{"id":1459,"date":"2016-03-05T12:32:45","date_gmt":"2016-03-05T12:32:45","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=1459"},"modified":"2016-03-05T12:32:45","modified_gmt":"2016-03-05T12:32:45","slug":"pos-pengajian-online-safinah-6-allah-alam-semesta-dan-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2016\/03\/05\/pos-pengajian-online-safinah-6-allah-alam-semesta-dan-agama\/","title":{"rendered":"POS (Pengajian Online Safinah) #6: Allah, Alam Semesta, dan Agama"},"content":{"rendered":"<p><em>\u201cBismillahir Rahmanir Rahim<\/em><\/p>\n<p><em>Alhamdu Lillahi Rabbil \u2018alamin, wabihi Nasta\u2019inu \u2018ala umurid Dunya wad Din<\/em><\/p>\n<p><em>Hanya dengan nama Allah yang Rahman nan Rahim<\/em><\/p>\n<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian semesta alam. Dan hanya dengan-Nya, kami memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan agama.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Salah satu inti dari kandungan ayat kedua surat Pembuka Kitab suci kita adalah pujian. Islam itu agama pujian, bukan cacian. Agama ini lebih menganjurkan para pemeluknya untuk memuji, dan melarang mereka untuk mencaci, bahkan terhadap berbagai Tuhan sesembahan pemeluk lain sekalipun (QS. Al-An\u2019am: 108). Sepelik apapun masalah, tetaplah optimis dan <em>ucapkan<\/em><em> \u201cAlhamdulillah \u2018ala kulli haal&#8221;<\/em><\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><em><strong>Memahami Rabbul \u2018Alamin dari Dialog Nabi Musa dengan Raja Fir\u2019aun<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Kali ini mari kita awali pengajian dengan membahas <em>Rabbil \u2018alamin<\/em>. Kata Rabb memang sangat multi makna. Karenanya, penulis kurang nikmat menerjemahkan kata ini hanya dengan \u201cTuhan\u201d. Selain Tuhan, Rabb mengandung arti sang pencipta, pemilik, pemberi rizki, pendidik (<em>murabbi)<\/em>, pengatur, pengelola, penyempurna, dan lain-lain. Dengan multi maknanya ini, Rabb dalam Al-Quran sering dihubungkan dengan perbagai ciptaan-Nya, seperti alam semesta, langit, bumi, timur, barat, kami, kamu, dan seterusnya. Melihat banyaknya makna dan objek Rabb, kita akan bisa memahami mengapa kata <em>Rabbul \u2018alamin<\/em> diletakkan setelah <em>Alhamdulillah.<\/em> Segala pujian itu sudah selayaknya ditujukan kepada Allah. Betapa tidak? Dialah <em>Rabb <\/em>sekian alam semesta, yang menciptakannya, mengaturnya, mendidik isinya, dengan sangat sempurna, rapi, dan teratur.<\/p>\n<p>Dari sini, tampaklah tekanan spiritual <em>Alhamdulillaahi Rabbil \u2018alamin<\/em>, agar kita senantiasa menanamkan keyakinan akan hakikat karunia nikmat-Nya yang Maha Luas tak terbatas, sehingga mendorong kita untuk selalu memuji-Nya dan ber-\u201ckomunikasi\u201d secara kontinyu dengan baik dan benar. Dengan mengingat Allah sebagai Sang <em>Rabb<\/em>, ketenangan dan ketentraman akan bersemii ke dalam batin kita, sebab segala sesuatu kebutuhan kita sungguh telah dijamin oleh Allah SWT, rasa harapan (<em>raja`) <\/em>pun akan semakin meletup-letup ke haribaan-Nya.<\/p>\n<p>Setelah jelas kedalaman makna kata <em>Rabb, <\/em>apa pula arti <em>Al-\u2018Alamin? <\/em>Namun, sebelum ini, mari kita tengok lembaran sejarah Mesir kuno yang diabadikan Al-Quran, Surat Asy-Syu\u2019ara`: Dialog Nabi Musa dengan Raja Fir\u2019aun yang juga penasaran, apa itu <em>Rabbul \u2018alamin?<\/em><\/p>\n<p>Al-Kisah, setelah \u201chijrah\u201d sekian lama di Kota Madyan, Nabi Musa kembali ke Mesir dengan status sebagai utusan Allah Swt. <em>\u201cDan (ingatlah) <\/em>ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): <em>\u201cDatangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) <\/em>kaum Fir\u2019aun: Mengapa mereka tidak bertakwa?\u201d (QS. Asy-Syu\u2019ara`: 10-11). Setelah beberapa ayat, Al-Quran lebih lanjut mengisahkan pertemuan awal antara Nabi Musa dan Nabi Harun dengan Raja Fir\u2019aun: <em>\u201cMaka datanglah kamu berdua kepada Fir\u2019aun dan katakanlah olehmu: \u201cSesungguhnya Kami adalah <strong>utusan Rabbul \u2018alamin, <\/strong>bahwa lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami.\u201d<\/em> Terjadilah sanggahan Raja Fir\u2019aun yang tak terima seseorang yang dulu ia asuh sejak kecil, lalu pernah membuat \u201conar\u201d, tahu-tahu sekarang mendaku sebagai utusan <em>Rabbul \u2018alamin<\/em>. Usai mendengar respon Nabi Musa atas sanggahannya, Fir\u2019aun pun melontarkan pertanyaan ingkar; <em>\u201cApa itu Rabbul \u2018alamin?\u201d <\/em>\u00a0(QS. 23) Ia tak memakai kata \u201c<em>man\u201d<\/em> (siapa), tapi <em>ma (apa)<\/em>, menandakan ejekan Fir\u2019aun terhadap Dzat yang mengutus Nabi Musa sekaligus menunjukkan kecongkakannya yang tak mempercayai eksistensi Tuhan selain dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Dengan tetap santun, Nabi Musa menjawab, <em>\u201cTuhan Pencipta langit-langit, bumi, dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanm), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercai-Nya.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Nah, dari jawaban Nabi Musa ini, Seorang Mufassir Kenamaan Syiria, Imaduddin Isma\u2019il Ibnu Katsir Asy-Syafi\u2019I (701-774 H) menyimpulkan bahwa maksud <em>Al-\u2018Alamin <\/em>disini adalah langit-langit, bumi, dan apa saja yang ada di antara keduanya<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftn1\" name=\"_ftnref1\" data-cke-saved-href=\"#_ftn1\" data-cke-saved-name=\"_ftnref1\">[1]<\/a>. Bahasa ringannya, yaa, alam semesta raya ini. Bahkan Imam Ar-Razi (w. 606 H) berani memprediksi kemungkinan besar eksistensi alam-alam semesta nan tiada hingga lainnya, yang tidak sebatas alam semesta versi pengetahuan manusia<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftn2\" name=\"_ftnref2\" data-cke-saved-href=\"#_ftn2\" data-cke-saved-name=\"_ftnref2\">[2]<\/a>. Konon, kutip Syekh Nawawi Banten dalam <em>Bahjatul Wasa`<\/em>il-nya, Allah telah menciptakan seratus ribu alam, berdasarkan riwayat bahwa Allah menciptakan seratus ribu pelita dan Ia gantungkan semua pelita ini di \u2018Arys, maka, tujuh langit-bumi dan seisinya beserta surga-neraka, semua itu masihlah dalam satu pelita saja, dan tiada yang tahu apa yang ada dalam sisa pelita-pelita lainnya kecuali Allah Swt.<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftn3\" name=\"_ftnref3\" data-cke-saved-href=\"#_ftn3\" data-cke-saved-name=\"_ftnref3\">[3]<\/a><\/p>\n<p>Bayangkan, betapa luas dan dahsyatnya \u201cseni-kreasi\u201d ciptaan Allah <em>Rabbul \u2018Alamin<\/em>.<\/p>\n<p><strong><em>Imam Abu Hanifah dan Sekelompok Atheis<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Dan, sayangnya, banyak yang masih belum percaya. Masih banyak Fir\u2019aun yang berkeliaran hidup sejak dulu hingga sekarang. Contohnya, kisah Abu Hanifah berikut. Sejarah mencatat, jauh sebelum menjadi imam mujtahid fiqh, Imam Abu Hanifah An-Nu\u2019man bin Tsabit (80-150 H) pernah dikenal sebagai seorang teolog <em>(mutakallim)<\/em> masyhur di Iraq. Karena keahliannya di bidang teologi, Imam Abu Hanifah kedatangan rombongan atheis. Mereka mempertanyakan eksistensi Allah Swt.<\/p>\n<p><em>\u201cSebentar,\u201d<\/em> dengan santai, Imam Abu Hanifah mulai merespon, <em>\u201ctinggalkan aku sendiri. Sebab aku sedang memikirkan informasi yang baru saja aku terima.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Karena penasaran dengan informasi tersebut, para atheis ini enggan meninggalkan sang imam dan nyaman menyimaknya.<\/p>\n<p><em>\u201cMereka sampaikan informasi ini kepadaku,\u201d <\/em>lanjut Imam Abu Hanifah,<em> \u201cBahwa di samudera lautan terdapat perahu besar. Di dalamnya, banyak perabotan dan barang-barang dagang. Hebatnya, meski tiada seorang pun yang menahkodai, perahu tersebut bisa berjalan lancar dengan sendirinya. Meski sering diterpa ombak-ombak besar, perahu itu bisa selamat. Perahu ini bisa berjalan kemana saja yang ia mau tanpa dinahkodai satu orang pun.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Mendengar informasi perahu ajaib dari sang imam, para atheis itu langsung membentak, <em>\u201cIni informasi yang tak mungkin disampaikan oleh orang waras.\u201d <\/em>\u00a0Tukas mereka terheran-heran, dan tak percaya.