{"id":1382,"date":"2016-02-15T16:59:42","date_gmt":"2016-02-15T16:59:42","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=1382"},"modified":"2016-02-15T16:59:42","modified_gmt":"2016-02-15T16:59:42","slug":"pos-pengajian-online-safinah-4-basmalah-3-dimensi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2016\/02\/15\/pos-pengajian-online-safinah-4-basmalah-3-dimensi\/","title":{"rendered":"POS (Pengajian Online Safinah) #4: Basmalah 3 Dimensi"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Bismillahirrahmanirrahim<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Hanya dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, (aku mengaji)<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Memulai dengan Basmalah<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Pada tahun keenam Hijriah, terjadi gencatan senjata antara Rasulullah dengan pimpinan Quraish. Momentum ini dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah. Sepuluh tahun ke depan tak boleh ada perang, ini diantara point terpenting perjanjian tersebut. Pada kesempatan inilah Rasulullah memanfaatkannya untuk menjaring relasi suku-suku sekitar Jazirah Arab dan memperluas bendera Islam ke penjuru dunia. Demi misi mulia ini, Rasulullah menuliskan 43 surat ke segenap pemimpin dan tokoh dunia saat itu, diantaranya ke Raja Al-Muqawqis (Iskandaria-Mesir), Raja Khorsrau II Arbrawaiz (Kisra Persia), Raja Heraklius (Byzantium-Romawi), Uskup Dhughathir (Romawi), Gubernur Al-Mundzir bin Sawa (Bahrain).<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Lalu, apa kaitannya dengan topik <em>Basmalah<\/em>? Kaitannya sangat erat: bahwa semua surat cinta Rasulullah Saw tersebut dimulai dengan <em>Bismillaahirrahmanirrahim. <\/em>Dari sunnah <em>fi\u2019iliyyah<\/em> inilah, para ulama menyarankan agar memulai sebuah tulisan dengan <em>Basmalah<\/em>, meskipun sang penerima tulisan tersebut bukan Muslim; mengikuti teladan Baginda Nabi Muhammad dan juga Nabi Sulaiman yang berkirim surat untuk Ratu Balqis (QS. An-Naml: 30).<\/p>\n<p>Tradisi memulai <em>Basmalah<\/em> ini juga dibangun atas budi mulia yang diajarkan Allah melalui Al-Quran Al-Karim dan kitab-kitab suci sebelumnya. <em>Basmalah<\/em> merupakan kunci pembuka seluruh kitab, sabda Baginda kita. Kitab suci kita dibuka kali pertama dengan <em>Basmalah<\/em>, begitu juga hampir setiap surat, selain At-Taubat, diawali dengan <em>Basmalah<\/em>. Tidak hanya itu, Rasulullah Saw bahkan menyatakan, <em>\u201cTatkala Jibril mendatangiku dengan membawa wahyu, maka hal pertama yang ia lantunkan padaku adalah Bismillahirrahmanirrahim.\u201d <\/em>(HR. Ad-Daruquthni).<\/p>\n<p><em>\u201cBasmalah ini untukmu dan umatmu. Perintahkanlah mereka (agar) tidak meninggalkannya dalam sesuatu dari berbagai urusan mereka, sebab,\u201d <\/em>pesan Rasul menyampaikan nasihat Malaikat Jibril<em>,\u201caku tak pernah meninggalkannya sekedip mata pun sejak aku turun untuk Ayahanda-mu Adam \u2018alaihis salam. Begitu juga para Malaikat lainnya.\u201d \u00a0<\/em>Di kesempatan lain, Rasulullah berpesan ketika kita menulis sebuah karya, maka tulislah <em>Basmalah<\/em> di awalnya.<\/p>\n<p>Lebih tegas lagi, Rasulullah Saw pernah memperingatkan bahwa <em>setiap urusan yang bernilai penting, namun tak dimulai dengan bismillaahirrahmanirrahim, maka ia bagaikan seorang yang terjangkit derita kusta\/lepra (ajdzam)&#8221;<\/em>. Maksud daripada <em>ajdzam<\/em> disini, menurut ulama, adalah sedikit keberkahannya. Meski bernilai dan begitu penting, aktivitas takkan melahirkan banyak keberkahan bila tak dimulai dengan <em>Basmalah<\/em>.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, mari kita teladani Al-Quran, Rasulullah, dan para penulis kitab-kitab khazanah Islam seperti <em>Safinah <\/em>ini, dengan memulai setiap aktivitas baik kita dengan senantiasa membaca basmalah, Bismillahirrahmanirrahim! Insya Allah, selain bernilai manfaat, juga banyak keberkahan yang pasti kita rasakan.