{"id":1228,"date":"2016-06-02T08:19:15","date_gmt":"2016-06-02T08:19:15","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=1228"},"modified":"2016-06-02T08:19:15","modified_gmt":"2016-06-02T08:19:15","slug":"pot-pengajian-online-taqrib-4-hamdalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2016\/06\/02\/pot-pengajian-online-taqrib-4-hamdalah\/","title":{"rendered":"POT (Pengajian Online Taqrib) #4: Hamdalah"},"content":{"rendered":"<p><em>Dengan menyebut nama Allah, Pemberi Kasih Yang Maha Kasih,<\/em><\/p>\n<p><em>Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam,<\/em><\/p>\n<p><em>Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu \u2018alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya.<\/em><\/p>\n<p><em><strong>Alhamdulillaahirabbil\u2019aalamiin<\/strong><\/em><\/p>\n<p><em>\u201cSegala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam\u201d<\/em><\/p>\n<p>Setelah membuka kitabnya dengan basmalah (menyebut nama Allah), pengarang kitab melanjutkannya dengan hamdalah (memuji Allah), karena mengikuti kitab Allah dan mengamalkan hadis Nabi <em>\u201csetiap perkara penting (menurut syar\u2019i) yang tidak dimulai dengan \u2018bismillahirrahmaanirrahiim\u2019, maka terputus keberkahannya\u201d<\/em> \u00a0dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud <em>\u201csetiap perkara penting (menurut syar\u2019i) yang tidak dimulai dengan <\/em>\u00a0\u2018<em>alhamdulillah\u2019 maka terputus keberkahannya\u201d.<\/em> Dari dua riwayat tersebut muncul pertanyaan, apakah kedua hadits tersebut tidak bertentangan?, bukankah akan menimbulkan kesan saling meniadakan satu sama lain, misalnya saja ketika seseorang mengamalkan hadits basmalah maka ia tidak perlu lagi mengamalkan hadits hamdalah atau sebaliknya.<\/p>\n<p>Pengarang kitab menggabungkan basmalah dan hamdalah pada permulaan (<em>ibtida)<\/em> kitabnya karena mengamalkan kedua riwayat tersebut dan memberikan isyarat atau menunjukkan kepada kita \u00a0bahwa kedua hadits tersebut tidak bertentangan satu sama lain. Hal tersebut karena <em>Ibtida <\/em>terbagi menjadi dua, <em>ibtida haqiqi <\/em>dan <em>ibtida idhafi<\/em>. <em>Ibtida haqiqi <\/em>merupakan permulaan yang tidak boleh didahului oleh kalimat lain sedangkan <em>ibtida idhafi <\/em>merupakan permulaan yang boleh didahului oleh kalimat lain, bahkan ada ulama yang berpendapat <em>ibtida idhafi <\/em>harus didahului oleh kalimat lain, sehingga teranglah bagi kita bahwa hadits basmalah dan hamdalah tidak bertentangan satu sama lain dan keduanya independen tidak terikat satu sama lain dalam menghasilkan keberkahan.<\/p>\n<p><strong><em>Al hamdu lillaah <\/em>(Segala Puji Hanya Bagi Allah)<\/strong><\/p>\n<p>Kalimat <em>Alhamdulillah <\/em>berasal dari <em>hamidtu hamdallaahi <\/em>(aku memuji dengan pujian terhadap Allah) kemudian kata kerja (<em>hamidtu<\/em>) pada kalimat tersebut dibuang diganti dengan kata setelahnya yaitu kata <em>hamda,<\/em>lalu dibubuhi alif lam yang menunjukkan kontinuitas dan diharakati <em>dhammah <\/em>pada huruf <em>dal <\/em>nya sehingga menjadi <em>alhamdulillah<\/em>. Alif lam yang melekat pada <em>alhamdu <\/em>merupakan <em>al lil istigraaqil jinsi <\/em>yang berarti segala bentuk pujian itu milik Allah. Ada empat macam bentuk pujian, pujian Allah terhadap diri-Nya, hal demikian merupakan suatu kepantasan bagi Allah sebagai Tuhan alam semesta, dan\u00a0 hanya Allah yang berhak sombong, Allah berfirman <em>\u201cAllah sebaik-baiknya pengurus dan penolong\u201d <\/em>(QS Al-Hajj:78), pujian Allah terhadap makhluk-Nya, sebagaimana Allah memuji Nabi Ayub dalam surat shad ayat 44, pujian makhluk terhadap Allah dan pujian makhluk terhadap makhluk.