{"id":1280,"date":"2016-02-02T11:34:50","date_gmt":"2016-02-02T11:34:50","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=1280"},"modified":"2016-02-02T11:34:50","modified_gmt":"2016-02-02T11:34:50","slug":"pos-pengajian-online-safinah-2-kisah-hidup-mushonnif-safinah-syaikh-salim-bin-sumair","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2016\/02\/02\/pos-pengajian-online-safinah-2-kisah-hidup-mushonnif-safinah-syaikh-salim-bin-sumair\/","title":{"rendered":"POS (Pengajian Online Safinah) #2: Kisah Hidup Mushonnif Safinah. Syaikh Salim bin Sumair"},"content":{"rendered":"<p>Sangat disayagkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun tak mengetahui siapa yang menulisnya. Terasa ada yang kurang, dan bisa jadi berkah ilmu kita bakal <em>minus. <\/em>Sebaliknya, mengenali sang penulis akan menjalin hubungan batin, sehingga cahaya ilmu yang tertransfer mampu menerangi relung hati pembaca.\u00a0 Dalam konteks sekarang, kita telah menyaksikan betapa manfaatnya kitab <em>Safinah. <\/em>Tidakkah terbenak dalam hati kita; siapa, <em>sih<\/em>, sang penulis kitab tersebut?<\/p>\n<p>Rahasia di balik kedahsyatan <em>Safinah <\/em>tentu, antara lain, terletak pada sosok penulisnya. Beliau adalah Syekh Salim bin \u2018Abdillah bin Sumair. Seorang maha guru yang tak hanya bergulat dalam dunia pendidikan, tapi juga seorang <em>qadli\u2019<\/em> nan ahli politik, penasehat Sultan, sekaligus memiliki keahlian dalam bidang militer.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><strong>Sang <em>Mu\u2019allim <\/em><\/strong><\/p>\n<p>Syekh Salim dilahirkan di desa <em>Dzi Ashbuh, <\/em>sebuah wilayah yang berada dalam lembah Hadlramaut dan di bawah kekuasaan Kerajaan Al-Katsiry (781-1387 H\/1379-1967 M). Bin Sumair, yang sekarang di Indonesia -seperti di Solo- lebih dikenal dengan Bin Semir, merupakan keluarga yang melahirkan banyak tokoh ulama besar, panutan masyarakat sekitar Hadlramaut, tak terkecuali ayah Syekh Salim. Dengan bimbingan sang ayah, Syekh Salim telah menguasai Al-Qur`an Al-Karim di usianya yang masih belia. Beliaupun dipercaya sebagai pengajar Al-Qur`an, hingga diberi <em>title <strong>\u201cMu\u2019allim\u201d<\/strong><\/em>, sebuah gelar kehormatan di wilayah Hadlramaut untuk seorang yang tekun mengajarkan Al-Quran. Dalam pengamatan Sayyid Umar bin Hamid Al-Jaylani <em>hafidzahuLlah,<\/em> gelar <strong><em>\u201cMu\u2019allim\u201d <\/em><\/strong>ini terinspirasi dari sebuah hadits riwayat Sahabat \u2018Utsman bin \u2018Affan ra;<\/p>\n<p><em>\u201cSebaik-baiknya kalian adalah sesiapa yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.\u201d<\/em>\u00a0 (HR. Al-Bukhari, no. 5027)<\/p>\n<p>Meski telah menjadi <em>\u201cguru ngaji\u201d<\/em>, api semangat belajar Syekh Salim tidak pernah padam. Kepada sang ayah dan beberapa ulama besar Hadlramaut abad 13 H, beliau menimba pelbagai ilmu Syariat. Berkat kesungguhan, kecerdasan, dan tekun, Syekh Salim mendapat kepercayaan untuk ikut mengajarkan berbagai ilmu bersama para gurunya. Dalam waktu yang tak lama, namanya terkenal bagai mentari hingga mendapat pujian yang membanggakan dari kalangan guru-guru beliau sendiri, seperti Syekh <em>Al-\u2018Allamah <\/em>Abdullah bin Ahmad Basaudan (1178-1266 H).