<\/p>\n<p>Karena kitab ini membahas dua hal: pokok-pokok agama (<em>ushulud din) <\/em>alias Tauhid, dan fiqh, maka, sebagaimana tradisi <em>Salaf<\/em>, kita juga akan mengaji <em>Basmalah<\/em> dari dua dimensi tersebut. Dan di awal berikut ini, kita tambah satu dimensi lagi, Dimensi Bahasa, sebagai gerbang pembuka dua dimensi lainnya.<\/p>\n<p><strong><em>Basmalah Dimensi Bahasa<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Sebelum dari kacamata dua dimensi Tauhid-Fiqh, kita akan memulainya dari perspektif bahasa terlebih dahulu. Bila kita amati arti rangkaian <em>Basmalah<\/em> ini, <em>&#8220;Dengan nama Allah ar-Rahman ar-Rahim,&#8221;<\/em> kita akan temukan bahwa kalimat ini hanyalah apa yang tata bahasa sebut dengan kata keterangan. Betul kan, ya? Disini tidak ada subyek maupun predikat yang tampak. <em>Nah<\/em>, dalam bahasa Arab, kondisi seperti ini mengharuskan penyimpanan sebuah kalimat lain, yaitu minimal subyek <em>plus<\/em> predikatnya.<\/p>\n<p>Siapa subyek dan apa predikatnya? Disinilah hebat dan dahsyatnya Al-Quran. Subyek dan predikat sengaja tak tertulis agar, diantaranya, pengamalan <em>Basmalah<\/em> lebih universal. Bisa dibaca oleh siapa saja dan untuk aktivitas yang tak terbatas. Andai saja subyek dan predikat disebutkan, sudah pastilah pesan Jibril di atas dan anjuran hadits untuk memulai aktivitas yang bernilai itu menyempit, jika tidak sangat sempit.<\/p>\n<p><strong><em>Basmalah Dimensi Tauhid<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Masih <em>nyambung<\/em> dengan sebelumnya. Dalam gramatik Arab, mendahulukan kata keterangan dan sejenisnya atas subjek-predikat yang diakhirkan (lebih-lebih tersimpan dalam konteks ini), itu mengandung arti &#8220;hanya&#8221;.<\/p>\n<p>Katakanlah, kita hendak berkativitas, kita mengucapkan Basmalah.\u00a0Maka,maka kurang lebih terjemah komplitnya seperti ini, &#8220;Hanya dengan nama Allah ar-Rahman ar-Rahim, aku beraktivitas.&#8221; Dengan artian demikian, kita benar-benar tengah mentauhidkan Allah dalam awal segala perbuatan kita; Bahwa hanya berkat-Nya lah kita bisa berbuat, dan tanpa-Nya kita tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan kita bukanlah siapa-siapa dan apa-apa dengan tanpa nama-Nya.<\/p>\n<p>Rasa dimensi ini hampir sama, ya, dengan makna <em>hauqalah<\/em>? Yap, karena itulah, Rasulallah Saw menjamin bahwa siapa saja yang membaca <em>\u201cBismillahirrahmanirrahim wa laa haula walaa quwwata illaa billaahil \u2018aliyyil \u2018adzim\u201d, <\/em>niscaya Allah akan menyingkirkan darinya tujuh puluh pintu dari segala jenis bala`, rasa galau, sedih, dan stress. Dengan pendekatan dimensi Tauhid ini, kita akan sedikit menyibak hikmah; kenapa Rasulullah menggabungkan dua kalimat sakti <em>Basmalah <\/em>dan <em>Hauqalah <\/em>dalam hadits ini.<\/p>\n<p>Jadi, dengan menghadirkan dimensi Tauhid ini dalam <em>Basmalah<\/em>, kita senantaisa merasakan wujud dan kehadiran-Nya dalam setiap lini kehidupan kita, dan mestinya meningkatkan keimanan kita kepada-Nya. Makanya, selain hadits kesaktian <em>Basmalah-Hawqalah <\/em>barusan, tidak heran Syekh Nawawi Banten ngasih amalan untuk kita: ketika <em>Basmalah <\/em>dibaca dua puluh satu (21) kali sebelum tidur, maka malam itu kita akan aman dari syaitan, rumah kita pun aman dari para pencuri, aman dari mati \u201cdadakan\u201d dan dari segala marabahaya lainnya. Khasiat ini tidak lain sebab siapa yang senantiasa mengingat Allah dan menghadirkan-Nya, niscaya ia dalam perlindungan Allah, bawaan hatinya pasti selalu tenang dan wajahnya meneduhkan.<\/p>\n<p><strong><em>Basmalah Dimensi Fiqh<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Masih ingat sasaran ilmu fiqh itu apa? Yep, betutl; segala aktivitas keseharian <em>(\u2018amaly), <\/em>termasuk membaca <em>Basmalah<\/em>. Karenanya, ulama membagi hukum membaca <em>Basmalah <\/em>menjadi lima:<\/p>\n<p>1. Wajib, seperti membaca surat Al-Fatihah dalam Salat.<\/p>\n<p>2. Sunnah untuk aktivitas-aktivitas yang bernilai positif menurut Syariat, seperti makan, minum, keluar dari rumah ke kampus, dan sebagainya. Berselancar di dunia maya pun ada baiknya membaca <em>Basmalah, <\/em>agar lebih berkah dan hati lebih kokoh menghindari hal-hal negatif, terutama yang berbau parno dan fitnah.