<\/p>\n<p><em>\u201cCelakah kalian, lantas bagaimana dengan seluruh alam semesta yang indah dan teratur ini. Tidakkah semua ini memerlukan Sang Pencipta (yang menahkodainya)?\u201d<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftn4\" name=\"_ftnref4\" data-cke-saved-href=\"#_ftn4\" data-cke-saved-name=\"_ftnref4\"><strong>[4]<\/strong><\/a><\/em><\/p>\n<p><strong><em>Guru Komunis dan Pelajar Sekolah Dasar<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Lagi-lagi tidak hanya pada era Nabi Musa dan Imam Abu Hanifah, kisah berikut tak kalah uniknya. Disampaikan oleh tokoh Ikhwanul Muslimin, Said Hawa (1935-1989), kisah ini terjadi pada masa kejayaan negara komunis, Uni Soviet (1922-1991 M). Pada saat itu, panca indera diyakini sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Yang tak bisa dilihat, berarti tak bisa dibenarkan. Doktrin ini disebarkan dengan berbagai pendekatan dan tingkatan, termasuk di tingkat sekolah dasar. Mari kita simak detail kisahnya!<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftn5\" name=\"_ftnref5\" data-cke-saved-href=\"#_ftn5\" data-cke-saved-name=\"_ftnref5\">[5]<\/a><\/p>\n<p>Di depan para pelajar sekolah dasar kelas enam, seorang guru bertanya, <em>\u201cApa kalian melihatku?\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cIya, tentu!\u201d<\/em> jawab para murid serentak.<\/p>\n<p><em>\u201cBerarti, aku ini ada.\u201d<\/em> Ujar sang guru dengan senyum. <em>\u201cApa kamu bisa melihat papan tulis ini?\u201d <\/em>tanyanya lagi.<\/p>\n<p>\u201cIya, terlihat, Guru!\u201d para murid menjawabnya tegas.<\/p>\n<p><em>\u201cArtinya, papan tulis itu ada.\u201d<\/em> Simpul sang guru, lalu melanjutkan pertanyaan berikutnya, <em>\u201cBagaimana dengan meja ini, bisakah kalian melihatnya?\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cIyaaa, bisaa.\u201d <\/em>Jawab mereka tangkas.<\/p>\n<p>\u201c<em>Maknanya<\/em>, <em>meja itu ada.\u201d <\/em>Setelah sadar otak para pelajar mulai tercuci, sang guru pun langsung menyodorkan pertanyaan intinya, <em>\u201cNah, Anak-anak, apakah kalian bisa melihat Allah?\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cTidaaak.\u201d Teriak para pelajar.<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cKalo begitu, berarti Allah itu tidak ada.\u201d <\/em>Dengan percaya diri, sang guru merasa sukses mendoktrin para pelajar Muslim yang masih lugu-lugu tersebut.<\/p>\n<p>Namun, tiba-tiba ada seorang pelajar berdiri secara refleks, dan ganti bertanya; <em>\u201cHai Kawan-kawan, apakah kalian bisa melihat akalnya pak guru?\u201d<\/em><\/p>\n<p>Mereka langsung menjawab, <em>\u201cTidaak!\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cItu artinya akal guru kita ini tidak ada!\u201d<\/em> Lol<\/p>\n<p>Apa yang dapat kita petik dari trio kisah di atas? Yup, untuk mengetahui wujud-nya Allah, tidak bisa hanya melalui panca indera saja. Meyakini panca indera sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar merupakan penyakit keyakinan yang sudah melanda manusia-manusia tempo bahela, modern, hingga akhir zaman. Sebaliknya, mari optimalkan fungsi dan daya akal kita untuk menemukan dan merasakan eksistensi-Nya dari sela-sela setiap ciptaan-Nya, terutama alam semesta ini.<\/p>\n<p><strong><em>Kosakata Agama dalam Bahasa Arab<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>Eh,<\/em> ini kok malah jadi ngaji Tauhid dan sains segala? Yepp, sengaja kita paparkan disini sebagai prolog untuk fasal-fasal berikutnya, yang akan membahas sedikit tentang akidah. Sekarang kita kembali ke teks matan <em>Safinah<\/em>: <em>\u201cDan hanya dengan-Nya, kami memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan agama.