{"id":1178,"date":"2017-04-28T17:57:27","date_gmt":"2017-04-28T17:57:27","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.kmnu.or.id\/?p=1178"},"modified":"2017-04-28T17:57:27","modified_gmt":"2017-04-28T17:57:27","slug":"ada-apa-dengan-shalatku-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/2017\/04\/28\/ada-apa-dengan-shalatku-2\/","title":{"rendered":"Ada Apa Dengan Shalatku?"},"content":{"rendered":"<p><em>Bismillaahirrahmaanirrahiim,<\/em><\/p>\n<p><em>Alhamdulillahilladzii ja\u2019ala as-shalaata mi\u2019raajal mu\u2019miniin,<\/em><\/p>\n<p><em>As-sholaatu was salaamu \u2018alaa rasuulihi al-ladzi qurratu \u2018ainihi fis shalaah wa \u2018alaa aalihi wa shahbihi ajma\u2019iin<\/em><\/p>\n<p>Al kisah ada seorang pemuda yang gemar melakukan maksiat. Pada suatu hari, ia ingin berhenti dari perilaku maksiatnya tersebut. Beragam upaya sudah ia coba agar dapat berhenti dari perilaku maksiatnya, namun tak membuahkan hasil. Suatu ketika pemuda tersebut melewati suatu masjid dan mendengar seorang ustadz yang berkata <em>\u201csesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.\u201d <\/em>Mendengar perkataan sang ustadz, pemuda tersebut senang bak menemukan oase di tengah gurun pasir, ia menganggap mudah sekali rasanya hanya dengan melakukan shalat saja sudah bisa terbebas dari maksiat. Pemuda tersebut lalu mulai melakukan shalat, sehari, dua hari, sampai sebulan ia telah melakukan shalat namun ia masih melakukan kemunkaran. Ia pun bertanya \u201cada apa dengan shalatku?\u201d Kenapa shalatku tidak bisa menjadikanku pribadi yang baik? Apakah ustadz itu berbohong? Dan seterusnya.<\/p>\n<p>Seringkali kita hanya mendengar potongan suatu ayat, tidak secara utuh, bahkan terkadang ada yang mengambil potongan ayat untuk suatu kepentingan saja, baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. \u201csesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar\u201d merupakan terjemahan dari potongan ayat yang ke 45 surat Al-Ankabut yang berbunyi <em>\u201cutlu maa uuhiya ilaika minalkitaab wa aqimisshalaata, inna as-shalaata tanhaa \u2018anil fahsyaa\u2019I wal munkar, wala dzikrullahi akbaru, wallahu ya\u2019lamu maa tashna\u2019uun\u201d <\/em>yang memiliki arti kurang lebih sebagai berikut <em>\u201cbacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari al-kitab dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat akan mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan dzikir kepada Allah amatlah besar, dan Allah mengetahui apa yang kalian perbuat\u201d<\/em> (QS: Al-Ankabut 45)<\/p>\n<p>Pada ayat tersebut terdapat kata <em>utlu <\/em>yang terambil dari kata <em>talaa yatluu <\/em>yang memiliki arti membaca untuk mengikuti berbeda dengan <em>iqra\u2019 <\/em>yang terambil dari kata <em>qara\u2019a <\/em>atau <em>qarana <\/em>yang berarti membaca untuk <em>istiqra\u2019 <\/em>(penelitian). Allah tidak menyebut Al-Quran melainkan Al-Kitab yang terambil dari kata <em>kataba <\/em>yang berarti tulisan\/kewajiban karena isi dari Al-Kitab (Al-Quran) merupakan kewajiban-kewajiban. Kata <em>aqim <\/em>(dirikanlah) terambil dari kata <em>qaama, aqaama <\/em>yang berarti melakukan sampai istiqamah maksudnya adanya kontinuitas dalam melakukan suatu kegiatan, seseorang yang akan\u00a0 mendirikan gedung akan membangun gedung tersebut dari pondasi sampai dengan atapnya hingga menjadi suatu bangunan yang kokoh.<\/p>\n<p>Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa ada tiga syarat minimal agar shalat menjadikan seseorang memiliki pribadi yang ihsan yaitu ilmu, ikhlas dan istiqamah. <strong>Ilmu<\/strong> merupakan hal penting ketika seseorang melakukan amal perbuatan. Seorang insinyur pesawat haruslah memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pesawat dari mulai inisiasi sampai dengan tahap akhir, pengetahuan mengenai material, aerodinamika, konstruksi, design pesawat dan lain-lain. Begitu juga dengan ibadah, seseorang harus memiliki pengetahuan terkait ibadah yang akan ia lakukan dari syarat dan rukunnya, karena syarat merupakan