<\/p>\n<p><strong>Kemelut Katsiri-Yafi: Ahli Militer, Juru Damai dan Penasihat Sultan<\/strong><\/p>\n<p>Tidak berhenti pada prestasi intelektual saja, Syekh Salim juga dikenal sebagai sosok politikus yang diperhitungkan. Karena keahliannya di bidang militer, beliau diutus Kerajaan Katsiry ke India untuk mencari senjata perang tercanggih saat itu. Ini menunjukkan bahwa pada zaman beliau kondisi politik kerajaan sedang tidak stabil, dan diliputi kemelut peperangan serta perebutan kuasa.<\/p>\n<p>Atas mandat sultan Katsiry tersebut, Syekh Salim akhirnya bisa mengenal \u201cdunia luar\u201d dan memulai pengembaraan pertamanya.\u00a0 Setelah mengarungi lautan samudera dan melacak berbagai peralatan perang di berbagai wilayah India dan sekitarnya, beliau menemukan peralatan militer tercanggih justru di Singapura. Beliau langsung membeli dan mengirimnya ke Hadlramaut.<\/p>\n<p>Selain ahli strategi militer, beliau juga dikenal sebagai juru damai antar penguasa. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kerajaan Al-Katsiry memiliki konflik politik dengan suku Yafi` sejak tahun 926 H. Sepanjang tiga abad lebih sebelum Syekh Salim lahir, kedua penguasa ini saling berperang demi <em>\u201crebutan kuasa\u201d<\/em> di berbagai wilayah Hadlramaut. Kemelut ini semakin memanas pada era Syekh Salim. Kisaran tahun 1264 H, daerah kelahiran Syekh Salim, <em>Dzi Ashbuh<\/em> dan sekitarnya menjadi saksi bisu pertumpahan darah merah antara pasukan Katsiry dengan Yafi`.<\/p>\n<p>Demi kemaslahatan rakyat yang menjadi korban kekuasaan, Syekh Salim memainkan peran besar dalam rekonsiliasi perdamaian antara Yafi\u2019 dan Kerajaan Al-Katsiry. Di akhir Rabi\u2019ul Awwal tahun 1265, serangan 800 pasukan Yafi\u2019 untuk menguasai kota Seyyun mengalami kegagalan telak. Kerajaan Katsiry menang dan menawan banyak prajurit Yafi\u2019. Akhirnya rekonsiliasi antar pimpinan mereka pun terjadi. Hasil mufakat memutuskan agar suku Yafi\u2019 harus \u201cdiusir-balik\u201d ke daerah asalnya, timur laut Teluk Aden [1], tidak boleh bergerilya lagi di wilayah Hadlramaut [2].<\/p>\n<p>Berkat jasa dan manuver politiknya, Syekh Salim diangkat sebagai penasihat pribadi Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katsiry [3]. Di awal karier, sang sultan sangat patuh dan tunduk dengan segala arahan dan nasehat Syekh Salim. Namun, seiring berjalannya waktu dan saratnya kepentingan, ia enggan mendengar petuah Syekh Salim, bahkan cenderung meremehkannya. Ini yang menjadikan hati Syekh Salim terluka, hingga mendorongnya untuk hijrah meninggalkan tanah air menuju India, kemudian menetap di Batavia sebagai akhir pengembaraan keduanya.<\/p>\n<p><strong>Dari Bumi Hadlramaut, Berdakwah di Batavia<\/strong><\/p>\n<p>Kami belum menemukan tahun berapa Syekh Salim hijrah dan tiba di Batavia. Data sejarah yang kami dapat hanya menjelaskan bahwa setelah tinggal di Batavia, sebagai seorang tokoh terpandang, kabar hijrah ini tersebar luas. Masyarakat pun datang berduyung-duyung untuk menimba ilmu dan memohon doa kepada beliau. Karena antusias masyarakat setempat, Syekh Salim mendirikan berbagai majelis ilmu dan dakwah. Dalam berdakwah dan membumikan syariat Islam di Batavia, Syekh Salim bin Sumair dikenal sangat tegas menegakkan kebenaran, apapun resikonya. Beliau menyayangkan para ulama yang mendekat, bergaul, apalagi menjadi \u201cbudak\u201d para pejabat Kolonial Belanda yang menguasai Batavia sejak tahun 1621 M. Tidak jarang beliau memberi nasihat dan kritik tajam kepada para ulama-kiai yang gemar <em>mondar<\/em>&#8211;<em>mandir<\/em> kepada pemerintahan Belanda.