<\/p>\n<p><em>Hamd <\/em>secara bahasa berarti pujian yang sempurna. Dalam bahasa arab terdapat kata yang serupa dengan <em>hamd<\/em> yaitu <em>madh. <\/em>Imam Fakhruddin ar-Razi di dalam kitab <em>Mafatihil Ghaib<\/em> atau yang lebih dikenal dengan <em>Tafsir Al-Kabir<\/em> menguraikan perbedaan kedua kata tersebut, menurutnya kata <em>madh <\/em>biasa digunakan untuk sesuatu yang mati (benda mati) dan sesuatu yang hidup seperti ketika seseorang melihat intan yang sangat indah lalu memujinya, berbeda dengan <em>hamd <\/em>yang digunakan hanya bagi sesuatu yang hidup, sehingga dapat dikatakan <em>madh <\/em>lebih umum dibandingkan <em>hamd, <\/em>kata <em>hamd <\/em>juga merupakan ungkapan yang menunjukkan atas beragam anugerah sedangkan <em>hamd <\/em>hanya anugerah tertentu yaitu anugerah kebaikan dan kenikmatan, <em>madh <\/em>diungkapkan\u00a0 sebelum dan setelah terjadinya suatu kebaikan sedangkan <em>hamd <\/em>diungkapkan setelah terealisasinya kebaikan, <em>madh <\/em>terkadang dilarang, hal tersebut sesuai dengan hadits <em>\u201csiramkanlah pasir pada wajah orang-orang yang memuji (maddahiin)\u201d <\/em>sedangkan <em>hamd<\/em> \u00a0diperintahkan secara mutlak.<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=644#_ftn1\" name=\"_ftnref1\" data-cke-saved-href=\"#_ftn1\" data-cke-saved-name=\"_ftnref1\">[1]<\/a><\/p>\n<p>Huruf lam (<em>harful jar<\/em>) pada kata <em>lillah<\/em> memiliki beberapa makna diantaranya yaitu <em>lil ikhtishas <\/em>(pengkhususan)<em>, lil milki <\/em>(kepemilikan)<em>, <\/em>dan <em>lil isti\u2019la<\/em> (penguasaan). Ketiga makna tersebut layak disandingkan dengan kata Allah, segala pujian itu khusus bagi Allah karena agungnya Allah dan banyaknya anugerah dan kebaikan Allah, segala pujian itu milik Allah karena Allah Pemilik dari segala pemilik, segala pujian itu dikuasai oleh Allah karena Allah Penguasa dari segala penguasa.<\/p>\n<p><strong><em>Rabbil \u2018aalamiin <\/em>(Pengurus Alam Semesta)<\/strong><\/p>\n<p>Eksistensi terbagi menjadi dua, eksistensi yang wajib adanya dan eksistensi yang mungkin adanya. Eksistensi yang wajib adanya yaitu Dzat Allah (<em>rabb<\/em>) sedangkan selain Dzat Allah maka\u00a0 termasuk kedalam eksistensi yang mungkin adanya atau dinamakan dengan alam semesta (\u2018<em>aalamiin<\/em>), dinamakan demikian karena segala sesuatu yang ada selain Allah menunjukkan adanya Allah. \u00a0Allah adalah <em>rabb<\/em> yang memiliki dan mengurusi alam semesta hingga bagian yang paling terkecil (seperti <em>quark <\/em>dan <em>super-string<\/em>) dari alam semesta, Allah merupakan <em>rabb<\/em> yang mengurusi proses terjadinya manusia dari mulai setetes air mani hingga menjadi manusia sempurna, Allah adalah <em>rabb <\/em>yang mengatur dan mengurus benda-benda langit sehingga tidak bertabrakan satu sama lain dan menjadi harmoni. Tidak mungkin jika tidak ada sesuatu kekuatan besar, yaitu pengawasan ilahi yang menjaga keharmonisan benda-benda langit yang tersebar di angkasa dengan jarak yang cukup jauh, sehingga gravitasi internal tidak menarik benda-benda tersebut menjadi satu masa yang besar. Adanya alam semesta merupakan tanda adanya Allah dan ke-Esa-an Allah<\/p>\n<p>Ibnu Mu\u2019taz berkata:<\/p>\n<p><em>\u201cfayaa \u2018ajaban kayfa ya\u2019shil ilaah\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 am kayfa yajhaduhul jaahid<\/em><\/p>\n<p><em>Wa fii kulii syai in lahu aayah \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 tadullu \u2018alaa annahu waahid\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>Maka sungguh mengherankan bagaimana seseorang bisa maksiat kepada Tuhan, atau bagaimana ia bisa mengingkari-Nya, padahal dalam tiap sesuatu terdapat ayat (tanda) yang menunjukkan bahwasanya Allah itu Esa.