{"id":2313,"date":"2015-04-12T00:01:11","date_gmt":"2015-04-12T00:01:11","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=2313"},"modified":"2015-04-12T00:01:11","modified_gmt":"2015-04-12T00:01:11","slug":"kajian-fathul-qorib-jenazah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2015\/04\/12\/kajian-fathul-qorib-jenazah\/","title":{"rendered":"Kajian Fathul Qorib : Jenazah"},"content":{"rendered":"<p>Hukum merawat jenazah adalah Fardhu kifayah, yakni apabila dalam suatu qaryah (daerah) sudah ada yang merawatnya, maka kewajiban merawatnya gugur bagi anggota masyarakat yang lainnya. Kewajiban terhadap jenazah yaitu memandikannya, mengkafani, mensholati, dan memandikannya. Orang islam yang meninggal selain mati syahid, maka dimandikan, dikafani, disholati, dan dimakamkan. Mati syahid ada 3\u00a0 yaitu<!--more--><\/p>\n<ol>\n<li>Syahid Dunia Akhirat yaitu seorang yang mati dalam perang jihad fi sabilillah melawan orang kafir (<em>kafir harbi<\/em>). Maka tidak boleh di mandikan dan di sholati, namun di kafani dan di kuburkan.<\/li>\n<li>Syahid Dunia yaitu orang yang mati di medan perang namun dengan tujuan dan niat riya\u2019 supaya mendapat gelar pahlawan atau harta kekayaan dan mati.\u00a0 Maka jenazah di diperlakukan secara sempurna yakni memandikannya, mengkafani, mensholati, dan memandikannya<\/li>\n<li>Syahid Akhirat Maka jenazah di diperlakukan atau di tajhiz secara sempurna yakni memandikannya, mengkafani, mensholati, dan memandikannya<\/li>\n<\/ol>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Jenazah yang sulit dimandikan karena suatu keadaan misal mati terbakar atau yang lain. Jika di mandikan justru dapat merusak kulit dan organ tubuh mayit maka tidak boleh dimandikan namun wajib di tayamumi.<\/p>\n<p><strong>Memandikan Mayit<\/strong><\/p>\n<p>Air yang digunakan untuk memandikan jenazah adalah air yang suci dan mensucikan. Membasuhkan air yang sudah di campur dengan \u201cdaun bidara\u201d ke tubuh jenazah dan sunnah disertai niat memandikan jenazah. Menggunakan aie jernih untuk membilas basuhan. Kemudian membasuh tubuh jenazah menggunakan air yang dicampurkan kapur barus (tidak sampai merubah kemutlakan air yakni warna, rasa, dan aroma). Memandikan jenazah bisa sebanyak 5 kali atau 7 dan kelipatannya.<!--more--><\/p>\n<p><strong>Mengkafani jenazah<\/strong><\/p>\n<p>Mengkafani jenazah hukumnya fardhu kifayah. Kain kafan boleh terbuat dari apa saja. Dan isunnahkan berwarna putih bersih, dan menutupi jenazah<strong>.<\/strong><!--more--><\/p>\n<p><strong>Mensholati jenazah<\/strong><\/p>\n<p>Rukun sholat jenazah yaitu<\/p>\n<ol>\n<li>Niat<\/li>\n<li>Berdiri bagi yang mampu<\/li>\n<li>Takbir 4 kali (termasuk takbirotul ihram)<\/li>\n<li>Membaca alfatihah<\/li>\n<li>Membaca sholawat nabi<\/li>\n<li>Membaca doa bagi mayit<\/li>\n<\/ol>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Bagi jenazah yang laki-laki maka imam berdiri diarah kepala atau pundak jenzah, jika jenazahnya perempuan maka imam berdiri di tengah jenazah (arah pinggul jenazah)<!--more--><\/p>\n<p><strong>Memakamkan jenazah<\/strong><\/p>\n<p>Ukuran makam baik panjang, lebar dan kedalaman disesuaikan dengan adat dan tradisi masyarakat setempat. Untuk kedalamannya biasanya setinggi orang berdiri di tambah 1 hasta.<\/p>\n<p>Pemakaman ada dua yaitu :<\/p>\n<ol>\n<li>Liang lahat yaitu liang pada dinding sebelah barat dilubangi, sekiranya cukup untuk membaringkan jenazah. Mayat disandarkan kemudian dengan papan atau kayu yang dipasang miring ke timur.<\/li>\n<li>Liang syaq\/ liang cempuri liang kuburan pada bagian tengah di buat galian seperti parit seukuran mayit kemudian di tutup menggunakan papan.<\/li>\n<\/ol>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><strong>Pertanyaan dan hasil diskusi<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Bagaimana Hukumnya membangun kuburan dengan tembok pada tanah milik sendiri?