sesuatu yang dengannya suatu ibadah menjadi sah, dengan kata lain ketentuan yang wajib dipenuhi sebelum melakukan ibadah misalnya suci dari hadas sebelum melakukan shalat, sedangkan rukun merupakan suatu ketentuan yang harus dipenuhi ketika melakukan ibadah, misalnya membaca fatihah ketika shalat. Syaikh Ahmad ibn Ruslan berkata: \u201c<strong><em>setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya ditolak tidak diterima<\/em><\/strong><em>\u201d. <\/em><\/p>\n<p>Selanjutnya yaitu <strong>ikhlas<\/strong>. Setiap amal yang dilakukan tanpa ilmu maka tidak akan sah dan setiap \u00a0amal yang tidak didasari dengan keikhlasan maka hanya akan bernilai nol. Syarat ketiga untuk mencapai pribadi yang ihsan adalah <strong>istiqamah<\/strong> dalam beribadah, kontinuitas dalam melakukan ibadah, sehingga ketika ketiga syarat tersebut sudah terpenuhi maka seseorang akan masuk kepada tahap <em>\u2018tanhaa \u2018anil fahsyaa\u2019I wal munkar\u2019 <\/em>yaitu tercegah dari perbuatan keji dan munkar atau dengan kata lain menjadi pribadi yang muslim. Rasulullah <em>shallallahu \u2018alaihi wasallam <\/em>bersabda:<\/p>\n<p><em>\u201cal muslimu man salimal muslimuuna min lisaanihi wa yadihi\u201d yang artinya :\u00a0Seorang muslim adalah orang yang muslim-muslim lain selamat (tentram) dari lisannya dan tangannya<\/em><\/p>\n<p>Ayat tersebut tidak berhenti sampai disitu, Allah melanjutkannya dengan <em>\u201cwala dzikrullahi akbar\u201d, <\/em>sungguh dzikir kepada Allah amatlah besar, yaitu bukan hanya lidah dan tangannya saja yang tercegah dari kemunkaran, hati dan lidahnya pun senantiasa berdzikir kepada Allah.<\/p>\n<p>Imam Abi Qasim ibn Hawazin Al-Qusyairi berkata:<\/p>\n<p><em>\u201cDzikir merupakan unsur penting dalam perjalanan menuju Al-Haqq. Bahkan, dia adalah pemimpin dalam perjalanan tersebut. Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali jika dia tekun dalam berzikir.\u201d<a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=629#_ftn1\" name=\"_ftnref1\" data-cke-saved-href=\"#_ftn1\" data-cke-saved-name=\"_ftnref1\"><strong>[1]<\/strong><\/a> <\/em><\/p>\n<p>Ketika seorang berulang-ulang menyebut nama Allah, sifat-sifat Allah, hukum-hukum Allah dan lain-lain dengan lidah dan hatinya yang dengannya ia dapat mendekatkan diri kepada Allah maka ia akan sampai kepada tahap <em>wallahu ya\u2019lamu maa tashna\u2019uun <\/em>(Allah mengetahui apa yang kamu perbuat), sehingga menjadi pribadi yang ihsan yang setiap gerak-geriknya akan merasa diawasi oleh Allah.<\/p>\n<p><em>Wallahu a\u2019lamu bis shawab<\/em><\/p>\n<p><strong>(Mochamad Bukhori Zainun)<\/strong><\/p>\n<div>\n<hr \/>\n<div id=\"ftn1\">\n<p><a title=\"\" href=\"https:\/\/kmnu.or.id\/santrikmnu\/media.php?module=konten&amp;act=editkonten&amp;id=629#_ftnref1\" name=\"_ftn1\" data-cke-saved-href=\"#_ftnref1\" data-cke-saved-name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Abu Qasim ibn Hawazin, <em>Risalatul Qusyairiyah,<\/em>hal.270<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bismillaahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillahilladzii ja\u2019ala as-shalaata mi\u2019raajal mu\u2019miniin, As-sholaatu was salaamu \u2018alaa rasuulihi al-ladzi qurratu \u2018ainihi fis shalaah wa \u2018alaa aalihi wa shahbihi ajma\u2019iin Al kisah ada seorang pemuda yang gemar melakukan maksiat. Pada suatu hari, ia ingin berhenti dari perilaku maksiatnya tersebut. Beragam upaya sudah ia coba agar dapat berhenti dari perilaku maksiatnya, namun tak membuahkan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,12,13],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1178"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1178"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1178\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1178"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1178"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmnu-old.kiarta.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1178"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}