<\/p>\n<p><strong><em>Dongeng <\/em><\/strong><strong>Martin van: Seteru Syekh Salim dengan Mufti Betawi Sayyid Utsman<\/strong><\/p>\n<p>Namun, perlu kami tegaskan disini ketidaktepatan Martin van Bruinessen. Dalam bukunya, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, ia mengungkapkan konflik Syekh Salim bin Sumair terhapad pendirian Sayyid Utsman bin Yahya (1238-1331 H\/1822-1913 M) yang mau menjabat Mufti Betawi. Kritikan dan konflik ini tidak pernah terjadi, sebab Syekh Salim telah wafat tahun 1271 H\/1855 M terdahulu sebelum Sayyid Utsman bin Yahya memulai dakwahnya di Batavia sekitar tahun 1862 M\/1279 H. Kemungkinan yang bertemu dengan Syekh Salim saat itu adalah Mufti Betawi sebelum Sayyid Ustman, yaitu Syekh Abdul Ghani (1801-1933 H). <em>Wallahu a\u2019lam<\/em><\/p>\n<p>Terlepas dari \u201c<em>dongeng\u201d <\/em>Martin van Bruinessen, Syekh Salim memang dikenal sangat <em>zuhud, <\/em>dan anti dengan pemerintah lalim. Ini sudah terbukti dengan tekad hijrahnya dari Kerajaan Katsiry yang sudah tidak pro-rakyat, apalagi saat di Batavia yang pemerintahannya adalah penjajah kolonial Protestan Belanda yang anti-Islam.<\/p>\n<p><strong>Kepribadian dan Akhir <em>Hayat<\/em> Syekh Salim di Tanah Abang<\/strong><\/p>\n<p>Selain keteguhan prinsip, Syekh Salim bin Sumair adalah tipikal ulama Akhirat yang tak pernah luput berdzikir dan sangat <em>istiqamah <\/em>melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Dikisahkan oleh Syekh Ahmad Al-Hadlrawi, bahwa Syekh Salim senantiasa mengkhatamkan Al-Quran saat beliau <em>thawaf, <\/em>mengelilingi Kakbah. Figur ulama yang perlu kita teladani dan hidupkan kembali spiritnya dalam keseharian kita.<\/p>\n<p>Beliau menghabiskan akhir hayatnya di Batavia dengan <em>mujahadah <\/em>dan dakwah. Pada tahun 1271 H\/1855 M, Syekh Salim bin Sumair terpanggil ke rahmat Allah Swt, dan meninggalkan beberapa karya ilmiah untuk kita telaah dan amalkan. Diantara warisan ilmu beliau adalah kitab <em>Safinatun Najah <\/em>yang akan menjadi topik pengajian online kita ini, insya Allah, dan kitab <em>Al-Fawa`id Al-Jaliyyah fiz Zajr \u2018an Ta\u2019athil Hiyalir Ribawiyah <\/em>(Hikmah-hikmah Jeli di Balik Larangan Saling Memberi melalui Trik-trik Tipudaya Ribawi).<\/p>\n<p>Makam beliau tidak semasyhur kitabnya, <em>Safinah<\/em>, padahal sangat mudah untuk dijangkau. Jasad beliau dikebumikan di bawah Mihrab Masjid Al-Ma\u2019mur, Tanah Abang, Jakarta-Indonesia. Semoga kita dapat menziarihinya, dan Allah memberi kita kekuatan untuk mengikuti prinsip perjuangan Syekh Salim bin Sumair, yang senantiasa Allah rahmati.<\/p>\n<p><strong>Empat Soalan Historis<\/strong><\/p>\n<p>Mengakhiri biografi Syekh Salim, penulis merasa masih banyak misteri yang masih perlu digali lagi. Meninggalkan banyak pertanyaan yang belum bisa terjawab,<\/p>\n<p>1) Siapa yang mengajarkan beliau keahlian militer,<\/p>\n<p>2) Tahun berapa Syekh Salim pertama kali menuju India dan Singapur untuk mencari peralatan perang tercanggih,<\/p>\n<p>3) Kebijakan Sultan Katsiri seperti apa yang menyulut \u201camarah\u201d Syekh Salim, hingga rela meninggalkan tanah air tercintanya, bagaimana kronologisnya<\/p>\n<p>4) kapan lagi beliau sampai di India untuk kedua kalinya, dan kapan pula tiba di Batavia.