<\/p>\n<p>3. Haram untuk aktivitas yang diharamkan sebab dzatnya, seperti minum bir, menghisap narkoba, mencuri, menikmati kecantikan perempuan, dan lain-lain. Membaca <em>Basmalah <\/em>saat melakukan perkara-perkara haram semacam ini sama sekali tidak meringankan kadar dosa, tapi justru menambahnya.<\/p>\n<p>4. Makruh ketika melalukan perbuatan yang makruh karena dzatnya, seperti mencabut uban. Sebelum mencabutnya, kita baca <em>Basmalah <\/em>dulu; malah kita telah melakukan duo makruh sekaligus.<\/p>\n<p>5. Mubah untuk perbuatan yang mubah, seperti <em>mindahin<\/em> barang, dan lain-lainnya.<\/p>\n<p>Namun, Syekh Muhammad Ba\u2019athiyyah menyatakan hukum membaca Basmalah tidak ada yang mubah, sebab apa yang dasar hukumnya sunnah, takkan pernah tertimpa hukum mubah. Jadi, menurut pendapat ini, setiap aktivitas <em>mubah<\/em> bila dimulai dengan <em>Basmalah <\/em>akan menghasilkan pahala keberkahan. Nampaknya, pendapat ini merupakan revisi atas pembagian lima hukum <em>Basamalah<\/em>, yang beliau sendiri paparkan di <em>Syarah Ad-Durratul Yatimah<\/em>.<em> Wallahu a\u2019lam<\/em><\/p>\n<p><strong><em>Tafsir Simbolik Basmalah: Kisah Nabi Isa dan Sang Guru<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>Nah, <\/em>setelah berjelajah tiga dimensi ini, mari kita akhiri dengan sebuah kisah yang terekam dalam beberapa kitab Tafsir seperti Ibn Katsir dan At-Thabari.<\/p>\n<p>Dikisahkan, bahwa Siti Maryam pernah memasrahkan putranya, Nabi Isa <em>\u2018alaihis salam<\/em>, kepada seorang guru buat belajar. Di awal pelajaran, sang guru memerintahkan Nabi Isa agar membaca <em>Basmalah <\/em>terlebih dahulu. Namun, apa respon sang Nabi yang sudah \u2018alim sejak lahir ini? Beliau malah balik bertanya,<\/p>\n<p><em>\u201cAnda tahu apa itu Bismillahirrahmanirrahim?\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cAku tak tahu,\u201d <\/em>jawab sang guru jujur dengan rendah hati.<\/p>\n<p>Dengan kecerdasan dan kebijakannya, Sang Nabi justru mengajarkan sang guru tafsir <em>Isyari<\/em> di balik pemilahan kata perkata dalam <em>Basmalah <\/em>ini. <em>Ba\u2019 <\/em>disini, ujar Nabi \u2018Isa, adalah <em>Baha`ullah <\/em>(Keindahan Allah), <em>Sin<\/em>-nya <em>Sanaa`uhu <\/em>(Keluhuran-Nya), <em>Mim-<\/em>nya merupakan <em>Mulkuhu <\/em>(Kerajaan-Nya), dan Allah adalah nama Tuhan Sang Raja Diraja, sedangkan <em>Ar-Rahman<\/em> berarti yang maha pengasih di dunia, sementara <em>Ar-Rahim <\/em>yang maha penyayang di Akhirat.<\/p>\n<p>Demikianlah salah satu tafsir <em>rabbany<\/em> yang Nabi Isa ajarkan kepada sang guru dan juga kepada kita sekarang. Semoga melalui tiga dimensi <em>Basmalah <\/em>ini setiap kali kita membacanya<em>, <\/em>terbesitlah dalam diri kita keindahan, keluhuran, kekuasaan, dan ketuhanan Allah yang kasih sayang-Nya mendahului adzab-Nya; sehingga pintu-pintu Setan pun tertutup rapat, menjauh dari pelupuk mata hati kita. Amiin<\/p>\n<p>Dan akhirnya, selamat memaknai <em>Basmalah <\/em>kembali! <strong>(Muhammad Robi)<\/strong><\/p>\n<p><strong>Sumber Utama: Syarah-syarah Safinah Najah <\/strong>yang telah disebutkan pada POS#1<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bismillahirrahmanirrahim Hanya dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, (aku mengaji) Memulai dengan Basmalah Pada tahun keenam Hijriah, terjadi gencatan senjata antara Rasulullah dengan pimpinan Quraish. Momentum ini dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah. Sepuluh tahun ke depan tak boleh ada perang, ini diantara point terpenting perjanjian tersebut. Pada kesempatan inilah Rasulullah memanfaatkannya untuk menjaring&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1383,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1382"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1382"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1382\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}