<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Membangun Kuburan dan memagari dengan tembok ditanah kuburan milik sendiri dengan tidak ada satupun kepentingan maka hukumnya<strong>\u00a0Makruh<\/strong><!--more--><\/p>\n<p><strong>Dalam Kitab Fathul-Mu\u2019in (qauluhu wa kuriha binaa\u2019un lahu)<\/strong><\/p>\n<p>Karena ada ketegasan Hadis shohih maka hukumnya makruh membangun suatu bangunan diatas kubur, jika tidak ada keperluan (kepentingan) seperti dikhawatirkan akan digali atau dibongkar oleh binatang buas, atau terkena banjir. Kemakruhan tersebut jika kuburan itu berada di tanah miliknya sendiri. Sedangkan membangun kuburan tanpa suatu keperluan, sebagaimana yang dijelaskan atau memberi kubah diatas kubur yang terletak ditanah yang landai atau di tanah wakaf maka hukumnya haram.<!--more--><\/p>\n<p>Menurut Imam Al-Bujairimi: \u201cSebagian Ulama mengecualikan keberadaan banguanan makam\/kuburan para Nabi, Para syuhada\u2019, orang-orang shalih, dan lain-lain.\u00a0<em>Wallahu a\u2019lam<\/em><!--more--><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Hukum keluarga menyediakan makanan untuk hidangan kepada para penta\u2019ziyah dengan maksud bersedekah<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Keterangan dalam kitab\u00a0<strong>Al-Muhadzab\u00a0<\/strong>Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw: \u201cSesungguhnya ibuku sudah meninggal, apakah bermanfaat baginya (kalau) aku bersedekah atas (nama)nya? Rasullah Saw menjawab \u201cya\u201d Orang itu kemudian berkata :\u201dSesungguhnya aku memiliki sekeranjang buah, maka aku ingin engkau menyaksikan bahwa sesungguhnya aku menyedekahkannya atas (namanya).\u201d<em>Wallahu a\u2019lam<\/em><!--more--><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Memindahkan Kuburan ke tempat lain<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Memindahkan mayit dari satu kuburan ke tempat lain, haram hukumnya kecuali karena keadaan dhorurat. Keterangan dari Kitab\u00a0<strong><em>Syarhul Mahalli<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Menggali kembali jenazah dari kuburan untuk dipindahkan atau tujuan lainnya maka hukumnya Haram. Kecuali karena keadaan darurat, seperti jenazah yang dikubur tanpa dimandikan.\u00a0<em>Wallahu a\u2019lam<\/em><!--more--><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Sah kah wasiat mengenai organ tubuh mayit untuk diberikan dan dicangkokkan kepada yang memerlukan mengingat diantara\u00a0 sahnya wasiat adalah \u201cwujudu mutlaqil milki<\/strong>\u201d<\/li>\n<\/ol>\n<p>Hukum wasiat tersebut tidak sah (batal) karena tidak memenuhi syarat-syarat wasiat yang diantaranya \u201cmutlaqil milki\u201d menurut syara\u2019 organ mayit itu hak milik Allah bukan milik seseorang. Adapun pencangkokan organ tubuh manusia ada yang membolehkan dengan syarat:<\/p>\n<ol>\n<li>Karena diperlukan, dengan tertib pengamanan<\/li>\n<li>Tidak ditemukan selain organ tubuh manusia itu<\/li>\n<\/ol>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Keterangan Dalam Kitab\u00a0<strong>Nihayatuz Zain<sup>1<\/sup><\/strong><\/p>\n<p>Syarat sahnya barang yang diwasiatkan adalah barang yang mubah yang dapat dipindahkan dari seseorang kepada yang lainnya. Maka sah memindahkan sesuatu yang dapat terpisah, baik dalam keadaan hidup maupun mati.<!--more--><\/p>\n<p>Kitab\u00a0<strong>Hasyiatur Rasyidi<sup>2<\/sup><\/strong><\/p>\n<p><strong>Al-Halabi\u00a0<\/strong>berkata jika tidak diketemukan sesuatu yanglayak maka boleh menyambungkan dengan tulang mayit (karena darurat) seperti hukumnya memakan bangkai karena darurat.\u00a0\u00a0<strong>Al-Mudabighi<\/strong>\u00a0sejalan dengan pendapat\u00a0<strong>Al-Katib<\/strong>, memandang boleh dengan menyatakan : Jika tidak terdapat sesuatu kecuali tulang orang yang mati, maka didahulukan menggunakan tulang orang kafir harbi seperti orang murtad, kemudian kafir dzimmi, kemudian orang islam<strong>.