka ingin melihat saudara mereka di tempat yang akan mereka lalui.<\/p>\n<p>Tirta lugu dan beberapa rombongannya jatuh di hulu sungai yang masih sangat bersih. Tirta sangat senang, karena di sungai itu, mereka melihat sesuatu yang baru, yaitu batu-batu besar, lumut, dan pepohonan yang ada di sekitar sungai itu. \u201cKata orang,ini yang dinamakan Puncak\u201d ujar Tirta. Tirta tidak bisa berlama-lama ada di satu tempat, mereka harus mengikuti aliran sungai itu. Menelusuri sungai yang begitu panjang sepanjang perjalanan yang akan mereka lalui, dan \u00a0melihat sesuatu yang baru lagi. Kini mereka melihat air terjun. Teriak Tirta lugu,<!--more--><br \/>\n\u201d Kawan,,,Are you ready? \u00a0Kita akan terjun bebas nih,,siap-siap ya merasakan sensasi yang begitu dahsyat ini\u201d. Jawab rombongan Tirta \u201cSiap Tirta lugu!!\u201d. \u00a0Tirta pun akhirnya terjun bebas,lebih tinggi dan lebih menantang bagi tirta. Hal yang lebih jauh menyenangkan dari ombak laut yang biasa mereka lakukan. Mereka melihat manusia yang sedang\u00a0 bermain-main di bawah air terjun itu. Namun, kesenangan itu kini menjadi kesedihan. Ternyata, cerita-cerita tentang manusia memang benar. Tirta melihat manusia-manusia yang melakukan kesalahan terbesar, manusia-manusia yang mengotori air dengan sampah-sampah. Terlihat betapa kejinya manusia dengan ekspresi tidak bersalah, tertawa terbahak-bahak menikmati keindahan alam tanpa bisa berterima kasih atas nikmat air yang diberikan Sang Pencipta .<!--more--><\/p>\n<p>Tirta seakan pesimis untuk melanjutkan perjalanannya lagi. Dalam benak mereka, \u201cdi hulunya saja, manusia sudah seperti ini, bagaimana dihilir??\u201d. Tirta tertegun,menunduk lesu tak berdaya,namun petualangan\u00a0 mereka masih terus berjalan menelusuri sungai-sungai. \u201cApa boleh buat kawan,kita harus terus berjalan, siapa tahu kita akan\u00a0 menemukan hal baru yang lebih baik lagi\u201d, ucap si Tirta Lugu.<!--more--><\/p>\n<p>Sampailah mereka di suatu sungai yang terkenal dengan sebutan Ciliwung. Di sungai itu, \u00a0jiwa tirta merasa teriris-iris. Bagimana tidak, sungai yang dahulu kala terkenal dengan kejernihan airnya ,sampai bisa di minum, kini menjadi Tong sampah dan Septitank. Bau busuk, timbunan sampah organik dan anorganik, limbah pabrik, kotoran manusia bercampur jadi satu. Tirta masih terus berjalan dengan rasa muak menelusuri panjangnya sungai, melihat pemandangan-pemandangan menjijikan selama perjalanan. Tirta mulai merasakan perubahan pada dirinya. Tirta yang masih sangat jernih,kini berubah menjadi kotor,bau dan banyak E.Coli yang menyerang rombongannya. Tirta sedih ,\u201dKami tak tahu harus bagaimana? Kini kami tak bisa menjadi air yang berguna, kami takut jika kami digunakan untuk kebutuhan manusia, kami tak ingin melihat manusia menderita diare, sakit kulit. Kami juga takut, jika banjir melanda, kami masuk menuju daratan, menuju rumah-rumah menebarkan penyakit. Kami tak tega melihat anak manusia bermain di kotornya air banjir. Kami tak tega melihat rumah-rumah menjadi kotor. Kami tak tega melihat raut wajah petani yang gagal panen. Kami sangat sedih jika kalian menderita.<!--more--><\/p>\n<p>Wahai manusia!, kau anggap sungai ini biasa saja?? \u00a0Tidak!! sungai ini sangat menyeramkan. Inikah perbuatan\u00a0 kalian??\u00a0 Kami \u00a0heran, apakah kalian punya otak?? \u00a0Jangan-jangan, isi otak kalian sama isinya dengan apa yang kalian buang. Yah otak sampah!\u201d, geram Tirta lugu. Bukankah Tuhan telah memberi segalanya? Apakah kalian tidak berfikir, akibat ulah tangan kalian, bencana besar akan menimpa. Lalu kalian menyalahkan kita? Menyalahkan hujan yang kalian anggap penyebab air sungai meluap??. Lihatlah, ikan-ikan menderita, ekosistem mereka terganggu. Sungai Ciliwung, sungai penuh E.Coli ,penebar penyakit , penebar bau busuk,\u00a0 gudang sampah, serta\u00a0 penyebab banjir. <!--more-->Inilah sebutan Ciliwung sekarang. Ini kesalahan kalian,wahai manusia!! Jangan salahkan Ciliwung,\u00a0 karena Ciliwung hanyalah korban. Jangan salahkan kami, jika suatu saat nanti, terjadi krisis air bersih menimpa kalian. Kalian akan merasakan, setetes tirta sangat berarti . Apa kalian tidak berfikir? Tubuh kalian disusun sebagian besar oleh air. Air yang menyusun darah kalian. Air yang melarutkan makanan kalian. Air yang kalian minum. Tak \u00a0akan ada kehidupan tanpa air, makanan yang kalian makan\u00a0 bisa tumbuh karena ada air, Manusia!\u201d. Apakah kalian bisa hidup tanpa air?? Andaikan aku boleh memilih, lebih baik aku turun di daerah yang menganggap air adalah Mama. Yah, mereka begitu menjaga air, karena air ibarat seorang Mama. Lalu kau yang disebut sebagai pemakmur bumi, Kau anggap aku apa??<!--more--><\/p>\n<p>Kami \u00a0lelah. Wahai manusia!! apakah kalian \u00a0tidak menginginkan sungai yang jernih,yang airnya bersih dapat di minum. Sungai dan segala kehidupan di dalamnya terjaga. Ikan-ikan senang berenang di dalamnya dan para pemancing tidak khawatir memakan ikan itu. Tidakkah kalian menginginkan sungai sebagai tempat yang indah!! Tidakkah kalian malu Sungai Ciliwung menjadi sorotan dunia, sungai yang kotor dan tercemar. Kami\u00a0 masih percaya, kalian punya hati nurani. \u00a0Ciliwung akan menjadi sungai terbersih, sungai terindah di Bumi. Harapan kami ada ditangan kalian,wahai manusia. Terima kasih ,setidaknya kami masih melihat rasa kepedulian kalian, para relawan lingkungan. Salam Semangat wahai kau yang dikatakan Pemakmur Bumi. Salam Cinta ^_^ Tirta lugu.<\/p>\n<p><em>Oleh : Isna Nur Arifina<\/em><\/p>\n<p><em>Selamat Hari Air<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejauh mata memandang, terlihat birunya air yang\u00a0 menenangkan, kerlap-kerlip cahaya yang menghiasi laut, seperti langit bertabur bintang yang begitu mempesona setiap mata yang memandang. Di siang yang sangat terik, terlihat sekumpulan tirta yang siap mendarmakan hidupnya untuk berpetualang melihat kondisi saudara mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2323,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,5],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2322"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2322"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2322\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2322"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2322"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2322"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}