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Saat memandang diksi ini, Syekh Nawawi Banten menguraikan definisi <em>ad-din<\/em>. Secara bahasa, kata <em>din, <\/em>yang kita terjemahkan dengan agama, ternyata mengandung banyak arti, diantaranya: taat, ibadah, balasan, dan perhitungan (<em>hisab<\/em>). Sementara secara Syariat, <em>din <\/em>dimaknai sebagai ajaran yang Allah jelaskan melalui lisan Nabinya, yang memuat pelbagai hukum-hukum. Ajaran ini disebut <em>din, <\/em>sebab kita memeluknya, dengan meyakininya dan kadang juga dengan mengkritisinya. Bisa juga disebut dengan <em>millah<\/em>, sebab Malaikatlah yang mewartakan ajaran ini kepada sang rasul, yang kemudian rasul tersebut menyampaikannya hingga sampai kepada kita. Dan bisa dinamai Syariat, karena sungguh Allah lah yang mensyariatkannya kepada kita, maksudnya Ialah yang mengajarkannya kepada kita melalui lisan Baginda Nabi Saw.<\/p>\n<p>Kenapa agama diajarkan? Tentu antara lain untuk menjadi petunjuk bagi akal. Sebab, tentu akal saja tidak cukup menemukan dengan benar identitas Allah Swt. Karena keterbatasan akal ini, Allah mengutus Rasul untuk setiap umat secara berkala. Setiap Rasul membawa wahyu dari-Nya, yang kemudian disebut dengan agama. Maka, apa salahnya kita mengingat pepatah dari Albert Einstein (1879-1955), <em>\u201cScience without religion is lame, religion without science is blind.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Dalam bahasa Arab, alam itu bisa diartikan sebagai sebuah tanda. Jadi, alam semesta ini merupakan tanda eksistensi pencipta-Nya, yaitu Allah Swt. Tidak heran, banyak yang menafsirkan alam sebagai segala sesuatu selain Allah Swt. Dengan agama dan akal ilmu pengetahuan, kita akan menyadari bahwa semua selain Allah itu pasti menyimpan tanda-tanda-Nya, yang perlu kita singkap.<\/p>\n<p><em>Wallahu a\u2019lam bish Showab<\/em><strong>(Roby Muhammad)<\/strong><\/p>\n<div>\n<hr \/>\n<div id=\"ftn1\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftnref1\" name=\"_ftn1\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref1\" data-cke-saved-name=\"_ftn1\"><strong>[1]<\/strong><\/a><strong> <em>Tafsir Ibn Katsir<\/em><\/strong>, 1\/46.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn2\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftnref2\" name=\"_ftn2\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref2\" data-cke-saved-name=\"_ftn2\">[2]<\/a> <strong><em>Mafatihul Ghaib<\/em><\/strong>, 1\/24.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn3\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftnref3\" name=\"_ftn3\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref3\" data-cke-saved-name=\"_ftn3\"><strong>[3]<\/strong><\/a><strong> <em>Bahjatul Wasa`il<\/em><\/strong><em>, <\/em>1. Namun, Ibnu Katsir menilai riwayat semacam ini unik, masih memerlukan dalil yang benar.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn4\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftnref4\" name=\"_ftn4\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref4\" data-cke-saved-name=\"_ftn4\">[4]<\/a> <strong><em>Ma\u2019arijul Qabul <\/em><\/strong>karya Syekh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami (w. 1377 H), 1\/111.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn5\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=560#_ftnref5\" name=\"_ftn5\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref5\" data-cke-saved-name=\"_ftn5\">[5]<\/a> <strong><em>Allah Jalla Jalaluh<\/em><\/strong> karya Syekh Said Hawa, hal. 15.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cBismillahir Rahmanir Rahim Alhamdu Lillahi Rabbil \u2018alamin, wabihi Nasta\u2019inu \u2018ala umurid Dunya wad Din Hanya dengan nama Allah yang Rahman nan Rahim Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian semesta alam. Dan hanya dengan-Nya, kami memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan agama.\u201d Salah satu inti dari kandungan ayat kedua surat Pembuka Kitab suci kita adalah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1460,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1459"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1459"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1459\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1459"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1459"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1459"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}