<\/strong><!--more--><\/p>\n<p>Kitab\u00a0<strong>Mughnil Muhtaj<sup>\u00a03<\/sup><\/strong><\/p>\n<p>Dalam keadaan darurat\/terpaksa boleh memakan bangkai orang mati, jika tidak mendapat bangkai lainnya. Karena kehormatan orang yang hidup lebih kuat dari pada orang yang sudah mati, sebagaimana yang diisyarahkan dalam\u00a0<strong>kitab Al-syarh al-kabir (Al-rafi\u2019i)<\/strong>\u00a0dan\u00a0<strong>Raudhah at-Thalibin (Al-Nawawi)<\/strong><!--more--><\/p>\n<p>Kitab<strong>\u00a0Syarhul Mahalli\u00a0<sup>4<\/sup><\/strong><\/p>\n<p>Jika tulangnya patah perlu disambungkan dengan tulang yang najis karena tidak ada yang suci yang layak untuk disambungkan maka dalam hal ini hukumnya dimaafkan (ma\u2019dzur).<\/p>\n<p>Kitab\u00a0<strong>Manhajuth Thullab<sup>5<\/sup><\/strong><\/p>\n<p>Jika seseorang menyambungkan tulangnya yang patah dengan tulang yang najis karena tidakyang layak dan tidak ada yang suci untuk disambungkan maka dalam hal ini hukumnya adalah\u00a0<em>Hajat\u00a0<\/em>yang diperlukan (Udzur)<!--more--><\/p>\n<p>Kitab\u00a0<strong>Hasyiatul Bujairimi<sup>6<\/sup><\/strong><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"file:\/\/\/C:\/UsersUSERAppDataLocalTempmsohtmlclip11clip_image001.png\" data-cke-saved-src=\"file:\/\/\/C:UsersUSERAppDataLocalTempmsohtmlclip11clip_image001.png\" \/>Pendapat yang lebih tepat sebagaimana yang tampak dari pendapat para ulama adalah tidak memandang kelebihan mayit, dimana keduanya sama, islam dan terhormat.<!--more--><\/p>\n<p><sup>1\u00a0<\/sup>Muhammad Nawawi al-Bantani ,\u00a0<em>Nihayatuz Zain<\/em>, (Beirut: darul Fikr) Cet. Ke-1 hal; 279<\/p>\n<p><sup>2\u00a0<\/sup>Husain ar Rasyid,\u00a0<em>Hasyiatur rasyidi \u2018Ala Fathil Jawad\u2019<\/em>\u00a0(Indonesia : Dar Ihyait Kutub ar-Rabiah) h 27<\/p>\n<p><sup>3\u00a0<\/sup>Al khatib Al syarbini ,\u00a0<em>Mughnil Muhtaj<\/em>\u00a0(Mesir: Mustafal Halabi, 1337 H\/1957 M)Juz 4 h.307<\/p>\n<p><sup>4\u00a0<\/sup>Jalaluddin Al Mahalli,\u00a0<em>syarh Minhajuth Thalibin pada Hamisy Hasyiyatul Qalyubi wa Umairah<\/em>\u00a0(Indonesia, Dar ihyail Kutubal-rabiah) juz1 h.128<\/p>\n<p><sup>5\u00a0<\/sup>Zakariya Al-Anshari,\u00a0<em>syarh Manhajuth Thulab\u00a0<\/em>pada Hamisy Sulaiman al-Bujairimi , al tajrid Li Naf\u2019il Abid (Mesir ; Mustafa Al Halabi 1369H\/1950M) juz 1 h 238-239<\/p>\n<p><sup>6\u00a0<\/sup>Sulaiman al-Bujairimi, Haisyiah al-bujairimi ala Syarhul Manhajith Thulab (al-maktabah al-islamah) juz1 h 239<!--more--><\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/p>\n<p><strong>HASIL-HASIL KEPUTUSAN MUKTAMAR DAN PERMUSYAWARATAN LAINNYA 1345 H \/1926 M -1427H\/2006H<\/strong><\/p>\n<p><strong>Kitab Fathul qarib Kitabus Sholah<\/strong><\/p>\n<p><strong>Lajnah Ta\u2019lif wan Nashr NU Surabaya. 2011.\u00a0<em>Merawat Jenazah<\/em>. PC NU Surabaya<\/strong><\/p>\n<p>Oleh : TIM KAJIAN KMNU IPB<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hukum merawat jenazah adalah Fardhu kifayah, yakni apabila dalam suatu qaryah (daerah) sudah ada yang merawatnya, maka kewajiban merawatnya gugur bagi anggota masyarakat yang lainnya. Kewajiban terhadap jenazah yaitu memandikannya, mengkafani, mensholati, dan memandikannya. Orang islam yang meninggal selain mati syahid, maka dimandikan, dikafani, disholati, dan dimakamkan. Mati syahid ada 3\u00a0 yaitu<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2314,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2313"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2313"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2313\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2313"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2313"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2313"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}