<\/em><\/p>\n<p><strong>Penutup <\/strong><\/p>\n<p><em>Alhamdulillaahirabbil\u2019aalamiin <\/em>merupakan kalimat yang redaksinya <em>khabari <\/em>(pemberitahuan) sedangkan maknanya <em>insya\u2019I <\/em>(menumbuhkan\/memunculkan) sehingga ketika seseorang membaca hamdalah seolah-olah ia memberikan suatu pernyataan bahwa segala puji hanya bagi Allah yang memunculkan\u00a0 pengertian ia memuji Allah, karena mengabarkannya seseorang tentang pujian termasuk bagian dari suatu pujian.\u00a0 <em>Alhamdulillaahirabbil\u2019aalamiin<\/em> merupakan kalimat mulia nan agung, sudah seyogyanya seorang muslim menjadikannya sebagai dzikir dalam kesahariannya dan diucapkan pada hal yang semestinya (pada tempatnya)<\/p>\n<p>Syaikh Sirri As-Saqathi pernah berkata \u201csudah tiga puluh tahun aku melakukan <em>istigfar<\/em> kepada Allah karena \u00a0ucapan <em>Alhamdulillah <\/em>yang keluar dari mulutku\u201d lalu beliau ditanya \u201cbagaimana itu bisa terjadi?\u201d beliau pun berkata \u201cpada saat itu terjadi suatu kebakaran di Kota Bagdad, banyak sekali toko-toko yang terbakar ketika itu, lalu seseorang memberitahuku bahwa tokoku tidak terbakar, mendengar perkataan orang tersebut aku mengucapkan <em>Alhamdulillah, <\/em>yang berarti aku merasa senang karena tokoku tidak terbakar ketika orang lain tertimpa musibah, sejak saat itu aku melakukan <em>istigfar <\/em>kepada Allah atas ucapan <em>Alhamdulillah <\/em>yang keluar dari mulutku\u201d.<\/p>\n<p><em>Alhamdulillaahirabbil\u2019aalamiin <\/em>terdiri dari delapan huruf seperti pintu surga yang memiliki delapan pintu, barang siapa yang mengucapkannya dengan hati yang bersih maka ia berhak memilih lewat pintu surga yang manapun ia kehendaki, demikian sebagian <em>\u2018aarifiin <\/em>berkata. Lalu lewat pintu manakah kita memasuki surga? <strong>(Santri Kobong)<\/strong><\/p>\n<p><em>Wallahu a\u2019lamu bis shawab<\/em><\/p>\n<div>\n<hr \/>\n<div id=\"ftn1\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=644#_ftnref1\" name=\"_ftn1\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref1\" data-cke-saved-name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Fakhruddin Ar-Razi, <em>Mafaatihul Ghaib, <\/em>hal.223<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dengan menyebut nama Allah, Pemberi Kasih Yang Maha Kasih, Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu \u2018alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya. Alhamdulillaahirabbil\u2019aalamiin \u201cSegala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam\u201d Setelah membuka kitabnya dengan basmalah (menyebut nama Allah), pengarang kitab melanjutkannya dengan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1235,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1228"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1228"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1228\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1228"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1228"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1228"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}