<\/p>\n<p>Setidaknya, dengan menjawab empat pertanyaan historis ini, kita akan lebih mengenal sosok legendaris Syekh Salim bin Abdillah bin Sumair, dan semakin mampu menelusuri jejak-jejak hikmahnya di balik tirai kehidupan beliau yang sangat menarik. Sebab, pada abad tiga belas Hijriah hingga sekarang, sangat jarang ditemukan seorang \u00e1lim ulama <em>\u201cmulti-talenta\u201d<\/em>: ahli militer, pakar politik hingga menjadi penasihat Sultan, namun secara misterius meninggalkan seluruh jabatan duniawi tersebut, lalu berhijrah ke bumi asing nan jauh dari tanah airnya.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, mari kita sama-sama membaca <em>al-fatihah <\/em>yang dihadiahkan kepada Syekh <em>Al<\/em>-\u2018<em>Allamah Al-Qadli Al-Khabir As-Siyasi <\/em>Salim bin Abdlillah bin Sumair, semoga amal kebajikan beliau Allah lipatgandakan balasannya, ruhnya senantiasa diliputi rahmat <em>rabbaniyyah<\/em>, dan kita bisa melanjutkan api perjuangan dakwah beliau di bumi pertiwi. <em>Amiin, ya Rabbal \u2018alamin.<\/em><strong>(Muhammad Robi Uz)<\/strong><\/p>\n<div>\n<hr \/>\n<div id=\"ftn1\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=519#_ftnref1\" name=\"_ftn1\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref1\" data-cke-saved-name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Lihat: https:\/\/ar.wikipedia.org\/wiki\/%D9%8A%D8%A7%D9%81%D8%B9<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn2\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=519#_ftnref2\" name=\"_ftn2\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref2\" data-cke-saved-name=\"_ftn2\">[2]<\/a> Lebih lengkap, baca: http:\/\/samaaden.org\/articles\/s\/646<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"ftn3\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=519#_ftnref3\" name=\"_ftn3\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref3\" data-cke-saved-name=\"_ftn3\">[3]<\/a> Dalam pengantar <em>Syarh Ad-Durratul Yatimah<\/em>, Sayyid \u2018Umar bin Hamid Al-Jaylani <em>hafidzahullah<\/em> menuturkan nama Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katsiry, yang otomatis berkuasa pada tahun 1265-an. Namun, setelah kami lacak dalam sejarah Kerajaan Al-Katsiry, Sultan Katsiry saat itu adalah Sultan Ghalib bin Muhsin Al-Katsiry dengan masa kekuasaan sejak tahun 1261 H\/1845 M hingga wafat pada 1287 H\/1870 M. Versi lain menyatakan tahun wafatnya 1853 M di Arafat saat menunaikan ibadah Haji.<\/p>\n<p>Jadi, siapa sultan Katsiry yang menjadikan Syekh Salim bin Sumair sebagai penasihatnya? <em>Wallahu a\u2019lam.<\/em> Ini memerlukan kajian lebih teliti dan referensi yang lebih. Semoga ke depan ada yang menelitinya lebih jeli. Amin,<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sangat disayagkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun tak mengetahui siapa yang menulisnya. Terasa ada yang kurang, dan bisa jadi berkah ilmu kita bakal minus. Sebaliknya, mengenali sang penulis akan menjalin hubungan batin, sehingga cahaya ilmu yang tertransfer mampu menerangi relung hati pembaca.\u00a0 Dalam konteks sekarang, kita telah menyaksikan betapa manfaatnya kitab Safinah. Tidakkah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1283,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1280"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1280"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1280\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1280"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1280"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1280"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}